Star

29 2 0
                                        

Malam itu seorang gadis berambut hitam pekat sedang berjalan melewati jalanan kompleks rumahnya yang sangat sepi, ia tak merasa takut saat begitu saja melewati gang-gang luar kompleks untuk menuju ke sebuah mini market terdekat yang selalu buka 24 jam tiap harinya. Dengan tenang ia berjalan menyusuri trotoar dengan earphone yang selalu menemaninya kemanapuan ia pergi, lagu demi lagu berganti di play-sit hpnya tergantikan dengan lagu photograph milik ed sherean, suara merdu milik ed sherean terdengar sangat Indah lirik demi lirik ia nikmati, langkahnya seketika berhenti saat tepat pada bagian reff lagu tersebut, seketika langkah kakinya menjadi kelu membuat kedua kakinya sulit untuk melangkah, lututnya lemas pandangan mata gadis itu buram karna terhalang oleh selaput air mata yang ia tahan, napasnya mulai tak beraturan dan jantungnya berdegup dengan kencang.
Lagu itu mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam. Sekejap air mata yang sedaritadi ia tahan kini meluncur dengan sendirinya tanpa ada yang mencegahnya, dasar gadis cengeng batinya dalam hati. Menghela napas sejenak perlahan ia mulai menghapus air matanya yang kini telah membanjiri pipinya. Terdiam sejenak ia mendongakakan kepalanya untuk menatap langit dan melepas earphone yang ia pakai.

Tes

air mata itu kembali menetes saat ia menatap gugusan-gugusan Bintang di malam hari, seketika sepenggal kenangan masa lalunya kembali ia ingat tersadar ia pun mulai menyeka kembali air matanya.

Flashback on.

"Shofi... Shofi... Tunggu, jangan jauh-jauh nanti di cariin ayah sama bunda." teriak seorang anak laki-laki berumur 12 tahun itu, yang sedang berlari untuk mencegat adiknya untuk tidak jauh-jauh dari area bermain anak-anak yang sedang keluarga mereka kunjungi.

"Ha..ha..ha ga mau kak, shofi mau boneka itu kak!" rengeknya terhadap kakak kesayanganya, yang kini sedang mengatur napasnya yang tak beraturan akibat mengejar adiknya.

"Tidak!, ayo buruan kembali, ayah sama bunda udah nunguiin dari tadi!" tapi gadis berumur sepuluh tahun itu tidak mendengarkan ucapan si kakak, ia justru memasang wajah puppy eyesnya untuk meluluhkan kakaknya, mau tak mau sang kakak pun terpaksa menuruti kemauan adik kecil kesayanganya.

"Ya sudah ayok, mau yang man ta?." tanya sang kakak, dengan riang sang adik spontan memekik kencang dan memeluk kakaknya dengan erat menghiraukan tatapan pengunjung yang berdatangan di tama kota itu.

"Hore! Aku sayang sama kak Nich." Nich yang dipeluk hanya bisa pasrah, mendapati tingkah adiknya yang terlalu hiperbola menurutnya, sejenak ia menatap adiknya dengan lembut dan membalas pelukan Shofi sembari mengecup puncak kepala adiknya cukup lama, karna tinggi shofi hanya sebatas pundak Nich membuat ia dengan mudah mengecup puncak kepala Shofi.

"Hmm,, udah di tunggu di mobil noh! Kak." tunjuk Shofi pada Nich, tersadar ia mengikuti arah tunjuk Shofi, mereka menatap mobil sedan hitam milik orangtuanya yang sudah lama menunggu,

"sip aye captain!" tak ingin membuat orangtua mereka menunggu lebih lama lagi, mereka pun akhirnya berjalan ke sebrang Taman untuk membeli boneka yang Shofi inginkan.

"Mana shof, yang kamu suka?, kamu pilih-pilih dulu yang mana yang mau dibeli, kakak mau ke toko sebelah." tunjuk Nich kearah toko yang ia tuju, sedangkan Shofi hanya mengangguk paham.


"Kakak ga akan lama... Jadi...jangan kemana-mana!." Ancam Nich sebelum ia meninggalkan adiknya sendiri, lagi-lagi Shofi hanya mengangguk dan tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang bersih dan kinclong itu. Nich mengacak rambut Shofi dengan gemas dan berlalu meninggalkan adiknya sendiri.

RegretWhere stories live. Discover now