DEAR NATHAN
Aku ingin bicara saat semua orang tidak henti mengeluarkan kata-kata. Tapi tetap saja bibir ini seolah bungkam. Aku selalu memilih diam tiap kali dihadapkan dengan pilihan dan kesempatan, tidak berani atau pengecut cinta? Awalnya biasa saja, awalnya juga tidak ada perasaan, tapi perasaan selalu bermetamorfosiskan? Mungkin saja kamu heran melihat aku yang terus bungkam. Aku tidak mau jatuh cinta, jatuh cinta itu seperti membodohkan Tuan-nya, tapi kamu mengajariku satu hal jatuh cinta membuat seseorang lebih menghargai tiap-tiap hati yang mencintai. Mungkin benar, bicara langsung mempermudah untuk melepas puing-puing rindu tapi aku memipih surat karena surat mempunyai makna tersendiri dalam menyampaikan sesuatu. Aku hanya pintar berkata-kata tapi aku tidak pintar untuk bersuara. Aku hanya pintar menyembunyikan tapi aku tidak pintar untuk menunjukan.
Aku hanyalah sigadis kaku.
Yang ingin aku tanyakan kenapa rasa itu muncul untukku? Belum bisa kutemukan jawabannya, kamu sudah pergi menjadi bayangan maya nan semu. Kamu ingin aku jadi objek nyata-kan? Dulu kamu mengejarku perlahan-lahan aku tahu kamu pun jemu. Tenggelam dalam kebingungan karena terlalu lama menunggu. Aku sigadis kaku yang tidak tahu arti cinta karena terlalu lugu. Baik sajak ini sepertinya terlalu memusingkan dan membosankan untukmu. Langsung ke poinya saja tolong baca baik-baik. Aku si gadis kaku ini
..............MENCINTAIMU..............
TERTANDA
Salma si gadis kaku.
