1

40 7 3
                                        

Taehyung itu pemuda bermuka tebal, tak peduli jika akan dijadikan bahan olokan satu kampus karena telah menyatakan cinta pada salah seorang primadona, lantas ditolak mentah-mentah. Ketika gadis berinisial A itu memandang penuh tatapan jijik—seolah memberi tahu padanya bahwa ada garis tebal besar yang membedakan mereka berdua—Taehyung kemudian berbalik arah, mulai membenahi topi putih di atas kepala dan melenggang pergi diikuti sorakan menjengkelkan.

Tapi Taehyung memang Taehyung, ia tak peduli dan bahkan menahan hasrat ingin mengorek kedua kuping karena mendengar suara segerombolan lalat berebut makanan di atas keranjang sampah menghambur di mana-mana. Dasar manusia, Taehyung jadi sedikit kurang bersyukur pada Tuhan karena telah menjadi spesies yang sama.

Binatang dirawat dengan manis, manusia diperlakukan seberingas anjing. Seolah tak berguna, tak bernyawa. Ia meringis pelan, setelah beberapa detik, mainan serta pusat atensi mereka bukan lagi menunju padanya, melainkan pada seorang pemuda kutu buku yang kini tengah dilempari sampah plastik berisi air. Wah, sebegini cepatkah seseorang—yang berperilaku layak binatang mengganti konsumsi suatu hiburan?

Fakta kedua, Taehyung itu vegetarian. Ya, mungkin kadang ia memang memakan daging karena ingin, tapi pemuda berpawakan ideal itu lebih suka dipanggil si vegetarian daripada tidak sama sekali. Itu terlihat keren.

Ketiga, ia percaya pada segala suatu hal yang sudah terlihat, yang sudah terdengar. Lebih tepatnya ... yang sudah ia baca. Taehyung tahu, jika sudah begini, manusia benar-benar patut dijauhi. Sekali lagi, ia sedikit menyesal karena bangsa mereka sama.

Taehyung memang butuh teman, tapi sendiri ternyata juga tak terlalu menyedihkan. Walaupun, ya, memang menyusahkan kadang. Kim Taehyung adalah pemuda berumur duapuluh dua tahun yang aneh, bermuka tebal, si vegetarian dan penyendiri karena terbiasa akan kondisi.

Oh, ia juga sangat tidak suka gadis yang berekasi berlebihan dan aneh. Aneh, karena di saat semua orang lebih memilih untuk mengalihkan wajah dan tak menganggap ia ada, justru gadis berpakaian hijau tosca ini malah menghalangi jalannya secara tiba-tiba. Berkata dengan nada kelewat sok bersahabat sementara salah satu tangannya tengah menggenggam sebuah buku notes kecil lengkap dengan pena.

"Hei, hei, aku tahu kau bisa membaca pikiran orang lain 'kan?"







[ a/n ] : Ini sebenarnya ff short story sebagai latihan nulis juga makanya update secara random. Semoga suka, ya!

If Anyone KnowHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin