(en) Faisal Salim is an honest, friendly, senior high school student who is addicted to using the Facebook social media. On the course of his school life, he abandon his school responsibility resulting downfall of his grades. Find out how did he get...
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
"Teeeet" bunyi bel bus umum. Bel ini berbunyi jika ada panumpang yang hendak turun. Seketika itu pula bang supir yang berbaju rapi dan rambut disisir belah dua seperti mau ke kondangan mengetahui kalau ada panumpangnya yang hendak turun, ia langsung menepi kekiri dan menurunkannya. Taklama setelah itu, ia melanjutkan tugasnya mengantar penumpang yang lain sampai ketujuan.
Di dalam bus, terlihat ada kakak-kakak berpenampilan seperti anak kuliahan, yang satunya menggunakan tas samping dan sibuk membaca, sepertinya buku tentang motifasi atau yang berhubungan dengan kehidupan, cara hidup ataupun juga tujuan hidup, yang satunya lagi sibuk dengan handphone kelihatannya itu hp baru, masih terlihat bagus, tanpa goresan dan dipegang sangat hati-hati.
"Sa.., nanti di confirm ya!!" Kata kakak yang sibuk menggunakan hp barunya.
"Oh. ya. Tapi semalam aku login udah gag bisa buka lagi, katanya password Incorrect." Jawab kakak disebelahnya, yang bernama Sa mungkin Sarah, Sasa, Santi bisa juga Samsiah.
"Kok bisa??"
"Gag tau juga, kayaknya aku udah lupa passwordnya, kamu bisa perbaiki?"
"Gag bisa.. nanti biar ku tanya sama Cici, kayaknya dia bisa."
"Tanyain ya! Semalam saja gag buka, hati gag senang." Kata Sa sambil tersenyum.
"Kalau udah bisa langsung diterima ya!"
"Ya.. pasti."
Diantara kakak-kakak ini berbisik ke kawan sebelahnya kemudian mereka melihat kearahku. Sepertinya meraka baru sadar kalau dari tadi aku menyimak pembicaraan mereka. Dengan sedikit malu-malu aku langsung saja berpaling muka. Ketika kucoba melirik mereka kembali, anak kuliahan itu tetap saja menatapku, sambil tersenyum-senyum lagi. Malu setengah mati ketahuan nguping pembicaraan orang lain, aku jadi tidak berani lagi melihat ke arah mereka.
Kakak-kakak kuliahan itu maju kedepan mencoba menjauh dariku, tapi tetap saja aku masih bisa menangkap pembicaraan mereka yang cukup menarik. Sa dan kawan tepat di sebelahnya masih membicarakan hal yang sama, mereka sering mengucapkan kata-kata pesan, teman, profil, beranda, dan banyak terdengar kata-kata lain dari bahasa Inggris. Perbincangan meraka semakin lama semakin menarik untuk di ikuti. Sehingga, mataku melihat keluar jemdela, tapi indra pendengarku tetap fokus pada obrolan mahasiswi itu.
Semua penumpang terdiam serentak ketika seorang pagawai kantoran menekan bel, ibu ini hendak turun untuk memulai kerjanya di hari selasa yang cukup cerah ini. Mobil berhenti agak lama, membuat hampir semua penumpang mengarah kedepan melihat apa yang terjadi antara supir dan ibu itu. Aku menyangka kalau ibu tersebut mungkin lupa membawa dompet atau membayar dengan uang seratus ribu sehingga supir tidak punya uang kembaliannya ataupun juga, mereka itu kawan lama yang tidak sengaja bertemu kembali di sebuah angkutan umum kota Banda Aceh.