FRIENDSHIP

26 3 0
                                        

"Ow..shitttt!" seru Rie panik sambil mengikat tali sepatunya.

Dengan kecepatan penuh Rie ngebut masuk ke dalam mobil dan segera berangkat ke sekolah. "Yang cepat ya Pak." perintah Rie sama supirnya. Supir Rie lumayan tua, jadi biarpun sedang terburu-buru tetap harus sopan nadanya kalo bicara sama orang yang lebih tua.

(Aduh..napa sekarang baru bilang ada rapat OSIS, udah tau gue biasanya bangun jam 6 pas, ada hal penting apa sih sampai harus rapat mendadak sepagi nih.) 

Rie mengomel terus di sepanjang jalan menuju sekolah, dikeluarkannya sisir kecil motif hellokitty dari ransel hitamnya. Rambut panjangnya yang lembut disisir pelan dan dibiarkan terurai.

Sesampai di sekolah, Rie melesat turun dari mobil langsung lari masuk pintu gerbang sekolah. (Lah..kok sepi banget nggak ada tanda-tanda udah ada yang datang.) pikir Rie. Dengan perasaan aneh yang menggerogoti hatinya, ia berjalan menelusuri lorong kelas menuju ruang rapat OSIS yang ada di ujung lorong.

Tangan mungil Rie menarik ganggang pintu, "Kok terkunci? Apa mereka semua belum datang ya?" gumam Rie sambil mencari kunci di dalam ranselnya. Dibukanya pintu dan ,

"SURPRISE!!" teriak anak-anak serentak.

Rie hanya bisa ternganga saking kagetnya mendengar teriakan temannya dan melihat kue ulang tahun blackforest yang terpampang di telapak tangan Eliza, juga balon-balon dan pita yang digantung di setiap sela ruangan rapat. "Happy Birthday, Rie!" seru anak-anak serentak. Rie nggak nyangka banget kalo temen-temennya bakal ngerayain hari ulang tahunnya, bahkan ia sendiri pun lupa kalo hari ini hari ulang tahunnya.

"Kita semua serentak nyanyi ya!" ajak Dave.

Happy birthday to you..

Happy birthday to you..

Happy birthday.. happy birthday..

Happy birthday to Rie... wuihhhhh......(sorak mereka bersamaan)

"Selamat ya Rie, kado gue jangan lupa ya." goda Dave sambil salaman dengan Rie.

"Hus! Yang ulang tahun sekarang loe atau Rie." protes Eliza. Dave hanya tertawa.

"Gila bener loe pada. Nggak nyangka banget gue. Gue kira ada apa sampai kalian galau gitu suruh gue cepat datang. Rupanya...." ujar Rie dengan mata yang berkaca-kaca karna saking gembiranya dan terharu.

"Hahaha..kita-kita memang sengaja biar loe cepat datang dan kaget." sela Louis sambil pinjamkan saputangannya.

Rie terlalu senang sampai nggak tau mesti ngomong apa, "Makasih banget ya temen-temen. Ini bener-bener hari ulang tahun yang berkesan banget buat gue. Gue aja nggak kepikiran hari ulang tahun gue." ucap Rie sambil menghapus airmatanya yang hampir jatuh.

"Udah-udah.. nggak usah nangis lagi. Kayak anak kecil saja loe nih. Udah gede bah..masih aja nangis." olok Eliza sambil menaruh kue di atas meja lalu menepuk bahu Rie dan memeluknya dari samping.

"Enak aja bilang gue anak kecil." rajuk Rie monyongkan bibirnya.

Rie jadi teringat sesuatu yang kurang, kepalanya pun celingak celinguk mencari tau apa yang kurang. "Napa loe? Celingak celinguk gitu kayak induk ayam yang kehilangan anak aja." tanya Dave.

"Si Milla mana? Kok nggak keliatan daritadi?"

"Masih molor dia tuh, biarin aja. Kalo suruh dia bangun sepagi ini paling susah." ujar Louis sewot.

"Lah, loe nih kan cowoknya. Langsung aja ke rumahnya bangunin." sela Rie sambil mengambil pisau yang diberikan Eliza.

"Ihh..Ogah. Bokapnya tuh galak banget tau. Loe mau gue dikejar senapan bokapnya? Please deh ah. No way ya..kepala loe kebentur ya Ri?" bantah Louis.

Naughty YouWhere stories live. Discover now