Prolog

79 10 5
                                        

Sekolah menengah Virginia yang berdiri dengan kokoh di tengah kota Bristol. Sekolah dengan gedung tinggi, yang lebih menyerupai kampus terkemuka daripada sekolah konvensional lainnya. Tidak heran jika menilik seberapa mahal biaya yang harus dikeluarkan untuk masuk ke sekolah dengan kurikulum Internasional sekelas Cambridge itu. Sistem pembelajaran berupa kredit semester, memungkinkan siswa yang berpeluang mengambil pelajaran di atasnya sehingga lulus lebih cepat.

Salah satu siswa yang dimaksud adalah Sierra Darlene William. Nama yang cukup panjang untuk seorang gadis keturunan Inggris-Italia. Gadis dengan rambut panjang berwarna kelam dan iris mata berwarna hijau serupa batuan mulia zamrud itu terbiasa dipanggil dengan sebutan Sera.

Siang itu ia termangu di salah satu tempat duduk kafetaria yang begitu ramai, namun tidak jua mampu menghapuskan kesedihan ketika memulai tahun ajaran baru dengan duka. Kematian kedua orang tua saat akhir musim dingin yang lalu cukup memukul batinnya, meski semua yang berada di sekelilingnya masih terlihat sama. Orang tua Sera bisa dikatakan memang hampir tidak pernah hadir dalam hidupnya. Bahkan ketika penerimaan penghargaan siswa teladan yang Sera dapatkan berulang kali pun tidak pernah ia mendapati orang tua datang untuk sekedar memberinya ucapan selamat.

“Sera! Kamu tidak mengambil mata pelajaran pada musim panas ini ‘kan?” tanya Becca―gadis jangkung yang membawa nampan berisi semangkuk salad dan seenaknya mengambil kursi untuk duduk di sebelahnya.

“Aku? Mengulang bagaimana? Aku telah menyelesaikan semua mata pelajaran pada musim dingin lalu.”
Becca tidak terkejut mendengarnya. Sebenarnya ia tidak heran dengan otak cerdas yang dimiliki Sera. Ia hanya berkelakar seperti biasa seraya menunjuk pelipis Sera, “Seharusnya otak ini tidak perlu terlalu jenius, jadi aku bisa memiliki teman di musim panas ini.”

“Salah. Seharusnya otakmu ini dinaikkan ke kepala. Jangan terus berada di pantat jika ingin bersamaku!” balas Sera sambil menepis tangan Becca dari pelipisnya.

“Sial! Kalau begitu, kamu harus membayar makananku!”

“Bayar sendiri! Kau selalu seenaknya meminta bayaran dariku!” Sera kembali membalas tidak kalah galak dari Becca. Namun tetap saja bagaimanapun mereka berkelakar, semua itu hanyalah kata-kata akrab yang biasa mereka sebutkan. Kenyataannya bagaimanapun dan siapapun yang menang berdebat, tetap saja gadis pewaris kerajaan bisnis milik keluarga William itu yang akan selalu membayar.

***

Suasana sekolah sepi pada pukul empat sore. Seluruh siswa baik yang belajar maupun mengikuti kegiatan tambahan tampaknya sudah pulang. Tinggallah Sera dan Becca menunggu jemputan di depan gerbang sekolah dalam keadaan terpanggang dengan panas membara dari matahari yang masih setia bersinar dengan teriknya. Beberapa kali petugas keamanan meminta mereka untuk memesan taksi online saja, namun baterai ponsel mereka telah habis dan kebetulan tidak membawa pengisinya.

Sir. Boleh saya meminjam ponsel anda?” Kebiasaan Becca menyela perkataan orang tua.

“Maaf, ponsel saya tidak dapat digunakan untuk daring.” Dengan pedenya petugas keamanan memperlihatkan ponsel model lawas pada mereka. Jadi bagaimana mereka dapat memesan taksi?

Sera hampir ingin menertawakan jika tidak ada mobil sejenis BMW yang menghampiri mereka. Wajahnya masam seketika mengetahui siapa yang keluar dari dalamnya.

“Dimana Matt? Kenapa kamu yang datang?” tanya Sera pada pria dengan pakaian parlente, setelan jas yang terlihat mahal namun bergaya muda menghampiri mereka.

“Entah. Masuk!” Pria itu mengedikkan bahu, lalu dengan seenaknya menarik lengan Sera dan melemparkan tubuh langsingnya ke dalam mobil. Becca yang tidak terima hendak mencegah namun didorong dengan kasar hingga punggungnya menabrak gerbang sekolah.

Deru mobil yang keras menunjukkan bahwa mobil yang dibawa pria itu melaju kencang di atas aspal, meninggalkan Becca yang menyumpah serapah pada petugas keamanan di sana karena tidak mampu menolong apapun.

“Gerald! Hentikan mobilnya sekarang!” Pria yang dia sebut dengan nama Gerald hanya menatap fokus pada jalan aspal yang lengang di depannya. Dia berusaha berontak dengan menarik-narik roda kemudi yang Gerald kendalikan. Gerak mobil pun menjadi tidak beraturan. Beberapa kali hampir menabrak kendaraan di depannya hingga mengundang suara klakson yang riuh.
Gerald menghempaskan tubuh Sera untuk kembali pada posisinya.

“Teruskan saja memberontak jika kau menginginkan kematian di sini!” ucapnya sarkastik.

Sera menatap ngeri pada pengemudi di sampingnya. Menurut gadis bermata hijau itu, Gerald terlihat semakin menunjukkan sifat diktatornya semenjak kematian orang tua Sera. Lebih tepatnya semenjak Sera menolak lamarannya.

“Gerald! Aku mau keluar!” Gadis yang terlihat ketakutan itu kembali histeris mendapati bagaimana kecepatan maksimal yang digunakan Gerald. Ia membuka paksa pintu di sampingnya namun Gerald lebih tangkas menangkap lengan ramping itu dan menekan pengunci pintu mobil.

“Jangan mencoba melarikan diri!” Pria arogan itu kembali fokus pada jalan di depannya. Sera hanya mampu duduk dalam diam, memikirkan segala kemungkinan untuk meloloskan diri. Ketakutan yang mendera tanpa sadar membuat air matanya mengalir perlahan membasahi kedua pipinya.

“Gerald … aku mau keluar … kumohon ….”

Ia terus saja mengalirkan airmata pada kedua pipi tirusnya hingga benar-benar lelah dan tertidur. Mobil yang dikendalikan Gerald terus melaju membelah jalanan negara bagian Virginia tanpa peduli setiap kesedihan yang terpancar dari wajah lelah di sampingnya hingga berhenti tepat di pinggiran kota. Pinggiran yang dipenuhi kapal-kapal besar melintasi lautan Atlantik.

“Keluar sekarang juga! Bukankah tadi kau ingin keluar?” perintah pria yang berusia sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Terang saja Sera terbangun, ia menjadi bertambah khawatir jika harus keluar di tempat antah berantah yang tidak dikenalinya.

Pria itu melepas sabuk pengaman Sera sebelum keluar dan membukakan pintu. Dia menyeret tubuh gadis dengan rambut kelam itu keluar dari mobil dengan paksa, menyeretnya di atas pasir seputaran pantai yang lebih sepi.

“Hentikan, Gerald!” Sera meraih tangan Gerald yang memeganginya dan menggigitnya dengan kuat. Ia berharap dengan berteriak, seseorang mampu mendengarkannya. Tatapan Gerald seketika menggelap, rahangnya mengeras, dan mulai menarik Seragam yang Sera kenakan hingga robek di beberapa bagian.

“Kau gila!” Sera menendang tubuh Gerald hingga terpental menabrak salah satu batang pohon di dekatnya.

Namun hal itu tidak menghentikannya, pria dengan sorot mata bergairah itu masih saja berusaha menyentuh beberapa bagian tubuh Sera yang terbuka. Beberapa kali gadis yang berusaha terlihat tegar itu memberikan serangan, justru membuat Gerald semakin berhasrat menginginkan dirinya.

“Kau!” secara sadar Gerald menodongkan pistol yang tersembunyi dari balik jasnya. Pistol berjenis revolver dengan peluru sungguhan, terbukti dari suara klik yang terdengar ketika ia menarik pemicunya. Sera spontan mengangkat kedua tangan ke udara begitu menyadari keadaannya yang terasa genting.

“Kamu tidak akan melakukannya, Gerald!”

“Tidak jika kamu menyetujui perjodohan itu.”

“Aku menganggapmu tidak lebih dari seorang kakak dan selamanya tetap akan―”

Dor!

Tanpa sengaja amarah yang menguasai dirinya karena penolakan justru membuat Gerald melepaskan tembakan tepat pada bahu kanan Sera. Tubuh yang limbung dan tekanan dari peluru membuat tubuh Sera jatuh terhempas gelombang di seputaran Buckroe.

***

Queen SeraWhere stories live. Discover now