(1)

60 9 8
                                        

Budayakan vote sebelum membaca dan berkomentar.

🍭🍭🍭
"APA??? RANGKING 34?" Pak Iwan Wijaya memijat kepalanya, tiba-tiba pusing menyergap dan rasa mual di perutnya ingin sekali ia muntahkan sekarang.

Laki-laki di hadapan Pak Iwan Wijaya hanya meringis sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangannya.

"Ravindra, sudah berapa kali Papa bilang sama kamu. Belajar yang rajin, kamu sudah naik kelas XII mau jadi apa kamu nanti, hah? Preman?"

"Vindra udah belajar, Pa. Kemampuan Vindra emang segitu." Jawab Vindra malas-malasan.

"Papa udah daftarin kamu les seminggu tiga kali, ditambah les privat dirumah, papa kasih semua fasilitas ter-canggih untuk menunjang kamu belajar," Pak Iwan Wijaya mengatur napasnya yang setengah-setangah untuk menceramahi anak laki-laki dihadapannya ini. "dan sekarang liat nilai raport kamu merah semua, ditambah lagi kamu rangking 34. 34 VINDRA 34..."

"Masih 34 Pa. Belum 35."

"Apa kamu bilang?"

Vindra kembali meringis. Kenapa Papanya sekarang jadi lebih sering darah tinggi, dan marah-marah tidak jelas seperti emak-emak lagi PMS.

"Papa akan pindahin kamu." Ucap pak Iwan Wijaya kini suaranya sudah terdengar rendah.

"Pindah? Pindah kemana? Vindra nggak mau dipindahin kaya bocah SMP aja."

"Banyuwangi."

"HAH-?"

"Nggak ada penolakan!"

"Papa."

Pak Iwan Wijaya melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan anaknya yang masih diam tak bergeming di dalam ruang kerjanya.

🍭🍭🍭

"Hallo.."

"Dengan Bapak Rian ya?"

"Begini, saya besok ingin menitipkan anak saya Vindra dirumah bapak Rian untuk 1 tahun kedepan."

"Semua surat kepindahan sudah saya tangani."

"Baik, terima kasih Pak."

Vindra mengepalkan tangannya. Seperti anak kecil saja, main pindah-pindahan. Belum lagi bagaimana nasibnya kedepan ketika ia tinggal di Banyuwangi, Vindra pernah membaca salah satu buku ketika ia SD, ia ingat bukankah Banyuwangi itu salah satu Kabupaten di Jawa Timur.

Vindra melangkah pergi menuju kamarnya, membaringkan tubuh atletisnya. Kesal, marah, pusing menajadi satu. Vindra ingin marah tapi kepada siapa, Papanya tidak bersalah dia melakukan semua ini juga demi Vindra. Ingin Vindra memperbaiki nilainya, ingin menjadi Vindra yang dulu ceria, baik, pintar, dan penuh semangat.

Tidak seperti sekarang, dingin, angkuh, dan kadang juga irit bicara. Semua ini karena dia. Vindra memejamkan matanya, kepingan memori pahit itu terngiang lagi dipikirannya. Mungkin sudah saatnya ia harus bangkit, melupakan semuanya, sakit yang ia rasakan sekarang harusnya juga sudah bersih.

"Gimana nasib gue besok." Vindra bangkit berjalan menuju balkon kamarnya. Langit malam ini sangat cerah, bintang bertaburan dipenjuru langit.

Vindra mendongak menatap bintang yang paling besar dan cahaya yang paling indah. "Mama, Vindra besok mau pindah dari jakarta," Vindra berkata lirih. "kata Papa Vindra mau dipindahin ke-Banyuwangi. Mama tau gak, gimana nanti nasib Vindra disana, Vindra takut gak bisa beradaptasi. Pasti disana orangnya kudet bikin ilfiel gitu."

Ia menghela napas kasar. "Vindra belum bisa ninggalin dia disini sendiri Ma. Vindra masih yakin dia masih disini di Jakarta."

🍭🍭🍭

Cowok dengan jaket kulit warna hitam serta koper super besar juga warna yang senada menentengnya menyusuri koridor bandara yang masih lumayan sepi. Pukul 05.00 pagi nanti pesawatnya sudah lepas landas. Disampingnya berdiri sang Papa yang setia menemaninya dan menasehati anak laki satu-satunya itu.

"Jaga diri baik-baik."

"Hm."

"Jangan suka keluar malem."

"Hm."

"Jangan samain sama jakarta yang bisa keluar seenaknya."

"Hm."

"Nurut sama Om Rian dan Tante Astri."

"Hm."

"Nanti sampek bandara Blimbingsari kamu dijemput sama anaknya Om Rian."

"Hm."

"Dia cewek. Nama-"

"5 menit lagi nih Pa. Vindra siap-siap kesana dulu ya. Papa disini hati-hati Vindra minta maaf udah sering bikin Papa kecewa." Vindra memotong perkataan Pak Iwan Wijaya, tidak akan ada habisnya kalau diteruskan. Lebih baik ia cepat-cepat naik pesawat dan tidur kembali.

Vindra mencium punggung tangan Pak Iwan, melambaikan tangan dan segera menuju pesawat. Ia pasti akan sangat rindu dengan Jakarta.

🍭🍭🍭

Follow Instagram

@dilland__

@ravindrarya

@ellisaallisya

Elvin SunOnde histórias criam vida. Descubra agora