1. Yuki

142 6 0
                                        

Krrriiinngggg...
Prakk!!!

Jam beker yang berbunyi senyaring bunyi rem sepeda itu dimatikan kasar oleh pemiliknya. Siapa pemiliknya? Yuki. Siapa dia? Perempuan terdingin  menurut teman-temannya di sekolah.

Untung saja jam bekernya itu tidak rusak atau sampai benyek. Sekasar-kasarnya Yuki, dia tidak akan pernah sampai merusak.

Ya, kecuali jika dia sudah marah kelewat batas. Bisa saja pagar rumahnya dibenyek-benyek habis. Tapi Yuki masih bisa menahan emosinya, selagi tidak ada yang mengusik.

Sebenarnya Yuki sudah bangun sejam yang lalu. Jam bekernya selalu di set setiap pukul 5 pagi. Tetapi Yuki selalu terbangun sejam lebih awal sebelum jam beker membangunkannya.

Entah kenapa. Mungkin kebiasaannya seperti itu. Tidak heran jika ibunya bingung. Mengapa dia harus memasang beker jika Yuki bisa bangun tidur tanpa panggilan sang beker.

Tetapi ibu Yuki tidak berani menggubrisnya. Ibunya tahu persis siapa Yuki. Jadi, jangan sekali-sekali mengusik apa yang Yuki lakukan. Cam kan itu.

. . .

"Nak, ayo cepat turun. Ibu memasak nasi kare!!!" Teriak ibu Yuki, Bu Hanara.

"Ibu tidak usah teriak-teriak." Ucap Yuki, yang sedang duduk di kursi meja makan, yang tepat posisinya terbelakangi oleh Bu Hanara.

"Ya ampun!! Kau membuat ibu kaget saja, nak. Sejak kapan kau disitu?" Tanya Bu Hanara sambil mengelus dada.

"Sepuluh menit yang lalu mungkin atau lebih." Ucap Yuki tenang.

Yuki memang anak yang aneh. Pantas saja teman-teman di sekolahnya agak takut. Tetapi bukannya Yuki tidak memiliki teman. Dia memiliki dua teman atau mungkin bisa disebut sahabat.

Raiha dan Hera. Hanya dua perempuan itu yang mengerti Yuki dan mau menerima Yuki dengan segala keanehan Yuki. Mereka sudah memaklumi.

"Kau ini. Setidaknya kau beritahu ibu bahwa kamu sudah turun. Jadi ibu tidak kaget seperti ini. Jika ibu terkena serangan jantung bagaimana? Siapa yang akan mengurusmu? Hufftt.." Ucap Bu Hanara dengan sedikit membentak. Maklum, Bu Hanara ini sudah hampir berkepala empat.

Emosinya sudah tidak menentu. Apalagi ditambah dengan sikap dingin anak bungsunya, Yuki. Yang akan selalu membuat terkejut Bu Hanara dimanapun dan kapanpun.

Tetapi Bu Hanara sudah terbiasa dengan hal ini. Ini sudah pasti akan terjadi setiap pagi. Dan, ya, peristiwanya tidak berubah. Selalu seperti ini.

Sabarlah Bu Hanara (:

. . .

Hari pertama sekolah. Ya, sekolah. Semua anak benci hal yang satu ini. Semua anak akan mengeluh di kelas. Yuki sudah tahu persis itu.

"Yukikuuuu...!!!" Yuki benci teriakan super nyaring itu. Hanya saja teriakan itu milik salah satu sahabat kesayangannya, Hera. Jadi Yuki bisa menepis rasa bencinya itu.

Hera berteriak memanggil Yuki hingga semua murid menoleh. Padahal nama mereka bukan Yuki. Hanya ada satu Yuki di sekolahnya.

SMA Myunghyun. Tempat Yuki dan kedua sahabat tersayangnya bersekolah. Mereka bertiga duduk di kelas X - A. Sarang siswa-siswa unggulan. Unggulan? Mungkin.

Dimata para siswa kelas X mungkin murid kelas X - A adalah murid-murid terpintar dan terunggul. Mereka tidak tahu aslinya seperti apa.

Dan penghuni kelas X - A pun tidak merasa bahwa mereka adalah murid unggulan. Hanya kebetulan saja mereka bisa masuk kelas kesayangan para guru ini. Bisa disebut pencitraan juga. Tidak semua yang dilihat sesuai dengan kenyataan.

UNCARE : 무시하다Stories to obsess over. Discover now