Prolog ; Fall in love when you ready, not when you lonely.

97 5 5
                                        



" Memutuskan untuk jatuh cinta, atau bahkan berhenti mencinta bukanlah suatu hal yang mudah untuk ditetapkan. Barangkali tekadmu sudah siap, namun ragamu masih menolaknya. Tapi ingat selalu, kamu memiliki hati. Hatimu adalah hal yang paling dianugerahkan untukmu. Jangan pernah memaksa apapun maunya, jangan menyalahkan apapun keadaannya, dan jangan pernah membunuhnya secara perlahan. Berikan hatimu kebebasan, kedamaian, serta kebahagiaan. Maka berhentilah hidup dalam ambisi serta kepura-puraan. So, just fall in love when you ready. Not when you lonely.

9:30 pm. Saturday. January 20. 2018 "

Coretan sederhana tersebut merupakan curahan hati perasaannya. Perasaan gadis yang bahkan tetap terlihat cantik dengan balutan busana tidurnya. Nania! Begitu dia disapa. Kulitnya yang putih langsat, rambutnya yang panjang tanpa poni, wajahnya yang manis serta tak mudah bosan untuk dipandang, juga lesung pipi yang melekat di kedua belah pipinya, menambah serta manis ketika bibirnya disunggingkan untuk tersenyum.

Ditutupkannya buku yang berisi curahan hatinya, sembari dipungkas dengan bayangan pria yang hampir setengah tahun terakhir mengisi hari-harinya, dan menjadi sebabnya bahagia. Hingga akhirnya suatu kerikil pun muncul dan mentari itu tak lagi nampak, serta kehangatannya tak lagi bisa dirasa. Bagaimana bisa, belum pun genap satu pekan hubungan mereka berakhir, bola matanya harus menyaksikan perempuan lain yang terang-terangan telah mencuri perhatian pria yang masih dicintainya itu. Rasanya baru kemarin ia menjadi perempuan yang paling diinginkan, namun dengan sekejap ia bahkan merasa amat ter-buang.

Tapi, hal itu tak menjadi sebab baginya menutup diri. Dunia pun tahu, perempuan seperti apa ia. Ia selalu bersikap lugas dan santun, juga pandai dalam mengontrol setiap emosinya. Tak mudah bertindak secara sembrono, apalagi melakukan hal memalukan yang tidak seharusnya ia lakukan. Ia masih bisa menampakan senyum manisnya dihadapan orang lain, dan masih bisa tertawa lepas menunjukan deretan giginya dengan lebar. Baginya, kesedihannya tak perlu dilihat orang, dan tak perlu diketahui orang. Hanya buku hariannya itulah yang menjadi curahan hatinya setiap saat. Curahan hatinya ketika sang mentari yang hadir menghangatinya, atau bahkan curahan hatinya ketika gemuruhlah yang tiba-tiba hadir tanpa permisi.

Ia bisa saja melakukan hal yang sama. Mencari pria lain dengan segera, lalu menggandengnya dihadapan pria yang bahkan masih dicintainya itu. Tapi, seperti yang telah ditekankan. Dunia tahu, bahwa perempuan seperti apa ia. Bagaimana mungkin ia akan melakukan hal yang bahkan terlihat lelucon baginya. Membiarkan tangannya menggenggam pria lain, sementara hatinya tidak turut serta menggenggamnya. Ia takan mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Karena ia tahu rasanya terluka, ia takan mungkin berani melukai. ketika memang perasaan dia masih tertinggal disana, dan dibawa lari oleh pria itu, ia takan mungkin menggantinya secara paksa, atau bahkan mengambilnya kembali tanpa logika. Ia hanya akan melakukan yang terbaik bagi hatinya. Yaitu membiarkan perasaannya menetap, sampai dengan batas dan arah yang entah.

Malam pun kian larut, ia takan mungkin terus membiarkan angin malam menerpa tubuhnya dan membiarkan rindu itu semakin menyelimutinya. Ditutupkannya jendela di ruangan pribadi yang dipenuhi dengan lampu warna warninya itu, dengan tatanan kamar yang terlihat rapi serta hangat untuk ditinggali. Ia memutuskan untuk melupakan semua yang menyakitkan baginya di hari itu. Serta memberikan kesempatan bagi darahnya untuk mengalir lebih lancar. Lalu ditariknya selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya, berharap esok pagi perasaannya kan lebih membaik. Serta berharap matanya takan lagi berkaca-kaca menahan air mata yang hampir jatuh ketika harus menyaksikan mereka ber-dua lagi.

Benar sekali, hanya dihadapan orang lain ia mampu terlihat kuat, karena sesungguhnya ia sama seperti perempuan lain. Sangat lemah dan membutuhkan kekuatan. Membutuhkan bahu untuk bersandar, dan membutuhkan tangan untuk menghapus air matanya. Karena saat ini ia harus menyaksikan kenyataan bahwa pria yang selalu mengisi hari-harinya itu tidak dihadirkan untuk menetap. Mungkin hadirnya bagai angin malam. Menyejukan, namun hanya sesaat. Ia pun selalu berharap bahwa kan ada pria lain yang tepat yang akan menggenggam tangannya dengan erat, dan dengan tulus mencintainya tanpa batas. Serta menemaninya dalam suka maupun duka. Selamanya.

You are HealingStories to obsess over. Discover now