1. Cemburu Menguras Hati

64 4 2
                                        

Satu bantal leher bercorak sapi melayang di depan mataku yang kemudian mendarat tanpa prihatin sedikit pun ke layar datar sebuah televisi masa kini yang menempel rendah di tembok. Aku pribadi bahkan tidak menyadari sama sekali gerakan itu, tahu-tahu tanganku sudah bergerak meraih benda terdekat di sekitarku setelah menyaksikan acara live musik di stasiun tv nasional disertai gemuruh tak mengenakkan membuncah dalam dada.

Sesak. Itu yang kurasakan pertama kali ketika melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akrabnya suamiku berinteraksi bersama salah satu penggemarnya di atas panggung. Sebelumnya biasa saja, tetapi sampai pada penggemar wanita tersebut, cemburu yang membabi buta menghantam batok kepalaku dari dalam. Penggemar yang kelihatannya tidak lebih tua dari Jhody-suamiku-itu dengan entengnya mencubit secara tiba-tiba kedua belah pipi lelakiku di depan umum. Tidak cukup rupanya hanya dengan memberi hadiah berupa boneka hati norak warna pink bertuliskan I ♥ U besar-besar.

Cewek lancang! Yang boleh menyentuh suamiku hanya Aku! Ya, aku. Istri sahnya, perempuan pendamping satu-satunya dalam hidup lelaki itu! Tidak tanpa alasan yang jelas seperti tadi.

Sambil bersungut-sungut aku bangun dari bersila dan memungut bantal leher pemberian suamiku yang tidak tahu apa dosanya sampai melayang dengan kecepatan tinggi. Untung benda itu sangat empuk, jadi aku masih kuasa bernapas lega meski barusan melampiaskan kemarahanku pada televisi. Agak cemas juga aku memeriksa permukaan alat elektronik itu, kalau-kalau ada retakan tak terduga. Beruntungnya masih mulus, tidak ada tanda-tanda pecah atau mengalami kebocoran fatal. Huufft syukurlah...

Namun, bukan berarti kekesalanku surut benar. Aku masih menyimpan sekantong amarah dan suamiku itu berhutang penjelasan ketika ia kembali nanti! Tentang siapa penggemar lancang yang telah menyentuh wajahnya saat bersalaman tadi. Lihatlah, aku akan menagihnya nanti. Tunggu saja, Mister Jhody!
*
"Shanaa... aku pulaaanngg!!!" Teriakan itu menyembur bersama sosok tinggi yang menyeruak masuk melalui pintu yang telah kubuka. Tanpa ancang-ancang lelaki itu menghambur dan menarikku ke pelukannya, membiarkan tas ransel masih memberati punggungnya. Aku terdiam meski diperlakukan sehangat itu.

"Shan? Kamu nggak apa-apa kan? Kamu sakitkah?" Sejurus kemudian punggung tangan itu menempel ketat di atas keningku, bermaksud memeriksa suhu tubuhku yang sejujurnya normal-normal saja untuk ukuran manusia sehat. Aku melihat suamiku melakukan hal yang sama pada keningnya, membandingkan kalor yang keluar dari masing-masing kami. Begitu tidak menemukan keanehan, sepasang mata hitam-kelamnya menatapku tanpa berkedip.

"Kok diam? Nggak senang ya suaminya balik? Atauu... oleh-oleh ini kurang banyak?" Dia menunjuk kantong kertas yang berserakan di lantai, di sekitar kaki kami. Ia serta merta membungkuk membuka satu persatu sambil memperlihatkan isinya padaku, berkata aku boleh memilih yang paling disukai sebelum nanti dibagi ke anggota keluarga kami yang lain.

Aku mencegahnya merunduk lebih lama. "Bukan. Kamu udah pulang aja aku senang. Gimana sempat mikirin oleh-oleh."

Tubuhnya tegap kembali, seringaian jahil seketika muncul di wajahnya yang menurut para penggemar mereka masih kalah tampan sama vokalis utama di band, tapi menurutku lelaki inilah yang paling bersinar di antara semuanya.

Aku cuma memasang wajah lempeng ketika suamiku yang berprofesi sebagai musisi itu mensejajarkan wajah kami dalam satu garis lurus sehingga tatapan kami bertabrakan tanpa bisa dicegah. Dalam jarak yang minim pula. Aku berusaha tak memberikan reaksi yang berlebihan mengingat tabiat asli lelaki ini yang bisa dengan mudahnya besar kepala saat tahu aku jatuh pada pesonanya dan tak bisa bangun lagi tanpa bantuannya.

"Kamu bener-bener kangen sama aku ya, sampai nggak bisa berkata-kata sekarang?" Kami sama-sama terdiam beberapa jenak hingga aku mengira ia memberi waktu bagiku untuk menjawab, tapi nyatanya tidak. Ia menyambung, "oke, sebagai ucapan selamat datang sini kasih sun dulu..."

Indonesian CornerWhere stories live. Discover now