'Tempat ini.'
'Rasanya aku belum pernah kesini.'
'Ini dimana?'
Vanessa membuka mata nya dan mendapati diri nya tengah berada di sebuah kota yang sangat sepi. Gadis itu mencoba untuk berjalan menelusuri kota itu, berharap ada seseorang yang dapat ia temukan.
"Hello! Ada orang disini?"
Suara Vanessa memantul hingga menggema di seluruh penjuru kota. Vanessa mengernyit. Kota ini indah, namun mengapa tidak ada satu pun orang yang dapat ia temui?
Vanessa memilih untuk berjalan. Perut nya terasa lapar, ia ingat bahwa ia belum sempat makan tadi malam. Gadis berambut kecoklatan itu menyusuri jalanan yang kosong. Menatap sederet toko yang tidak ada satu pun menunjukan kalau toko itu buka. Semua toko yang berada di sini selalu saja tertera kalimat 'close'di pintu nya.
Gadis itu menghela nafas, lalu kembali berjalan hingga akhir nya ia menemukan sebuah toko roti yang terbuka. Hey! Ia baru menyadari, bahwa hanya toko ini saja yang tertera kalimat 'open' di pintu nya.
Vanessa membuka pintu secara perlahan. Sepi. Itulah yang menyambut kedatangan Vanessa pertama kali.
"Hello??"
Hening.
"Hai, kau siapa?"
Vanessa berjengkit kaget saat sebuah tangan menepuk pundak nya. Hampir saja ia menyumpah serapahi orang itu namun Vanessa urungkan saat ia benar benar melihat siapa yang menepuk nya.
Tampan.
"Nona?" Laki laki itu melambaikan tangan nya di depan wajah Vanessa. Membuat Vanessa tersadar dan mengerjap.
"A-ah, kau siapa?" Tanya Vanessa.
"Aku kira hanya ada aku saja di kota ini. Ternyata ada orang lain selain aku. Kemarilah, aku sedang membuat roti. Kau lapar?" Tawar laki laki itu. Vanessa hanya mengangguk dan mengikuti langkah laki laki di depan nya.
Ternyata benar. Saat berada di dapur, Vanessa dapat melihat berbagai adonan serta selai dan buah buah an yang tertata di meja. Satu pertanyaan yang melintas di benak Vanessa. Laki laki ini bisa memasak?
"Cobalah ini. Cukup tidak manis nya?" Vanessa segera menghindar saat laki laki itu hendak menyuapi nya sebuah roti.
"Aku tidak memakan roti, bisa bisa aku gendut." Ucap Vanessa.
Laki laki itu terkekeh, namun tetap menjejalkan roti itu ke mulut Vanessa. Membuat Vanessa terbelalak dan akhir nya mengunyah roti itu juga.
"Enak." Puji Vanessa.
"Jadi, namamu siapa?" Tanya laki laki itu.
"Namaku Vanessa." Laki laki itu mengangguk lalu mencomot sebuah roti dan memakan nya.
"Hey! Ini terlalu manis." Ucap nya. Vanessa menggeleng. Tidak, ini tidak terlalu manis. Roti ini benar benar enak.
"Ini terlalu manis nona, apakah kau tidak merasakan nya?" Geram laki laki itu lalu mengambil dengan paksa roti yang ada di genggaman Vanessa. Membuat Vanessa merengut karena perut nya masih terasa lapar.
"Baiklah, namamu siapa?" Tanya Vanessa.
"Namaku-"
"VANESSA!!!!"
Vanessa mengerjap dan mendapati Nala, sahabat nya, tengah berkacak pinggang sambil terus terus an menarik selimut yang ia kenakan.
"Aku masih ingin tidur Nala, keluarlah." Ucap Vanessa masih dengan nada khas bangun tidur. Nala kembali berdecak.
"Kau ini Van! Bangun tidak? Kau kan berjanji akan menemaniku bertemu seseorang. Ayolah."
Nala kembali menarik narik selimut yang Vanessa kenakan. Namun seperti nya, itu tidak mempan. Bukti nya, sekarang Vanessa masih anteng anteng saja tidur di kasur.
"Vanessa, kalau kamu enggak cepet bangun juga, aku siram pake air ya." Ancam Nala.
Satu.
Dua.
Tiga.
Vanessa membulat kan matanya. Lalu terbangun dan langsung melototi Nala. Membuat Nala gelagapan karena pergerakan Vanessa yang tidak ia kira.
"Nala! Kenapa kamu membangunkan ku? Argh." Geram Vanessa.
"Memang nya kenapa? Ayolah Vanessa. Kemarin kamu berjanji untuk menemani ku bertemu seseorang." Rengek Nala.
"Aku tadi bermimpi Nala, aku bermimpi bertemu dengan lelaki tampan. Namun saat aku akan mengetahui nama nya, kau malah membangunkan ku." Sungut Vanessa.
Nala mengaduh saat Vanessa melemparkan sebuah bantal tepat ke arah muka nya. Sahabat nya itu kini sedang menatap nya garang.
"Sudahlah Vanessa. Cepat. Kita hampir terlambat." Ucap Nala. Vanessa mendengus lalu menyambar handuk nya dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu mandi, aku yang menyiapkan baju ya. " Teriak Nala. Namun tidak di gubris oleh Vanessa.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Vanessa merenung. Siapa laki laki itu? Sangat tampan. Kalau bukan karena Nala yang membangunkan nya, ia pasti sudah mengetahui nama laki laki itu. Menyebalkan.
Disisi lain, Nala sedang bingung menyiapkan baju untuk Vanessa. Sahabat nya itu memiliki banyak sekali baju, dan itu membuat nya bingung .
"Ini, tidak cocok."
"Kalau ini, tidak cocok juga."
"Yang ini... Juga tidak cocok. Ya Tuhan aku menyerah." Keluh Nala.
Gadis berambut pendek itu membalikkan badan nya lalu membelalak kaget saat melihat kamar Vanessa yang sudah berantakan karena baju yang berada di mana mana, dan itu ulah diri nya.
"Alamat aku akan terkena semprot." Gumam Nala.
Srekkk..
Bertepatan dengan itu, Vanessa baru selesai mandi. Gadis berambut kecoklatan itu hampir saja mennyjmoah serapahi Nala saat melihat kamar nya yang kini sudah terlihat seperti kapal pecah.
"Nala! Kau ini sedang apa." Tanya Vanessa. Nala hanya menyengir menatap Vanessa.
"Aku mencarikan baju untuk mu, tapi aku bingung. Baju mu sangatlah banyak dan itu yang membuatku semakin bingung." Keluh Nala.
Vanessa mengela nafas nya lalu berjalan ke arah Nala sesaat setelah mengambil sebuah keranjang baju kotor.
"Aku akan memakai ini saja." Ucap Vanessa dan mengambil sebuah baju berwarna merah maroon.
"Vanessa! Kamu ini memiliki banyak baju. Mengapa harus memakai baju bekas kemarin?!" Sengit Nala.
"Aku malas memperbanyak cucian Nala, lagipula aku hanya menemanimu sebentar. Dan baju ini baru aku pakai sebentar kemarin." Ucap Vanessa lalu segera menggunakan baju nya.
"Dasar jorok!" Umpat Nala.
Vanessa menyisir rambut panjang nya. Lalu memoles sedikit make up di wajah nya. Tidak terlalu menor, tidak juga terlalu tipis. Biasa biasa saja namun dapat membuat orang lain terpana melihat kecantikan nya.
Ya, Vanessa memiliki wajah cantik di atas rata rata.
"Baiklah, aku siap. Kita akan kemana?"
YOU ARE READING
Dreamer
Teen FictionSeindah apapun mimpi itu, sadarkah bahwa itu hanya sebatas mimpi?
