Di malam saat Bulan dan Bintang menggantung sempurna di petala langit, sosok itu sibuk merapalkan mantra pemikat. Mantra yang ditujukan kepada seseorang yang tidak bisa ditaklukkan dengan berperang, Eleora, pemimpin kaum laba-laba.
"Yang Mulia, hamba telah melakukan apa yang anda perintahkan."
"Bagus, awasi terus perkembangannya, buat dia semakin ingin menemuiku."
"Sesuai keinginan anda, Yang Mulia."
Terkadang ada seseorang yang tidak bisa menerima kekalahan, kemudian mencari celah untuk merubahnya menjadi sebuah kemenangan, tak peduli bagaimanapun caranya.
Mungkin begitu pula yang terjadi dengan Raja Albatros, pemimpin Negeri Kyra. Sebenarnya Negeri Kyra adalah Negeri yang kuat, negeri ini mendapat kekuatan dari batu permata hitam yang begitu kuatnya bahkan sanggup menumpahkan air Samudra Elyar.
Tetapi apa artinya jika Eleora, pemimpin negeri rivalnya itu mendapatkan berkat dari Sang Pencipta tidak bisa dilukai dengan senjata tajam apapun jenisnya. Menurut Albatros seseorang yang jatuh cinta itu seperti kehilangan logika, ia rela melakukan sesuatu demi cinta. Eleora tidak bisa hancur dengan serangan dari luar, maka dari itu dia menyerang dari dalam.
Eleora adalah sosok ratu yang hanya memikirkan kehidupan rakyatnya, ratu yang adil hingga kaumnya menjulukinya sebagai Dewi bagi mereka, kaum laba-laba.
Permusuhan antara Negeri Kyra dan Rhyfez seolah telah mendarah daging, Albatros masih ingat jelas saat seorang Raja dari Negeri Rhyfez pernah menyerang Kyra dan membunuh keluarganya. Beruntungnya terjadi Gempa di kawasan Kyra Selatan, yang menyebabkan mereka segera kembali ke negerinya.
Setiap mendengar kejayaan Negeri Rhyfez hatinya seperti tersayat, darah leluhur yang ada dalam dirinya terasa mendidih seakan meminta keadilan pada keturunan yang masih tersisa.
Eleora yang semula mengasihi rakyatnya, kini menjadi lebih sering memikirkan dirinya sendiri, benar-benar berubah.
"Yang Mulia Ratu, ada seorang rakyat yang ingin bertemu denganmu."
"Katakan aku sedang sibuk," jawab Eleora.
"Tetapi, Ratu—"
"Bisakah kalian tidak menggangguku, bisakah kalian mengurus diri kalian sendiri, kalian selalu saja memberiku masalah!"
"Baiklah Yang Mulia."
"Tunggu, panggilkan pelukis untuk datang ke ruanganku."
Pelayan itu hanya mengangguk tanpa berani menanyakan alasan Eleora melakukannya. Beberapa saat kemudian pelukis itu datang ke ruangannya, ia bangkit dari duduknya.
"Bagus, kau segera datang. Bisakah kau melukis seseorang yang aku lihat dalam mimpiku?"
"Tentu Yang Mulia, anda hanya tinggal menyebut ciri-cirinya saja."
Eleora mulai mendeskripsikan sosok yang akhir-akhir ini selalu hadir dalam mimpinya, kemudian pelukis itu menggambar sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Eleora.
Tiga puluh menit kemudian lukisan itu menampilkan sosok lelaki berjubah yang sedang berdiri di atas batu besar di tepi air terjun.
"Bagus, ini sama seperti sosok dalam mimpiku. Ambil ini bayaranmu," ujarnya seraya melempar kantong yang berisi kepingan emas.
"Terima kasih, Ratu."
Setelah pelukis itu pergi dari ruangannya, Eleora memerintah pelayan untuk memanggil Perdana Menteri ke ruangannya.
"Yang Mulia, anda memanggil hamba?"
"Ya, coba lihat lukisan ini ... apa kau pernah melihatnya?"
CZYTASZ
The Miracle Of Dreamcatcher
FantasyAku Lucifera Majesty, gadis biasa yang tidak istimewa bahkan bisa dikatakan gadis tersial yang pernah ada. Takdir mengubah kehidupanku yang semula berjalan dengan normal seperti kehidupan orang-orang pada umumnya, menjadi tidak masuk akal menurutku...
