September, 2027
Dia adalah seberkas cahaya diantara gelapnya malam. Dia adalah mercusuar yang menuntun kapal di pelabuhan. Jika ada yang bertanya siapa dia, dengan lantang kami akan mengatakan “Dia adalah akar kami!”, Hari ini dia telah lelah, waktunya untuk mengistirahatkan tubuh dan jiwanya. Jika bisa meminta, ku ingin dia tetap disini.
Wahai Mentari, kau adalah matahariku.
*************
1 dekade sebelumnya....
Asap rokok dengan pekat menguar di ruangan itu tak membuat pemuda berkulit coklat itu beranjak, malah dirinya termasuk dalam kelompok penambah racun udara itu. Dengan nyamannya, Reynald –pemuda itu- memetik gitar yang berada di pangkuannya. Penampilan urakannya, membuat beberapa orang di ruangan itu enggan mengusik ketenangannya.
Rey meletakan gitar itu di sampingnya. Sudah hampir seharian ini Rey menghabiskan waktunya di ruangan tersebut, berbungkus rokokpun telah tandas dihisapnya. Dean –sahabat sekaligus sepupu rey- yang sedari tadi menemaninya, telah jatuh terlelap.
Rey mulai memejamkan matanya, namun belum semenit ponsel Rey berdering disampingnya. Melihat sekilas siapa yang meneleponnya, Rey hanya mendengus melihat layar tersebut, seraya kembali memejamkan matanya.
“Rey, ini udah dering kesekian kali, kenapa gak diangkat aja sih? Mengganggu tahu, Rey!”, Dean yang terbangun menatap tajam Rey yang hanya diam.
“Sekali lagi tuh hp bunyi, gue angkat tahu rasa lo.”, Imbuh Dean yang sudah bangkit dari tidurnya.
“Angkat aja.”, Tepat saat dering teleponnya kembali berbunyi, Dean langsung merampas telepon Rey dan membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Dengan helaan napas, Rey hanya melirik sekilas saat Dean keluar ruangan. Melirik jam di tangannya yang menunjukan pukul 11 malam, Dean kembali kehadapan Rey dengan muka yang Rey tahu arahnya.
“Kita pulang.”, tanpa mengharap bantahan, Dean langsung berbalik meninggalkan Rey.
***
Rey menatap meja di depannya dengan kesal. Ini sudah dua bulan berlalu semenjak hari dimana Rey dan Dean di sidang oleh ayah mereka. Ayahnya memutuskan Rey dan Dean dipindahkan dari sekolah lamanya. Hanya karena alasan, Rey dan Dean yang hobi membuang waktu di sekolahnya yang lama.
“Udahlah, Rey. Mau gimana lagi coba. Ini udah dua bulan, lho. Dan lo gak muak tiap anak kelas natap lo aneh?”, Ini upaya putus asa Dean yang mulai malas melihat tampang mengerikan Rey.
“Lagian, yang pen-”,
“Permisi, kalian berdua anak baru itukan?”, kata-kata Dean langsung diputus oleh suara bidadari nan lembut baginya.
“Eh, iya. Kenapa,ya?”, Dean memasang tampang malaikatnya, yang membuat Rey menatapnya tajam.
“Jadi gini, eh, sebelumnya kenalin aku Mentari, dan aku anak kelas ini juga, tapi karena kemarin aku ikutan pertukaran pelajar jadi aku baru masuk hari ini.”, jelas gadis itu sambil menjabat tangan Dean.
“Kenalin juga, aku Dean. Yang diam ini namanya Rey.”, kenalkan Dean seraya menunjuk Rey dengan agak meringis. Takut, jika Mentari tiba-tiba jadi korban amukannya Rey. Mentari yang paham melihat wajah Dean hanya tersenyum maklum, tanpa bersusah payah untuk berjabat tangan dengan Rey.
“Oke, jadi begini, Dean, Rey, aku disuruh sama wali kelas buat maukin kalian ke kelompok belajar, karena kata Kepala Sekolah, nilai lama kalian kurang.”, dengan senyum manisnya Mentari menjelaskan maksudnya.
