Ketika takdir memilihkan jalan takdir untuk cinta dan kehidupan
Suara dentingan piano lemah sendu seakan mengisi keadaan diruangan serba putih. Dedaunan kuning yang berjatuhan ditiup angin masih bisa dilihat melewati sebuah jendela besar disamping tempat tidur kamar. Tabung infus tergantung diatas sana menyalurkan selang selang ke tangan ramping yang pucat.
Mata coklat yang redup menatap sendu keluar. Kepalanya yang terlilit oleh perban itu menoleh ke hadap jendela besar disampingnya. Sinar matahari seakan tidak bisa menembus kaca tebal itu. Membuatnya tidak bisa menerpa seseorang yang terduduk diatas kasur kamar.
Seorang gadis bersurai hitam kecoklatan yang panjang itu menjadi penghuni kamar rawat ini. Sudah dua bulan lamanya ia berada disini. Mendekam dalam diam. Hanya bisa pasrah akan keadaannya yang bahkan tidak bisa apa apa. Untuk berjalan saja rasanya kakinya tak mampu lagi. Rumah sakit yang berada di jantung kota tempatnya dirawat berbulan bulan itu. Ia ingin keluar...
Suara pintu tergeser tak mengubrisnya untuk menoleh sedikitpun. Matanya masih terpaku pada taman diluar sana. Melihat beberapa remaja seusianya berjalan jalan dengan senang bersama orang orang yang dekat dengan mereka. Ia sungguh ingin keluar.
Tanpa ia menolehpun ia tau siapa yang datang untuk mengunjunginya lagi. Tiap hari tiap waktu yang yelah terjadwal.
"Siang, Hana"
Nada suaranya yang akrab dan senyumannya yang ramah tampak seperti biasanya.
Pria yang menjadi salah satu dokter rumah sakit ini lagi yang mengunjunginya. Tepatnya untuk memeriksa keadaannya. Dengan berbekal sebuah kertas kertas yang tak pernah gadis itu tau apa yang terjepit dipapan yang selalu dibawa si dokter muda.
Mata sang dokter menatap maklum pada pasiennya yang satu ini. Selalu diam dan.. seperti tidak memiliki harapan hidup lagi..
Jujur ia menyimpan rasa iba dan kasihannya pada pasiennya yang satu ini.
Seorang gadis 14 tahun yang mengidap penyakit kanker darah stadium dua. Masih sangat muda dan gadis itu seharusnya berada diluar sana menikmati masa masanya yang indah bersama yang lainnya.
Dan bukannya berada dikamar rawat ini berhadapan dengan jarum jarum suntik,bius,obat obatan,trapi,dan lainnya.
Ia seperti seekor burung kecil yang terluka parah tak bisa kemana mana dari sangkarnya. Hendak menunggu kapan ajal menjemputnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Diam lagi. Hana masih tidak menoleh. Ia tidak peduli lagi. Pikirannya kosong begitu juga dengan matanya.
"...."
ESTÁS LEYENDO
Spark Love And The Depth Of Matter
Novela JuvenilHana lemah gue tau itu tapi itu juga yang bikin gue mau ngelindungi dia. -Refan
