Pada suatu hari. Titik, tidak ada koma, dan tidak ada penjelasan. Kalimat itu adalah kalimat yang acap kali digunakan dalam sebuah permulaan dongeng. Tapi, ini bukan dongeng. Mana ada dongeng yang berisikan cerita sang tokoh utama yang kehilangan pamor, mengalami pembulian, dijauhi teman, lulus dari sekolah menengah atas dengan kenangan akhir yang buruk, sampai saat ini tak mempunyai orang yang dicinta (kecuali keluarganya), dan yang lebih parah adalah dirinya yang menerima sebuah undangan mengerikan dari musuhnya dengan tulisan 'Wedding' yang font-nya sengaja dibesarkan oleh sang pembuat undangan? Di saat sang tokoh utama dalam dongeng menjadi ratu dan dengan jari telunjuk saja bisa membeli ini-itu, aku-yang berada di dunia nyata-malah menjadi sosok yang tertindas dan harus memikirkan biaya untuk membeli ini-itu.
Sebut saja merayu manajer kafe agar diberikan diskon 75% untuk satu cup coffee saja.
Menyedihkan? Bukan! Itu yang namanya irit. Uang bukanlah daun yang mudah dipetik. Bahkan akhir-akhir ini ,daun mulai jarang ditemukan di perkotaan karena tingginya angka pembangunan perumahan dan apartemen.
Sebut saja orang-yang-memberikan-undangan-mengerikan itu sebagai seorang penyihir yang kejelekannya tertutupi oleh pisau bedah dokter. Aku yakin, penyihir itu cantik karena melakukan operasi plastik dan suntik botox di mana-mana. Selain itu, hatinya tidak ada kata cantik di dalamnya. Hitam, busuk, dan segala kata-kata negatif lainnya yang pantas diberikan untuk hati nurani penyihir itu.
Penyihir itu yang merebut popularitasku, membuat semua orang mem-bully-ku, membuatku dijauhi teman, membuatku tidak memiliki kenangan baik di akhir perpisahan. Jahat? Kejam? Tunggu! Aku belum menyebutkan beberapa kata terakhir untuk melengkapi daftar kejatahan dirinya. Dan kata-kata terakhir ini yang akan membuat kalian berpikir dua kali apakah aku orang baik.
Penyihir itu yang membuatku menyandang status sebagai seorang pembunuh.
Apakah kalian berpikir aku adalah orang yang kejam, jahat, dingin, pelit senyum, dan memiliki tatapan sinis?
Tidak. Dari serentetan kata sifat itu, tidak ada yang menyangkut dan melekat di diriku waktu itu: waktu sebelum aku dituduh sebagai seorang pembunuh. Aku begitu baik, ramah, dan rasanya semua teman-temanku akan bersedia memanggilku HumbleJo karena kebajikan yang kulakukan di sana-sini-aku bukan bermaksud sombong atau sejenisnya.
Aku begitu murah senyum, sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana caranya untuk melengkungkan bibir ke bawah, bersedih, atau mengulas senyum masam. Aku adalah 'si jenius' yang mejadi primadona di sekolah menengahnya. Aku adalah central character di setiap cerita. Namaku tersebut hampir di penjuru sekolah, diagung-agungkan seolah-olah aku adalah Sang Kuasa, padahal aku tidak pernah berpikiran seperti itu.
Tapi itu semua mulai berubah ketika penyihir itu mendekatiku.
Waktu itu, aku berteman baik dengannya. Saking baiknya, aku rela dan tulus disuruh dan menjadi pembantu dadakan penyihir itu. Aku rela membawa tas sekolahnya, mengerjakan pekerjaan rumahnya, memberikannya contekan, dan merelakan penggemar priaku ikut menyukainya. Itu tak masalah karena hal-hal yang kusebutkan tak pernah mempengaruhi nilaiku. Aku masih menjadi 'si jenius' di sekolah.
Hingga pada suatu hari, dia memanggilku melalui selulernya untuk naik ke atap sekolah. Dia berbicara dengan suara serak diselingi oleh isakan tangis (palsunya.) Panikku bukan kepalang. Pendengaranku yang menangkap suara seraknya membelai namaku membuatku panas dingin. Aku menjawab panggilannya dengan seruan-seruan panik. Lebih panik ketika aku mendengar bahwa dirinya sedang berada di atap sekolah. Sebagai seorang manusia biasa yang sedang dilanda kepanikan, pikiranku langsung melayang ke mana-mana. Di atap dalam keadaan sedih dan putus asa. Siapa pun yang melihat orang seperti itu pasti akan mengira bahwa ia akan bunuh diri.
Selanjutnya, aku melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang panik. Yang jiwanya terketuk untuk menyelamatkan atau menenangkan seseorang. Yang pikirannya sedang berkecambuk dan melayang ke topik tak jauh-jauh dari dua kata: bunuh diri.
Tapi, serangkaian kepanikanku itu tak membuatku tenang atau merasa lega. Justru aku merasa bingung karena begitu aku membuka pintu, aku mendapati penyihir itu dalam keadaan baik-baik saja. Matanya memang bengkak karena air mata yang jatuh dari kedua biliknya, tetapi penampilannya baik-baik saja. Tidak ada gambaran frustasi, putus asa, atau sedih dalam penampilannya.
Tubuhnya terbalut seragam sekolah dengan rapi. Rok pendek serta rambut dwiwarna hitam dan merahnya berkibar akibat kencangnya angin yang berhembus. Ia membalikkan badannya beberapa sekon setelah aku membuka pintu. Menatapku dengan iris coklatnya yang ditumpuk oleh lensa berwarna biru, menghasilkan warna aneh pada matanya.
Aku membeku. Udara dingin ini seakan-akan dapat membuat tubuhku beku seketika tatkala aku menangkap aksinya yang melarikan tangannya ke matanya, menghapus air mata yang keluar dari biliknya sembari memandangiku sengit. Ini berbanding terbalik dengan tingkah orang yang sedang putus asa dan memutuskan untuk bunuh diri.
Dia; penyihir itu mengucapkan serentetan kalimat dan kami berdebat karena ucapannya itu. Di ujung perdebatan kami, ia mengulas senyum sinis. Tangan kanannya ia larikan ke arah seragam putih lusuh yang ia kenakan. Membuat robekan yang cukup panjang di sana-sini. Aku membulatkan kedua netraku ketika aku menyaksikan aksi selanjutnya yang melarikan kedua tangannya ke arah rambut coklat gelapnya yang panjang. Mengacak-acaknya seperti orang gila dengan tatapannya yang tak lepas dariku.
Ia berjalan ke pinggir, bersiap-siap meloncat sedangkan aku masih mematung di tempatku berdiri. Si penyihir itu berteriak, meluncurkan kalimat-kalimat dusta yang terdengar menyedihkan di telinga orang. Tiba-tiba saja semua penghuni sekolah sudah berkumpul di bawah. Meneriaki si penyihir agar tidak melayangkan tubuhnya ke bawah.
Seseorang mendorongku ke arah samping dengan kasar. Membuatku jatuh dan kembali membelalakan mataku ketika mendapati sahabat kecilku sedang memandangiku dengan pandangan tidak percaya sekaligus kecewa. Ia meneriakiku untuk pertama kalinya. Ia meneriakiku dengan teriakan-teriakan yang tak kalah dustanya dari penyihir itu.
Lalu, beberapa teman serta penggemar priaku mengerubungiku, penyihir itu, serta sahabat tersayangku. Mereka memandangiku dengan tatapan tak percaya. Beberapa dari mereka memandangku rendah serta dengan tatapan cemooh.
"Aku tak menyangka Hee-Jo berani menyakiti sahabatnya sendiri!"
Dia bukan sahabatku, bodoh!
Aku ingin sekali berteriak seperti itu, tetapi tak ada suara yang keluar. Pita suaraku tak bergetar.
"Ternyata hatinya tak secantik parasnya!"
"Dia penghasut! Dia seorang pembunuh!"
"Aku tak sudi untuk berteman dengannya."
"Aku tak sudi tuk menjadi penggemarnya lagi."
Cahayaku hilang. Aku tak menyilaukan lagi, aku tak mendapatkan pujian lagi. Hanya hinaan yang menghiasi hari-hariku.
Dan dari situlah, aku resmi menjadi seorang pembunuh.
Bahkan sahabat kecilku mengakui itu.
YOU ARE READING
the wedding game ; ckh [PRIVATED🔐]
FanfictionPernikahan yang seperti sebuah permainan. Aku telah membuatnya membatalkan pernikahannya. Apakah ini balasan yang harus kudapatkan atas perbuatanku itu? cho kyuhyun.cha heejo Baca dan rasakan permainan alur yang tidak terduga. #831 in Fanfiction #...
![the wedding game ; ckh [PRIVATED🔐]](https://img.wattpad.com/cover/137507572-64-k68251.jpg)