Beat 1 : Biarkan Bulan Berlalu

107 6 0
                                        

"Mica, sedang apa? Ayo ke sini!" Lantang suara Nina membuyarkan dunia mimpi seorang gadis yang tertidur dalam kamarnya yang sempit.

"Yaa...nanti aku ke sana, Nina!" Teriak Mica, nama gadis itu, entah sadar atau tidak, akibat berat kantuk di matanya. Kembali mempererat bantal lembut nan hangat dalam pelukannya.

Lima menit kemudian, terasa seseorang menarik selimutnya.

"Bangun, Gadis Pemalas! Ada tamu. Cepat seka matamu, basuh wajahmu! Dia sudah lama menunggu."

"Ah, aku baru tidur dua jam, Nina.... Siapa, sih? Penting amat!"

Nina mendengus kesal.

"Biarkan dia tidur, Nina. Aku bisa kembali nanti."

Tunggu.

Suara berat itu.

Sungguhkah...dia datang?

Sepasang mata yang tadinya terkatup rapat seketika terbuka. Dibantingnya bantal yang kini merana, teronggok di lantai jika bukan Nina yang memungut dan menatanya di atas kasur dengan penuh kasih. Gadis itu sudah melompat keluar kamar mengejar pria pemilik suara tadi.

 Gadis itu sudah melompat keluar kamar mengejar pria pemilik suara tadi

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Punggung yang tersusun dari tulang yang kokoh dan jaringan otot yang kuat itu masih sangat dikenalnya setelah tiga tahun sejak peristiwa malam itu

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

Punggung yang tersusun dari tulang yang kokoh dan jaringan otot yang kuat itu masih sangat dikenalnya setelah tiga tahun sejak peristiwa malam itu. Kini dia kembali, tepat di depan matanya!

"Al Hadiid! Tunggu!"

Kedua kaki rampingnya menuruni tangga penuh tergesa. Namun langkah lebar Al Hadiid membuatnya kerepotan mengejarnya. Dan sebelum lelaki itu membuka pintu hummer-nya, Mica berhasil berdiri tepat di sampingnya seraya kehabisan nafas.

"K-kau mau kemana? Hufft...aku ikut!"

"Memangnya aku mengajakmu? Sana, tidur lagi! Buat pulau di bantalmu." Kata Al Hadiid pura-pura marah.

"Ah, aku tak peduli. Tunggu di sini, aku mau mandi."

Baru saja gadis itu hendak beranjak, tangan Al Hadiid telah menahan lengannya. "Masuk saja. Kau bisa mandi dan dandan di jalan."

"Hah?! Apa kau gila?" Serunya membantah, tapi tatapan tajam Al Hadiid yang justru mempesona itu langsung meluluhkan pemberontakannya. "Ya, baiklah."

Seperti biasa, pria garang namun romantis seperti Al Hadiid selalu penuh kejutan. Bayangan mandi air sungai lenyap dari pikirannya tatkala hummer membawa mereka masuk ke area parkir sebuah salon kecantikan dan spa. Al Hadiid berjalan memutar lalu membukakan pintu, membantu gadis itu turun dan menggandeng tangannya. Di depan resepsionis, dia meminta layanan lengkap untuk Mica.

"Titip dia di sini. Nanti saya kembali. Tolong, dia sudah lama tidak dirawat. Pastikan bersih dan steril."

"Apa?" Mata Mica membulat. "Memangnya aku kucing? Penuh bakteri? Aku hanya belum mandi!"

Teriakan kesalnya tentu saja mengundang tawa beberapa pegawai dan pengunjung yang lewat. Pipinya memerah karena malu.

"Hei, kau mau kemana?"

"Nikmati spa-mu. Dua jam lagi aku kembali."

Tanpa meminta persetujuan Mica, Al Hadiid langsung beranjak pergi meninggalkan dia sendiri, menatapnya berkaca-kaca seperti anak kucing baru ditinggal induknya.

"Mari, Nona." Ajak seorang pegawai wanita memintanya masuk ke ruang spa untuk memulai prosesnya. Sementara dua resepsionis cantik ber- make-up tebal bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang pria tampan nan kaya tertarik pada gadis biasa yang jauh dari kesan berkelas.
Bahkan mereka berpikir ekstrim bisa jadi gadis muda itu simpanannya atau...sang pria sudah bosan tipe wanita berkelas sehingga lebih memilih gadis dari penampungan tuna wisma. Apapun itu, mereka boleh berpikir sesukanya, namun tugas yang diberikan Al Hadiid pada salon kecantikan dan spa itu dijawab penuh profesionalisme. Dua jam kemudian, sesuai janjinya, Al Hadiid kembali. Di tangannya telah siap tiga stel baju butik yang menurutnya cocok untuk Mica.

"Ganti bajumu." Katanya.

"Yang ini?"

"Terserah."

Tangan gadis itu meraih celana flare denim biru dan atasan jaket soft jeans. Tak lama ia keluar dari ruang ganti dan mereka siap berangkat.

Senyum Al Hadiid terkembang, menyambut gadisnya dan langsung menggenggam tangannya, menggandengnya keluar salon

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.


Senyum Al Hadiid terkembang, menyambut gadisnya dan langsung menggenggam tangannya, menggandengnya keluar salon. Menyisakan jejak cemburu pada dua resepsionis yang mengatakan Mica sangat beruntung setelah keduanya pergi.

"Boleh aku tanya?" Mulai Mica setelah lama Al Hadiid mendiamkannya dalam mobil yang melaju.

"Ya?"

"Mengapa baru sekarang kau datang?"

Al Hadiid tersenyum. "Kau milik Dante. Aku tidak bisa sembarangan menemuimu."

"A-apa maksudmu? Kau...! Bahkan dia tidak pernah peduli padaku. Apalagi Putri Eyn Mayra memiliki putra darinya. Aku...mana mungkin aku memimpikan dia. Kurasa...sudah saatnya aku benar-benar melupakannya. Parahnya, kau mengingatkan aku padanya." Tangan Mica menepuk lengan pria di sampingnya yang sibuk menyetir.

"Hatimu masih ada padanya. Walau kau berusaha menepisnya tetap saja itu adalah kenyataan yang harus kau terima."

"Karena itu kau butuh tiga tahun untuk menemuiku? Untuk apa?"

"Ya. Banyak yang kupikirkan. Maka sekarang aku butuh kejelasan. Harus ada bukti bahwa di matamu Carlo Dante sudah tidak berarti."

Ya, Tuhan.... Ada apa dengan pria ini? Mengapa penting sekali baginya membicarakan Dante lagi?

Diam. Adalah yang terbaik saat ini. Dan Mica hanya bisa menunggu. Bagi Mica, dirinya adalah si pungguk, yang seumur hidupnya merindukan bulan yang mustahil dicapainya. Jadi biarlah bulan itu berlalu. Baru saja dia sudah sangat yakin dengan keputusannya ketika tiba-tiba Al Hadiid berkata, "Kita berangkat ke istana Eyn. Kebetulan, ada Dante di sana."

***

Mica (COMPLETED!)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora