YOUR CALL

126 10 0
                                        

Pria itu termenung. Memangku kepala di atas kedua tangannya yang terlipat dan ditopang oleh kemudi sebuah mobil. Kim Seokjin, namanya. Mobil yang disinggahinya itu berada tepat di pesisir pantai. Di bawah lembayung mendung nan kelam. Keempat rodanya yang tak berotasi kini tengah menginjak pasir, diterpa asinnya air laut yang kebiruan lantaran terkena pantulan langit. Kedua netranya menatap lurus ke arah depan. Pandangannya menembus beningnya kaca mobil.

Sesungguhnya, tiada apapun yang pria bersurai kecoklatan itu pikirkan selain sebuah penyesalan.

Menyesal karena selalu abai terhadap seseorang yang seharusnya ia sayangi dan ia jaga baik-baik. Menyesal karena tidak pernah mau untuk mengakui orang itu kemudian. Menyesal karena hatinya sulit untuk percaya lagi setelah merasa dikhianati. Menyesal selalu datang terlambat. Tak lagi memunyai arti di dalamnya.

Kini, ia hanya bisa menghitung waktu. Menghitung berapa banyak waktu yang telah ia habiskan bersama manusia satu itu, sang adik. Yang mungkin bisa direalisasikan dalam hitungan jari. Pun semua bayangan itu tak lagi berguna. Hanya bisa menjadi hantu yang senantiasa mengelilingi kepalanya, merasuki benaknya, membuat perih batinnya.

Adiknya, tak akan pernah bisa ia temui lagi. Dimanapun, kecuali kala dirinya bisa menyusulnya suatu saat nanti.

Apa yang bisa Seokjin lakukan? Berteriak sudah, menangis sudah, marah pun sudah. Haruskah ia membalaskan apa yang telah si terdakwa lakukan pada adiknya? Toh, hal itu takkan membuat adiknya kembali bernapas. Walaupun menghirup oksigen tak memerlukan biaya, takkan pula membuat penyesalan menghilang. Takkan membuat hubungannya dengan keluarganya kian membaik seperti yang mungkin pernah Seokjin harapkan.

Atau, haruskah ia menyusul adiknya sekarang juga?

Drrrtt! Drrrtt!

Suara getaran ponsel Seokjin membuyarkan segala aktivitas lamunannya. Kedua bola putih bermanik coklat pekat itu bergulir, mencari keberadaan benda persegi panjang yang seingatnya sudah ia matikan setibanya ia di pantai. Ia butuh ketenangan. Hanya itu.

Dan ketika jemarinya berhasil meraib si ponsel yang masih berdering, dahinya mengerut, wajahnya mengernyit, heran. Nomor tak dikenal sekarang sedang menelponya. Kendati begitu, ibu jari Seokjin tetap bergerak. Lantas menggeser lingkaran berwarna hijau, dan menempelkan telepon genggamnya tepat pada daun telinga sebelah kanan.

Yeobose-”

“-Hyung, tolong aku, kumohon.” Suara Kim Taehyung memotong frasanya yang belum selesai.

BTS SERIESWhere stories live. Discover now