Teman

7 0 0
                                        


Pukul sepuluh malam, kafe tempat Nadine bekerja sudah tutup. Biasanya kalau bukan hari libur, tempatnya bekerja bisa tutup sampai pukul satu dinihari. Malam ini suatu kesempatan langka bisa pulang lebih awal dari biasanya.

Dengan jaket merah muda dipadu tanktop hitam dan celana jins, Nadine menyusuri jalanan kota. Hawa panas mulai terasa saat melewati kawasan tempat para wanita malam menjajakan dagangannya. Meskipun sebagian dari wanita-wanita berlipstik menor di seserang sana tetangga kos Nadine, tapi ia tidak berani menyapa mereka. Beda kalau siang hari, wanita-wanita itu lebih terlihat manusiawi dan bermartabat.

Yah disinilah Nadine, gadis 20 tahun tinggal. Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat ia harus ikhlas tinggal di kawasan kupu-kupu malam. Selain harga sewanya yang terjangkau, juga ada Arta teman sekamarnya yang rela menampung Nadine tinggal di tempatnya. Kebakaran rumah  beberapa tahun yang lalu, hingga menghanguskan seluruh keluarganya membuat gadis berkulit putih itu harus melanjutkan hidup seorang diri.

"Ta, aku pulang."

Nadine membuka pintu depan yang tidak terkunci.

Kemana Arta, kok sepi?

Nadine berjalan menuju ke dapur, berniat membasahi tenggorokannya yang kering. Belum sampai dapur ia mendengar suara desahan yang berasal dari kamar Arta. Takut ada pencuri masuk, diurungkan langkahnya kedapur, memilih menengok kedalam kamar Arta.

"Beb, uch cepat beb, ah ah ah".

Itu suara Arta. Apa yang dia lakukan dikamar, mungkinkah??

"Oh darling, aku mau keluar sayang, uh uh uh".

"Bareng beb, aku juga udah mau keluar, ah, ayo lebih cepat lagi, oh... Ah...".

"Ouh, ah".

Suara Arta dan seorang laki-laki yang berasal dari dalam kamar mendominasi telinga Nadine.

Sejujurnya Nadine tau apa yang Arta lakukan. Bahkan gadis berambut ikal itu sebelumnya juga tau pekerjaan teman sekamarnya. Sama dengan perempuan-perempuan di sekitar tempat tinggalnya.

Rata-rata para perempuan ditempat ini pekerjaannya menjual aset diri. Dari remaja sampai ibu-ibu. Miris memang. Tapi ditempat ini harga sewa kos yang paling murah, apalagi Nadine juga harus menghemat untuk biaya kuliah.

Tapi baru kali ini Arta melayani tamunya dirumah, biasanya di hotel, atau minimal motel.

"Eh, elu Nad. Udah lama balik?"

Nadine yang berdiri di depan kamar Arta terlonjak kaget. Ditambah lagi melihat dandanan teman sekamarnya, hanya sebuah handuk yang melilit di tubuhnya. Itupun tidak bisa menutupi semua dada besar miliknya.

"Enggak kok, baru aja. Nih aku bawain martabak manis. Mau?"

"Mau, ntar ya mau ngambil minum dulu buat ono."

Arta mengkode dengan sebelah matanya. Kemudian dia melanjutkan ke dapur mengambil minum.

#####

Setelah ngobrol sebentar dengan Arta dan lak-laki yang ternyata pacar barunya, Nadine langsung masuk kamar. Besok pagi ia ada ujian akuntansi bisnis. Maka gadis bekulit putih manis itu mulai membuka buku dan laptopnya. Pikirannya fokus ke pelajaran.

Ini ujian terakhir sebelum skripsi, makanya Nadine tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Tidak boleh sampai nilainya turun, bisa-bisa beasiswanya tidak turun nanti.

Sejak kebakaran yang menghanguskan harta benda dan keluarganya, Nadine menjadi pribadi yang pendiam. Padahal sebelumnya ia dikenal gadis yang ceria dan enerjik. Peristiwa itu masih membekas di dalam benaknya. Membuat trauma yang berkepanjangan. Apalagi setia melihat api entah besar apa cuma dari korek ia langsung menjerit. Kebakaran itu membuatnya fobia.

Sejak itu ia memutuskan meninggalkan tempat dimana pernah ada cinta dalam keluarga. Tidak sanggup rasanya harus melihat rumah kenangan bersama keluarganya.

Hingga disinilah Nadine sekarang. Berkat Arta, teman SMP nya yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya. Ia tinggal berdua dirumah kos berukusan 5X8 meter.

#####

Ruang tamu yang dilengkapi TV berukuran 21 inci, terlihat Arta dan lelaki yang tadi main dikamar. Kepala sang laki-laki berada di paha Arta yang duduk di sofa. Sesekali tangan jahilnya meremas bukit kembar yang hanya terhalang kaos tipis tanpa dalaman, membuat tonjolan kecil diujung menantang seolah minta dikecup.

Arta hanya diam tidak merespon, hanya sesekali melenguh keenakan ketika puncaknya berada didalam mulut sang lelaki yang bernama Jordy.
"Yang," Jordy bangkit dari paha gadisnya, "temen lu yang tadi boleh juga."

"Maksud lu, Nadine?"

"Iya, kapan-kapan kita thresome yuk. Kayak waktu itu."

"Gila lu beb. Nadine bukan cewek kayak gue. Dia cewek bener-bener tauk."

"Ah masa, tinggal dilingkungan kayak gini masih baik, gak yakin gue."

Jordy tersenyum mengejek. Dalam hatinya menyangkal juga menerima perkataan Arta. Wajah polos gadis serumah pacarnya tergiang. Tiba-tiba dia dapat ide gila. Tatapan mesum dan otak kotornya bekerja.

"Beneran beb. Kenal laki-laki aja gak pernah dia. Awas aja kalau lu ngrusak dia, gue bikin senjata lu buntung ntar. Mau!"

Arta mengancam laki-laki yang tengah berimajinasi dengan otak kotornya. Senyum yang tadi merekah perlahan redup.

"Ya jangan yang. Ntar gak bisa muasin kamu lagi."

Sebelah tangannya merengkuh pinggang Arta, bibirnya mengulum lembut bibir gadis didepannya. Membangkitkan sesuatu di dalam.

****

Memurut kalian sebagai pembuka bagaimana kesannya? .

Boleh lhoh kasih masukan, kritik, saran buat author.

Ditunggu ya teman-teman kritik sarannya. Thanks you dear

Ais
ArlenLangit

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 05, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Love After SunsetWhere stories live. Discover now