Di Bawah Pohon Sakura

164 17 1
                                        

Dulu aku tidak pernah berpikir apa jadinya aku tanpa Dia.
Dulu aku tidak pernah berpikir menjalankan hariku tanpa Dia.
Dulu aku tidak pernah berpikir bisakah aku hidup tanpa mendengar suara Dia.
Dulu aku tidak benar-benar berpikir.
Dan Kini aku Menyesal.
BISAKAH?

Aku lemah. Berpikir bahwa aku sudah cukup kuat,nyatanya aku masih mengandalkan orang lain.
Aku tidak bisa membela diriku sendiri saat aku di ejek,aku hanya bisa bersembunyi dan menangis sendiri.
Sampai gadis berambut pirang itu membantuku untuk lebih percaya diri.
Aku mulai untuk mempercayai diriku.

Saat masuk akademi aku melihatnya anak laki-laki berambut kuning yang berisik,kemana-mana hanya sakura-chan meneriakkan nama itu dan terus menggodaku.
Sayangnya aku hanya melihat anak laki-laki yang satunya yang di gilai anak perempuan lainnya.
Terus seperti itu hanya menatap anak itu. Tanpa perduli dan kadang aku melemparkan kata-kata kasar padanya karena dia terus mengusikku.

Kita beranjak dewasa saat anak laki-laki tampan pergi membuat dirinya di lingkupi kegelapan. Aku dengan egoisnya terus menangis di depan anak berambut kuning dan meminta dia untuk berjanji untuk membawanya kembali. Aku benar-benar tidak tertolong. Membuat anak itu berjanji -janji seumur hidupnya-.

Aku melihat mereka berdua mengambil jalan mereka masing-masing,lalu apa yang kulakukan. Apakah aku harus terus bergantung pada mereka. Saat aku menyadarinya aku sudah melukai ke-2 anak itu,terutama yang berambut kuning. Menggantungkan semuanya di pundaknya.
Aku mulai belajar,berlatih,berusaha keras. Saat mereka juga melakukan hal yang mungkin sama.
Aku harus lebih kuat.

Aku masih ingin menyelamatkan laki-laki berambut biru gelap itu,tapi tanpa sadar aku membuat luka pada laki-laki berambut kuning.
Aku mendapat tamparan keras saat dewasa -saat perang- bahkan dari orang yang tidak terlalu mengerti tentang perasaan. Ia mengatakan bahwa janjiku itu telah melukai orang itu, melukai dirinya,melukai dunianya,melukai hatinya dan segala hal tentang dirimu yang dia sukai.

Saat kesadaran itu muncul aku tau,aku sudah benar-benar keterlaluan terhadapnya. Tidak menyadari apa saja yang telah ia korbankan untuk diriku yang egois ini.

Saat sebelum aku membulatkan tekadku untuk menghentikan dia yang terus mencari pria yang telah pergi di kegelapan. Ino menemuiku dan ingin mengetahui apa sebenarnya yang kupikirkan. Tapi aku bahkan tidak bisa berkata-kata,kami hanya diam. Dan dia meninggalkanku dengan helaan nafas panjang dan perkataan bahwa sudah saatnya kau mengalihkan pandanganku kearah yang lainnya melihat siapa sebenarnya yang lebih mengkhawatirkan ku.

Aku menyatakan perasaanku tapi dia menolaknya ya itu benar pasti dia menolak dan berpikir bahwa aku berbohong. Saat itu hanya aku yang tau perasaanku yang sesungguhnya,dan biarlah aku simpan dahulu. Aku mundur teratur untuk memberinya waktu.

Saat segalanya kembali normal aku ingin memastikan kembali perasaanku untuknya.

Kita melalui banyak peperangan,perang besar,desa yang hancur,bau kematian yang tiada habisnya,kesedihan akan hati yang di tinggalkan.

Kami melalui itu semua dan berakhir dengan baik tim7 yang di bentuk telah kembali,aku senang bisa berkumpul kembali. Tapi aku tidak senang karena pria kuning itu jadi menghindariku.

Meski aku di sibukkan dengan pekerjaan untuk membangun rumah sakit. Tapi aku tetap merasakan bahwa dia menjauh dariku. Sudah tidak terdengar lagi -sakura chan- darinya. Sudah tidak adalagi makan siang bersama dan tingkah konyolnya.

Meski aku sibuk tapi setiap kali aku beristirahat pikiranku selalu berlari kearahnya apa yang sedang ia lakukan,apa ia sudah makan,apa ia tidur dengan baik. Bahkan sampai terus terarah padanya aku tidak menyadari bahwa aku sudah tidak memikirkan pria dengan rambut biru itu lagi. Ia sudah sembuh dan memutuskan untuk pergi dan melihat dunia dari sisi yang lain sebagai penebusan dosanya. Aku sudah tidak menangis lagi saat ia pergi dan rasanya aku sudah tidak berdebar saat di dekatnya. Hanya perasaan senang dan lega ia sudah mengambil jalan yang benar.

Aku menyadari satu hal kini aku,perasaanku berdebar untuk yang lainnya. Saat kita mengadakan pesta kecil untuk berkumpul bersama di kedai hitung-hitung untuk melepaskan penat dari pekerjaan pembangunan desa.
Aku melihatnya rasanya benar-benar sudah lama dari terakhir aku bertemu dengannya saat mengobati lukanya.
Aku tidak melihat yang lainnya hanya melihat matanya dan iapun sama denganku terkunci dalam tatapan mata. Hingga lee berteriak menyadarkan kami yang bertatapan. Dan aku sadar saat itu aku berdebar dan lebih parahnya aku tersadar kalau ia datang dengan gadis indigo itu. Karena lee menggoda mereka dengan suara yang keras.

Dan aku hanya bisa terdiam. Dan memasang senyum sebaik yang aku bisa. Untuk menanggapi ucapan mereka. Pada akhirnya aku merasa duniaku kini berhenti berputar.

Terus menangisi diri karena tidak sadar dan tidak mau melihat perasaan orang lain membuatku menjadi wanita yang menyedihkan. Saat aku sadari semua sudah terlambat,desas-desus perjodohan terdengar di mana-mana.

Ino bilang aku menyedihkan.
Tsunade mengkhawatirkan ku.
Kakashi hanya diam melihatku (dan aku cukup tau).
Aku. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan.

Sampai saat shift ku di malam hari bekerja di rumah sakit dan juga berbarengan dengan ino. Aku mendengar tentang tanggal. Dan segalanya runtuh tak bersisa. Menangis terduduk dengan tangan yang terus mencengkram bagian dada yang terasa sakit luar biasa.
Menangis di selasar ruang UGD (yg kebetulan tidak terlalu ramai) hanya ada ino,2perawat,dan 3 dokter UGD yg kukenal baik. Dan beberapa pasien. Dan mereka menatapku terkejut berpikir apa yang membuat diriku ini menangis sehebat ini dan tanpa aba-aba duniaku pun gelap seketika.

Aku pingsan.

Saat aku tersadar aku lelah luar biasa,tertidur di ruangan rumah sakit membuatku ingat kejadian sebelum aku tidur di sini. Dan aku hanya memandang kosong jendela yang menyajikan pemandangan jejeran kebun teduh rumah sakit.
Saat aku merasa sudah lebih baik aku pergi keluar dari kamar tanpa memberi tahu siapapun biarlah. Aku sedang ingin sendiri dan menghirup udara pagi.

Aku tidak tau berjalan kemana yang ku tahu hanya berjalan saja,beruntung aku tidak memakai pakaian rumah sakit aku bisa di kira pasien yang kabur.

Aku tersadar saat seseorang di jalan menyapaku penduduk sekitar sering menyapaku karena mereka berpikir aku adalah dokter terbaik mereka. Dan hei aku cukup terkenal sekarang di desa lagi pula aku adalah kepala rumah sakit kan.
Aku hanya tersenyum dan menanggapi sedikit dari pertanyaannya. Dan saat dia bertanya karena aku berjalan perlahan sendirian,aku menjawab kalau aku ke sini untuk menikmati bunga sakura,aku baru menyadari aku berjalan di antara pohon bunga sakura yg bermekaran dan sangat indah. Dan saat ia berpamitan,sekali lagi aku tersenyum kali ini lebih alami dari sebelumnya.

Dan saat ia berlalu dan aku mengarah kan mata ku kejalan di depan.
Masih dengan senyum yang menempel di wajah. Dan aku berhenti.

Aku Melihatnya.
Aku Terdiam.

Dan seperti biasa. Aku Menangis.
Ia berlari kearahku yang menangis.
"Sakura-chan apa yg terjadi"

Aku Mendengarnya.
Aku Melihatnya.
Aku Merindukannya.
Aku MENCINTAINYA.
.
.
.
.
.

Note author:
Akhirnya part sakura selesai di ketik maaf jika kurang memuaskan. Di buat karena mau lihat juga untuk sisi sakura apa yg di rasakan.
Yang lagi-lagi saya hanya meminjam peran dan nama dari pembuat aslinya.

Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan membaca.
Jangan lupa review dan masukkannya.
Salam elania.

لقد وصلت إلى نهاية الفصول المنشورة.

⏰ آخر تحديث: Aug 24 ⏰

أضِف هذه القصة لمكتبتك كي يصلك إشعار عن فصولها الجديدة!

Di Bawah Pohon SAKURA (POV Sakura) قصص لتهوسّ بها. اكتشف الآن