Jelang tidak suka tatapan itu. Tatapan penuh harap dari seorang wanita. Dia memang menerima Sashi menjadi kekasihnya. Hanya sebatas itu, tanpa mengubah penolakan besar dalam dirinya untuk berbalik mencintai Sashi. Dan, wanita keras kepala itu selalu memperlihatkan rasa senangnya tiap kali mereka bertemu. Seperti hari ini.
Wanita itu berhasil memaksanya untuk menghabiskan malam minggu di Popolapapa. Jelang tidak menyukai tempat ini. Bisa dibilang restoran ini ditujukan untuk kalangan menengah atas, seharusnya memiliki suasana yang lebih tenang. Tapi, sekumpulan remaja di samping meja mereka yang sedang tertawa keras cukup mengganggu Jelang.
"Lang," panggil Sashi yang memberikan satu slice piza ke piring Jelang. "Aku sering ngerasa iri lihat couple di drama Korea, lho. Bisa ya pacar mereka seromantis itu..."
Jelang memberi saus pada toping pizanya tanpa berniat membalas ucapan Sashi. Benar-benar tidak penting untuk ditanggapi, pikirnya.
"Tapi," Sashi tersenyum tipis memberi jeda pada ucapannya, "Aku nggak pernah berharap punya pacar yang romantis atau hayalan babu lainnya. Harapan aku ... kamu cepat luluh ya, Lang."
"Dari awal saya sudah bilang...."
Sashi menggeleng pelan, lebih erat menggenggam pisau dan garpunya. "Nggak perlu diulang-ulang. Aku udah hapal sama omongan kamu yang itu."
Jelang membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak bisa terus bersama Sashi dengan harapan besar yang dimiliki wanita itu. Hidup Jelang tidak lagi untuk mencintai dan dicintai, ia ingin menjalani hidup ini tanpa melibatkan hubungan asmara lagi. Sashi tidak pernah ingin hubungan satu arah ini berakhir dan terus bertekad meluluhkannya. Dia sendiri tidak tahu untuk apa Sashi mempertahankan hubungan yang menyakitinya.
Ah, Sashi pernah mengatakannya.
"Aku percaya kalau kita mau memperjuangkan, kita bisa mendapatkan hasil yang setimpal. Dalam urusan apapun, cinta atau karir."
•••
Jelang mendudukan diri di pinggir ranjang dan mengamati sekeliling kamarnya yang diliputi kegelapan. Dulu ini adalah kamar mereka, dia dan istrinya. Dia tidak akan lagi disambut oleh senyuman hangat istrinya, ciuman di punggung tangannya, dan segelas teh hangat. Semuanya hancur dalam satu malam yang membuat dirinya amat menyesal sebagai suami. Bahkan ia tidak sanggup menemui kedua orangtua istrinya setelah itu.
Hidup istrinya sudah berakhir dan begitu pun hidupnya.
Tangan Jelang meremas rambutnya kuat. "Mir...."
Tuhan tahu bagaimana ia berusaha mengikhlaskan apa yang sudah terjadi pada Amira. Dia puas saat polisi mampu menyusut kasusnya dan memenjarakan para bajingan itu. Tapi jika membicarakan dirinya sendiri, Jelang sadar betul ia sudah banyak berubah. Lebih menutup diri. Jelang mendapat banyak simpati karena kehilangan Amira dengan cara yang tidak akan pernah terpikirkan seorang suami.
Jelang mengangkat kedua tangannya dan memejamkan mata. "Doa ini buat kamu, Amira. Kamu tidak akan kehilangan sedikit pun perhatian aku."
•••
"Assalamualaikum, Bu." Jelang menyalami tangan ibunya yang tidak berhenti tersenyum melihat putranya datang. "Sehat kan?"
"Alhamdulillah, Lang. Ibu sehat." Ibu Jelang mengelus kepala putranya yang sedang menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan ibu. "Kenapa Sashi nggak kamu ajak ke sini? Ibu pengin banget ketemu dia."
YOU ARE READING
Someone You Loved
RomanceTerkadang cinta yang kita hindari, Menumbuhkan rasa sakit yang tidak ingin kita akui, Saat kehilangan menghantui, Akan terlihat seberapa besar berarti.
