"Halo perkenalkan nama aku Sena, aku pindahan dari Bogor. Semoga aku bisa jadi teman yang baik buat kalian ya,"
Spontan 1 kelas pun terdiam. Gadis "besar" di depan sana yang tadinya diabaikan kini menjadi pusat perhatian. Senyum polosnya membuat seisi kelas bergidik.
Satu senyum terbentuk di wajah khasnya. Dua orang siswa yang duduk lumayan belakang tambah bergidik. Bahkan saat anak besar itu duduk di belakangnya, ia memajukan bangku nya.
"Hai, nama aku Senali
. Salam kenal ya. Nama kamu siapa?" senyum Senali kembali mengembang. Lebih besar.
"Demi Tuhan, sekali lagi dia menyampaikan kalimat perkenalannya itu, akan ku lempar kacamata pinknya." Dua anak yang duduk bersebelahan itu tentu diajarkan sopan santun oleh kedua orang tuanya dan puluhan gurunya. Serentak mereka membuka mulut dan menjawab ocehan teman baru di belakangnya.
"Hai Senali, nama aku Safanja,"
"Fara,"
Kedua bibir siswa tersebut akhirnya bergerak. Namun, tidak diikuti dengan balasan jabatan tangan. Senali yang masih polos menunggu tangannya dijabat hanya tersenyum memelas.
"Oh, maafkan aku, Ya Tuhan," otak Fara yang mungkin masih bekerja normal langsung mengangkat tangan kanannya dan menjabat tangan besar milik Senali. Mereka berdua sudah terkoneksi sekitar 2 detik, dan Senali langsung melepaskan tangannya dari genggaman Fara secara sepihak.
Safanja yang daritadi hanya memasang ekspresi datar sekarang ia tersenyum beku penuh paksaan. Ia bahkan tidak berniat menjabat tangan Senali setelah Fara.
Badan kedua siswa yang menghadap kebelakang tadi kini berputar menghadap kedepan. Ke pemandangan guru dengan materi yang sangat membuat otak menguap saking bosannya.
-2 jam kemudian-
"Sumpah, geli banget, tadi gue liat kutu di rambutnya,"
"Serius? Untung gue pake jilbab,"
"Apaan banget dah orang dia yang ngajakin salaman segala dia duluan yang ngelepasin,"
"Kenalannya itu loh, lebay banget,"
Satu kelas gaduh. Tidak peduli siapa saja yang mendengarnya atau merasa tersindir karena obrolan mereka. Anak baru pindahan Bogor tersebut berhasil menjadi topik pembahasan yang "seru".
"Sstt! Dia ada di belakang tau! Nanti dia denger dan ngadu gimana? Gue ga ikutan!"
"Iya, dia kasian banget baru masuk ga ada yang nemenin di belakang mulu,"
Dua anak yang pasti memiliki hati yang sangat tulus menghampiri Senali yang daritadi hanya duduk diam memperhatikan sekitar di belakang.
Kalian pasti tau jaman-jaman nya sd saat ada murid baru pasti langsung dihampiri banyak orang dan jadi famous seketika. Namun sayang, hal tersebut tidak mutlak menimpa Senali. Ia harus tabah saat dibicarakan teman-teman barunya yang bahkan tidak baru ia temui sekitar 2 jam yang lalu.
Kenyataannya Tuhan memang adil, Senali kini sedang asyik mengobrol dengan 2 anak yang pasti memiliki hati tulus tadi.
"Ku yakin pasti keesokan harinya 2 manusia itu rambutnya akan gatal-gatal setelah bermain dengan di besar itu."
VOCÊ ESTÁ LENDO
BAVERS
Não FicçãoIni cerita nyata kejadian dari kelas 4-sekarang. Yang nanya bavers itu apa lo ga layak baca ini. Nama pelaku nya ada yg gue ganti ada yang engga. Ceritanya ga mirip 100% sama yang kejadian. Cuma yang gue inget & secara garis besarnya aja (tapi masih...
