Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

29 Oktober 1999

229 14 1
                                        

Gelap membungkam. Tegang. Seisi rumah kecil yang sudah tak layak huni itu—atap bocor, dinding-dinding retak, bercak darah yang mengering—menatap tegang seorang Ibu di atas ranjang yang sedang berjuang sekuat tenaga mengeluarkan beban yang sekian lama telah dia simpan di perutnya. Proses melahirkan. Ada tiga laki-laki berperawakan gagah dan dua perempuan berparas cantik di sana. Mereka adalah keluarga dari sang Ibu di atas ranjang.
Laki-laki pertama adalah suami dari sang ibu, namanya Sofyani. Dua laki-laki lainnya adalah anak pertama dan keempat sang ibu, yang pertama Firdausi, yang keempat Adn. Sedangkan dua perempuan berparas cantik itu adalah anak kedua dan ketiga dari sang Ibu, yang kedua bernama Fitri, dan yang ketiga bernama Syifa. Mereka menatap tegang sang Ibu, mulut mereka terus memanjatkan doa, Fitri dan Syifa tak kuasa menahan air mata. Mereka bersiap menyambut adik barunya, apapun yang terjadi, bagaimana pun keadaan menyempitkan, mereka akan bertahan di sana mengamankan adik barunya sampai titik darah penghabisan.
Di luar, beberapa pasukan bersenjata—senjata batu—membentuk lingkaran melingkari rumah tersebut, was-was menjaga jika ada ancaman para Israel yang menyerbu. Semua khawatir sesuatu buruk akan terjadi. Hari-hari mereka selalu disertai ketegangan, ketakutan, hanya dengan mengigat Allah mereka merasa tenang. Mereka masih selalu terjaga, meski perjanjian damai Oslo sudah disepakati, namun dalam hati terdalam, mereka masih belum yakin jika perjanjian tersebut akan menaklukkan hati yang serakah. Maka mereka pun selalu bersiap dengan segala kemungkinan yang ada.
Di dalam, sang Ibu masih merintih tertahan. Sofyani, Firdausi, Fitri, Syifa, dan Adn menatap jeri sang Ibu, ingin rasanya membantu, namun apa daya, hanya dari Allah semua bermula. Mereka pun sama tegangnya mengingat jika tiba-tiba pasukan Israel berhasil menemukan rumah tak layak huni ini. Namun itulah naluri para mujtahidin, di luar, tiba-tiba terdengar desingan peluru, dor dor dor! Saat desingan peluru pertama melesat, sang Ibu dengan sisa-sisa suaranya bertakbir sekuat tenaga, dan suara tangis pun menggema di langit-langit ruangan. Bayi itu lahir. Tapi tak ada waktu bersuka ria, dari luar, beberapa pasukan menerobos masuk, sambil terengah-engah pasukan itu berkata pada Sofyani, “Yaa.. Amirnaa (wahai pemimpin kami), pasukan Israel sudah mengetahui rumah ini, apa yang akan kita lakukan?” Sofyani melirik istrinya dan anak barunya, kemudian Sofyani mendekati ranjang, memakai jubahnya, mencium kening istrinya sambil berkata, “Kita akan berperang!” Bisik Sofyani di telinga Istrinya. Saat Sofyani hendak balik kanan, istrinya memegang lengan Sofyani, dan dengan tegas menggelengkan kepalanya.
“Ti.. tidak, Sofyani. Pergi..lah, lari, bawa semua anak dan pasukanmu. Berperang saat ini hanya akan bunuh diri. Pergi. Tinggalkan aku.” kata Istrinya terbata-bata.
“Tidak akan, Istriku. Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawab Sofyani, dingin dan tegas. “Firdausy, Adn, mari kita pergi. Fitri, Syifa, jaga Ibumu dan adik barumu.” Perintah Sofyani.
Dari luar desingan peluru semakin menjadi jadi. Pasukan tersebut berkata lagi, “Pasukan kita sudah kewalahan di luar, Amirnaa.. berikan perintahmu.”
“Kita akan berpe..” Belum habis instruksi Sofyani, Istrinya di belakang berteriak parau. “ Jangan cengeng Sofyani! Bijaklah! Kamu mengepalai banyak manusia, kamu akan bertanggung jawab atas semua nyawa yang melayang di negeri ini! Kamu pasti tahu, jalan terbaik saat ini adalah berlari, bukan justru melawan, kita akan kalah, kamu tidak bisa mengorbankan banyak nyawa untuk satu kehidupanku, aku akan menderita jika itu terjad! Bijaklah, Sayangku, bijaklah!”

Jika Aku Berdarah PalestinaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang