Chapter 1 : Prologue

656 19 1
                                        

Mimpi buruk itu terulang lagi untuk yang kedua kalinya. Sudah 3 hari aku tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap kali aku berusaha untuk tidur, selalu saja aku mendengar bisikan angka-angka yang tidak aku ketahui apa maksudnya. Dan ketika aku mulai melihat angka-angka itu mulai menghantuiku, itu membuat kepalaku terasa sangat sakit sekali. Dokter mengatakan aku mengalami insomnia akut yang menyebabkan diriku mengalami halusinasi parah. Bahkan aku harus meminum obat tidur dan obat sakit kepala setiap kali aku akan beristirahat.

Namaku Nick Walker, aku tinggal di kota New York. Aku bekerja sebagai teknisi komputer. Umurku 24 tahun. Sejak lahir aku mempunyai kemampuan indra keenam, dimana aku bisa melihat hantu atau arwah dari manusia yang masih belum tenang di alamnya. Selain itu, aku juga mempunyai kemampuan untuk menerawang ke masa lalu dan melihat kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu hanya dengan menyentuh objek atau subjek tertentu. Aku juga bisa merasakan energi dan aktivitas paranormal yang ada di sekitarku. Tetapi, kemampuanku terbatas pada konsentrasi yang ada pada diriku sendiri. Semakin tenang suasana di sekitarku, semakin baik juga penerawanganku. Karena itulah temanku Jason mempercayaiku dalam setiap kasusnya. Ia bekerja sebagai detektif. Sebenarnya, menggunakan kemampuan supranatural untuk memecahkan kasus mungkin sudah banyak dikenal di film-film. Namun sebenarnya itu masih tidak bisa dipercaya oleh akal sehat. Tapi yang paling penting adalah aku bisa mendapatkan bayaran tambahan 25% untuk tiap kasus yang bisa ia pecahkan. Walau terkadang aku juga tertarik untuk menjadi bagian dari kepolisian, tetapi instingku selalu berkata tidak untuk hal itu.

Pagi ini seperti hari-hari yang biasanya dalam hidupku. Aku terbangun dengan mata seperti panda. Meskipun aku sudah mandi, tetapi tatap saja mata panda ini tetap menjadi penampilan sehari-hariku. Setelah sarapan aku segera berangkat kerja. Aku mengeluarkan mobil lama peninggalan ayahku. Satu-satunya alat transportasi yang aku gunakan untuk bekerja. Sebenarnya aku masih memiliki sepeda gunung dan motor trail, tetapi rasa malasku membuatku memutuskan untuk berangkat dengan mobil saja.

"Nick ... " Ibu memanggilku ketika aku akan masuk ke mobil.
"Iya Bu, ada apa?" aku menjawab panggilan Ibu.
"Jika kau sempat mampir ke supermarket, tolong belikan garam, sosis, dan brokoli. Ini uangnya, dan jangan lupa untuk menjemput adikmu dari sekolah sore ini," Ibu memberiku daftar belanjaan dan uang.
"Iya Bu, aku tidak akan lupa. Aku berangkat," pamitku.

Walaupun terkadang aku merasa hidupku membosankan, tetapi aku bersyukur. Aku masih memiliki keluarga yang harmonis. Pagi ini terasa agak dingin, langit mulai mendung. Sudah pasti hujan akan turun. Untung saja lalu lintas di kota tidak macet. Aku bisa terlambat lagi jika sampai macet di jalan raya. Akhirnya aku sampai di tempat kerja.

"Selamat pagi, pria panda, bagaimana pagimu?" sapa temanku Kate.
"Seperti biasa, selalu tetap di titik nol," jawabku dengan malas.
"Kau masih insomnia?" tanya Kate.
"Ya, dan selalu saja aku melihat dan mendengar angka-angka aneh yang aku tidak tahu apa maksudnya. Itu benar-benar menghantuiku," jawabku sambil meletakkan tasku di meja.
"Angka-angka apa? Apakah itu semacam kode?" tanya Kate lebih lanjut.
"Entahlah, aku tidak tahu kode macam apa itu, jika saja aku bisa mendapat jam tidur tambahan, kurasa itu akan cukup," jawabku sambil melepas mantel.
"Tapi, Nick,bukankah kau seorang hacker? Harusnya kau bisa memecahkan kode-kode itu," kata Kate sambil membuka lembaran buku yang ia ambil dari tasnya.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku terkejut.
"Aku menemukan lembaran catatan milikmu jatuh di lantai. Wow, ada banyak e-mail, ID, dan password. Apa saja yang sudah kau retas?" jawabnya seraya menunjukkan kertas catatan itu di depanku.
"Pssstt .... kuharap kau bisa jaga rahasiaku, aku tidak mau seorang pun tahu akan hal ini. Jika rahasia ini bocor, bisa berbahaya," kataku sambil merebut kertas catatan itu.
"Tenanglah, aku tidak akan memberitahukannya kepada siapapun. Memangnya apa yang akan terjadi jika rahasia ini bocor?" tanyanya.
"Akan kuberitahu kau, catatan itu, isinya adalah data-data rahasia milik para penipu online di sosial media. Temanku Detektif Jason sedang melakukan investigasi dan melacak keberadaan para penipu itu yang sudah membuat 4 perusahaan rugi sebesar 10 juta dollar," jelasku.
"Astaga!! Itu banyak sekali ... jadi kau berhasil menemukan mereka?" Kate terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan.
"Ya,"
"Kau hebat sekali," ia terkagum-kagum
"Tidak seberapa, semua itu hanya pekerjaan sampingan yang aku lakukan ketika aku merasa bosan,"
"Tapi kurasa itu terlalu hebat untuk orang sepertimu, Nick. Aku bahkan tak percaya kau bisa melakukan hal seperti itu,"
"Kau tidak menyangka kan? Begitupun denganku,"

Tak terasa hari sudah mulai sore. Akhirnya semua pekerjaanku selesai. Saatnya aku pulang, tidak lupa aku menjemput adikku juga ke supermarket. Aku sampai di sekolah adikku. Ia duduk di kelas 11. Begitu melihatku, ia langsung masuk ke dalam mobil.

"Bagaimana harimu Natalie?" tanyaku.
"Yah, aku cukup senang hari ini kak. Hari ini aku berhasil mendapat nilai A+ di ujian akhir matematika untuk semester ini. Dan minggu depan aku akan mengikuti olimpiade matematika internasional," jawabnya.
"Kerja bagus, adikku. Jika kau berhasil memenangkan olimpiade itu, aku akan memberimu hadiah yang besar ... " kataku.
"Hadiah apa?" tanyanya penasaran.
"Rahasia, pokoknya sesuatu yang kau sukai," aku sengaja merahasiakannya agar ia terpancing.
"Baiklah, aku akan memenangkannya. Tapi omong-omong,kenapa kita belok ke sini?" tanyanya.
"Ibu menyuruhku untuk membeli sosis, garam, dan sayuran," jawabku.
"Apa kau mau ikut? Apakah kau lapar?" tanyaku.
"Tidak, aku disini saja. Jika boleh, aku ingin roti keju dan beberapa camilan kesukaanku," jawabnya.
"Baiklah, tunggu disini, aku segera kembali. Berhati-hatilah dan jangan kemana-mana," kataku.

Aku keluar dari mobil dan masuk ke dalam supermarket. Aku mencari keperluan yang ibu butuhkan. Tidak lupa aku membeli beberapa bungkus roti, camilan, dan juga 10 kaleng susu. Dokter menganjurkanku minum susu sebelum tidur untuk membantuku agar bisa tertidur. Setelah kurasa semuanya sudah di daftar, aku membayarnya di kasir. Aku melihat ke salah satu televisi yang terpasang di ruangan pekerja supermarket. Aku mendengar berita tentang pembunuhan yang terjadi di salah satu hotel di kawasan Brooklyn. Kurasa aku akan mendapatkan bayaran tambahan lagi.

Setelah aku selesai berbelanja, aku kembali ke mobil. Natalie sudah menungguku. Sebelum pulang ke rumah, aku dan adikku makan roti di dalam mobil. Setelah selesai makan, kami pulang ke rumah. Kami sampai di rumah. Aku ingat sesuatu, aku harus memberikan catatanku pada Jason.

"Natalie, kau berikan ini pada ibu, bilang saja ke ibu aku ada urusan lain," kataku sambil memberikan belanjaan.
"Baik, kak, kau mau kemana?" tanyanya.
"Aku akan ke rumah Detektif Jason," jawabku.
"Baiklah sekarang kau masuk ke rumah, aku akan kembali," perintahku padanya.

Aku memutar arah ke jalan raya. Lalu lintas cukup lancar sore ini. Aku menelpon Jason untuk memastikan dia ada di rumah.

"Halo Nick, apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Jason.
"Aku sudah mendapatkannya. Dimana kau?" jawabku.
"Aku ada di rumah, temui saja aku disini,"
"Baiklah, aku segera ke sana," aku menutup telpon.

Akhirnya aku sampai di rumah Jason. Aku memarkir mobil di halaman rumahnya yang cukup luas. Aku keluar dari mobil dan menuju ke depan pintu rumah Jason. Alat pengenal identitas segera melakukan scanning pengenalan padaku.

"Rumah keluarga Jason, silahkan perlihatkan identitas anda," alat scanner meminta identitasku. Aku mengambil SIM di dompet dan mendekatkannya ke alat scanner.
"Subjek dikenali. Nick Walker, silahkan masuk," alat itu selesai melakukan scanning. Pintu terbuka secara otomatis.
"Jadi bagaimana kau akan menangani dua kasus itu?" tanyaku pada Jason yang duduk santai di sofa ruang tamu.
"Aku bisa memberikannya pada unit yang lain, tapi sekarang Kepala Unit Investigasi memerintahkanku untuk menyelidiki kasus di Brooklyn. Aku yakin kau sudah tahu itu," jawabnya.
"Ya, aku mendengarnya. Jadi kapan kau akan menyelidiki itu?" tanyaku.
"Mari kita selidiki besok siang. Lakukan saja tugasmu dan aku akan memberimu 30% jika kita berhasil," jawabnya.
"Oh ya, ini untukmu,akan kuberikan tambahannya besok," Jason memberikan amplop berisi 300 dollar padaku.
"Senang berbisnis denganmu kawan, terima kasih," ucapku.
"Sama-sama, teman selalu bisa diandalkan," balas Jason. Aku pun kembali ke rumah dan akan menyimpan uangnya di bank besok.


The Hacker's CodeWhere stories live. Discover now