Tut...
Terdengar nada sambung dari benda canggih yang digenggam oleh hinata yang kini diletakkannya ditelinganya.
Tut....
"Aduh.. ayolah sakura-chan, kumohon angkat ...." terdengar gumaman dari bibir kecilnya yang menggoda.
"Mos....."
"Saku-chan ?!! Tolong aku !!" Belum juga lengkap kata sapaan yang diucapkan oleh orang disebrang telephone, hinata langsung menyambar ucapannya.
"Ka..kau kenapa hina-chan ??" Mendengar sahabatnya yang meminta tolong tentu saja dia langsung berfikir yang tidak-tidak.
"Kumohon cepatlah datang ketempatku sekarang. Kumohon saku-chan" nada panik dan ketakutan dapat sakura tangkap dari suara sahabatnya itu.
"Baiklah, tunggu aku kesana"
Tut....tut..tut..
Langsung saja sakura bergegas pergi ke apartemen sahabatnya itu. Sungguh dia juga ikut ketakutan mendengar suara sahabatnya yang seperti itu.
Setau sakura selama ini hinata tak pernah menelphone nya dengan suara yang seperti itu jika tidak benar- benar dalam keadaan genting. Jadi sekarang apa yang dihadapi sahabatnya itu sampai seperti itu. Semoga saja tak terjadi sesuatu yang buruk dengan hinata.
.
.
.
.
.
Setelah sampainya sakura diapartemen hinata dia langsung memasukkan kode yang dia hapal diluar kepala. Dia berfikir tak ada waktu berlama-lama untuk memencet bel yang terdapat disamping pintu hinata.
"Klik" tanpa basa-basi sakura langsung masuk setelah mendengar suara itu.
"Hinata ?!!! " teriakan sakura yang menggema membuat hinata langsung berlari keluar dari kamarnya untuk menemui sakura.
"Aku disini saku-chan"
"Astaga . Apa yang terjadi pada mu hina-chan?? " sakura langsung menghampiri hinata setelah melihat sekujur tubuh sahabatnya yang bentol-bentol berukuran cukup besar dan merah-merah, serta tak lupa pemandangan hinata yang menggaruk- garuk bagian tubuhnya yang dapat dijangkau.
"Alergiku kambuh saku-chan" jawabnya dengan muka memelas dan tak lupa garuk- garuk cantiknya tetap dia lakukan.
"Bagaimana bisa? Apa kau lupa dengan apa yang bisa membuatmu alergi ha ??" Sakura yang khawatir dengan kondisi sahabatnya itu tak sadar menggunakan nada yang cukup tinggi diakhir kalimatnya.
"Nanti kujelaskan. Sekarang antarkan aku ke ke rumah sakit dulu" dengan wajah memelas dia tunjukkan pada sahabatnya itu. hinata sungguh tak tahan dengan gatalnya ini. Jika tak menampilkan wajah seperti itu pasti sakura tak akan berhenti mengomelinya.
Sebenarnya dia merasa tak enak pada sakura karena telah merepotkan sahabatnya itu untuk mengantarkannya kerumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi ? Dia tak bisa pergi mengendarai mobil dengan kondisi tubuhnya yang gatal minta ampun. Kan tubuhnya yang gatal ini membutuhkan garutan manja dari tangan- tangan mungilnya.
Jadi mau tak mau dia merepotkan sahabatnya ini.
.
.
.
.
.
Kini mereka sudah sampai diapartemen hinata setelah pulang dari rumah sakit. Tak sekalipun sakura menampilkan raut wajah yang bersahabat setelah keluar dari ruang dokter. Wajahnya yang masam dan aura yang dia pancarkan dapat membuat hinata bergidik ngeri melihat sahabatnya yang sepertinya malaikat pencabut nyawa. Bahkan hinata dapat membayangkan sakura dengan jubah hitam dan sabit ditangannya. Ugghh hanyalannya tambah membuatnya merinding.
'Aduh.. aku takut sekali kalau saku- chan mengamuk. Jika dia mengamuk tamatlah riwayatku'
hinata yang melihat keadaan sahabatnya, tak sekalipun menipiskan jarak berjalan diantara mereka. Malahan dia seperti menjaga jarak untuk mendapatkan jarak aman bagi kelangsungan hidupnya.
