Namanya Djoko, seorang pengamen dengan tubuh kekar dan rambut gondrong layaknya preman. Rendah hati, memiliki welas asih, penyayang, dan suka membantu semua orang. Dia mengamen dari satu rumah ke rumah lainnya. Dia senang dengan pekerjaannya itu karena memang hobinya adalah bernyanyi, lagu Malaysia berjudul suci dalam debu menjadi andalannya. Dia sering keluar rumah sambil ditemani gitar kesayangannya. Gitar itu dinamai Leonessa. Kata dasar dari Leonessa adalah leo yang berarti singa. Dia juga pernah memberitahukan alasan dari pemberiaan nama itu. Katanya pada bagian badan gitar itu terdapat stiker singa besar yang mengaum terlihat mempesona dan karena dia terinspirasi dari sosok singa besar itu. Katanya singa itu luar biasa, hanya dengan aumannya saja bisa membuat seisi hutan gemetar takut.
Namaku Rahayu, perempuan yang menjalin kasih dengan Djoko. Aku selalu suka mendengarkan suara indahnya itu. Aku jatuh cinta dengan suara indahnya termasuk dirinya juga karena tidak mungkin aku menjalin kasih hanya dengan suaranya saja. Aku sering ikut dia mengamen tanpa sepengetahuan ibu karena jika beliau tahu pasti beliau tidak mengizinkanku untuk melakukan hal itu.
Djoko selalu membuatku tersenyum dengan tingkah anehnya. Saat aku bersamanya hidupku terasa sempurna. Djoko mencintaiku dan aku mencintainya, dia serius menjalin hubungan denganku bahkan meminta restu kepada orang tua ku hanya saja saat Djoko meminta restu ada kejadian yang tak diinginkan olehku juga olehnya. Ibuku mengejeknya dan mengusirnya tanpa hormat. Ibuku tidak merestui karena Djoko tidaklah kaya, pekerjaannya hanya bernyayi dan bernyanyinya itu dari rumah ke rumah bukan diatas panggung yang megah dengan penonton yang berteriak keras memanggil namanya. Beliau berpikir bahwa Djoko tidak akan bisa membahagiakanku. Ya aku mengerti kecemasan beliau yang seperti itu, menginginkan anaknya bahagia dengan bisa memenuhi apa yang diinginkannya, dalam artian membeli barang-barang mewah seperti tas import dengan harga jutaan rupiah yang setiap 3 bulan sekali aku membelinya. Aku suka mengoleksi tas-tas seperti itu memang, tapi jika aku jadi menikah dengan Djoko aku akan berhenti melakukan hal itu, aku memahami keadaannya. Menurutku bahagia bukan hanya hal itu saja, bisa selalu bersamanya sudah membuat diriku bahagia.
Djoko terlihat sedih karena perbuatan ibuku yang mengejeknya dan mengusirnya tanpa hormat. Tapi dia tetap sabar menghadapi semua itu, kesabarannya memang patut diapresiasi dan diberi penghargaan. Saat aku bertemu dengannya di taman aku bertanya kepadanya.
"Kamu masih memikirkan hal itu? Maafkan ibu, ibu hanya tidak yakin apa kamu bisa membahagiakan saya atau tidak."
"Ya, saya tahu itu." jawab Djoko dengan nada rendah dan saat bicara hanya melihat bawah, memainkan sandal warna birunya itu.
"Lalu?" tanyaku untuk mengetahui apa rencana selanjutnya.
"Saya akan buat ibu kamu menyesal karena berkata bahwa saya tidak akan bisa membahagiakan kamu."Djoko membalas pertanyaan singkatku itu.
"Semoga berhasil, saya percaya kamu." Tegasku kepadanya, menambah semangat yang ada.
"Terima kasih." Ucapnya setelah aku berkata bahwa aku mempercayainya.
Percakapan singkat itu membuatku tersentuh dan hampir menangis karena semangatnya membuktikan perkataan ibuku salah. Djoko berusaha keras dengan mengamen seharian penuh untuk mengumpulkan uang. Kemudian ditengah-tengah mengamen ada seorang musisi yang menghampiri Djoko menawarkan kerja sama, musisi itu ingin menjadikannya seorang penyayi karena mungkin musisi itu melihat bakat yang ada dalam diri Djoko. Djoko menyetujui saja tawaran musisi tersebut, bagaimana tidak? Saat ada kesempatan seperti itu harus cepat-cepat diambil karena sudah pasti kesempatan itu tidak akan datang lagi.
Beberapa bulan kemudian ada acara televisi yang menampilkan suara Djoko. Dia bernyanyi diatas panggung yang sangat megah dengan penonton ribuan yang menikmati keindahan suaranya itu. Banyak yang menyukainya, saat aku memindahkan chanel televisi ternyata ada acara yang menampilkannya juga. Sungguh, luar biasa. Dia membuktikan perkataannya itu. Saat aku melihat penampilannya ditelevisi tiba-tiba ada keramaian didepan rumah dan ternyata dia, Djoko dan beberapa fansnya. Mereka membawakan bunga mawar, satu orang membawa satu tangkai lalu ramai-ramai memberikannya kepadaku. Aku tak menyangka Djoko si pengamen yang diejek dan diusir secara tidak hormat oleh ibuku dulu berbuat hal menakjubkan seperti ini. Dia menemui ibuku, meminta restu untuk meminangku dan berjanji bahwa dia akan selalu membahagikanku. Tentu ibuku merestui karena dia sudah membuktikan bahwa dia bisa tampil diatas panggung yang megah dengan penonton yang dimaksudkan oleh ibuku dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Djoko
Short Story"Saya akan buat ibu kamu menyesal karena berkata bahwa saya tidak akan bisa membahagiakan kamu." Djoko
