Langit mendung pagi ini. Bunyi alarm terdengar nyaring. Sepasang mata milik seorang gadis di atas tempat tidur itu mulai membuka. Gadis itu bangkit duduk. Tangannya meraih benda berwarna putih yang masih berbunyi di atas nakas. Sedetik kemudian, bunyi nyaring itu tak lagi terdengar.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, gadis itu beranjak menuju kamar mandi. Memerlukan waktu 45 menit untuk gadis itu bersiap lengkap dengan seragamnya. Rambutnya juga sudah tertata rapi dengan model ikatan sederhana.
Setelah memastikan penampilannya, ia menggendong ransel biru mudanya yang sudah ia siapkan sejak semalam. Keluar dari kamarnya, lalu menutup kembali pintu putih kamarnya dengan gantungan bertuliskan "Charintia". Nama gadis itu Charintia.
"Selamat pagi, Ma," sapa Charintia di ruang makan sembari tersenyum.
Mamanya, Indah, membalas tersenyum. "Pagi juga Cha sayang."
Charintia duduk berhadapan dengan Indah. Tangannya sibuk menyendokkan nasi goreng ke piringnya. Ia mulai memakan sarapannya bersama Indah sambil mengobrol.
Sebenarnya, Papa Charintia seorang pengusaha yang sekarang sedang sibuk mengurusi cabang perusahaannya di Medan. Sedangkan kakak laki-lakinya tengah melanjutkan pendidikan di London.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Charintia berpamitan dan segera berangkat. Seperti biasa, ia berjalan menuju halte bis di depan kompleks perumahannya. Setelah beberapa menit menunggu, bis yang ia nanti akhirnya datang. Charintia segera masuk ke dalamnya.
Bis yang ia tumpangi tidak akan melewati sekolahnya, SMA Taruna Jaya. Oleh karena itu, Charintia harus berhenti di halte di dekat sekolahnya. Ia harus berjalan sekitar lima ratus meter ke sekolahnya.
Sialnya, awan hitam yang sejak pagi menggantung di langit menumpahkan airnya dengan deras. Charintia kini terjebak di halte karena tidak membawa payung. Terpaksa ia menunggu hujan mereda.
Charintia tidak suka menunggu di saat hujan. Hal itu mengingatkannya kepada kejadian di masa lalunya. Ia benar-benar ingin melupakan kenangan itu.
Sudah berkali-kali Charintia menengok ke jam tangannya. "Udah lima belas menit, kenapa malah tambah deras, sih?" gumamnya kesal. Sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Tapi Charintia tak mungkin menerobos hujan yang sangat deras ini.
Sebuah mobil putih berhenti di depan halte tempat Charintia berdiri. Tepat di depan Charintia, membuat Charintia berusaha mengalihkan pandangannya. Deja vu. Ia kenal dengan mobil itu. Tentu saja ia juga mengenal pemiliknya. Membuat dadanya terasa sesak.
Seorang pemuda turun dari mobil itu menggunakan payung. Ia mengenakan seragam yang sama dengan Charintia. Dengan badge di dada kanannya bertuliskan "Rafael Adrian Dewantara".
Rafael mendekati gadis berambut panjang itu. "Cha, ikut gue," kata Rafael dengan nada terdengar seperti perintah. Mendengar suaranya membuat Charintia menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang tidak bisa ia lupakan.
Charintia tetap berdiri di tempatnya, bahkan ia tidak menatap Rafael, membuat Rafael sedikit kesal. "Ikut gue atau predikat siswa teladan lo bisa jatuh."
Charintia menghela napas. Apa yang dikatakan Rafael benar. Setidaknya ini untuk menjaga keteladanannya agar tidak mengecewakan orang tua dan guru-gurunya. "Iya," ujarnya menyerah.
Rafael tersenyum kecil. Ia segera mengarahkan Charintia masuk ke kursi depan sambil memayunginya. Rafael berjalan memutari mobil untuk masuk ke kursi kemudi.
Sebenarnya cukup dua menit dari halte hingga sekolah jika mengendarai mobil dengan kecepatan normal. Akan tetapi Rafael melajukan mobilnya sangat pelan saat itu, sepelan orang bersepeda.
YOU ARE READING
CHARINTIA [oneshoot]
Short StoryJika kalian melihat seseorang yang selalu bahagia dan baik-baik saja, mungkin mereka terlalu pandai menutupi lukanya. Atau mungkin mereka pandai mengelak dari masalah mereka. ---------------- lattevann oct17
![CHARINTIA [oneshoot]](https://img.wattpad.com/cover/127003858-64-k758487.jpg)