Prolog

81 11 4
                                        

Suara indah dengan lirik yang menyentuh dan alunan musik yang lembut di panggung cafe membuat seseorang menjadi merasa nyaman dengan cafe tersebut.

"Nes, kita udahan aja ya," kata Laki-laki berbaju hitam.

Mungkin tidak untuk perempuan itu. Situasi ini yang membuatnya tidak nyaman.

Perempuan itu menundukan kepalanya dan merasakan kekecewaan yang ada di dalam dirinya. Perempuan itu sudah berusaha menyukai laki-laki itu, dan saat dia mulai suka dan menyayanginya dia dikecewakan oleh laki-laki itu.

"Yaudah kalau itu mau kamu," jawab perempuan itu, "ga akan bener juga kan kalau aku maksa ga putus."

"Maaf, Nes."

Perempuan itu menyelempangkan tasnya dan mulai jalan keluar cafe dengan mata yang sudah mulai ingin mengeluarkan air mata. Dia berdiri di halte menunggu angkutan umum yang lewat dengan kepala tertunduknya, "Kecewa," gumamnya.

Waktu menunjukan pukul 8 malam, dan tidak ada angkutan yang lewat. Dia melihat jalur lalu lintas di google mapsnya, "Damn it!, sial banget gua hari ini" seluruh jalan di daerahnya berada hampir berwarna merah semua. "bener juga, sekarang kan malem Senin, pasti lah macet" gumamnya.

Dia duduk di halte sambil menunggu keajaiban datang, "mungkin aja ada yang lewat" pikirnya.

Sudah 30 menit berlalu dia menunggu keajaiban. Dia melihat ke pintu masuk cafe, dan dia melihat teman sekelasnya masuk, Erina namanya. "Ngapain dia kesana,?" pikirnya "oh mungkin janjian sama temennya, dia kan anak tongkrongan jadi wajar."

Beberapa lama kemudian Erina keluar dengan Ricki dibelakangnya. Dia adalah Ricki yang baru saja mengatakan putus pada pacarnya. "sudah ku duga, dia ga baik buat gua." Pikirnya.

"Bodo amat, bodo amat, bodo amat," gumamnya hampir meneteskan air mata sambil memejamkan mata "dia bukan siapa siapa lu lagi nes."

"DOORRR!!" kaget seseorang dari belakang.

"Allahuakbar, kaget gua," omel perempuan itu "Yukkaaaa!, elu yaa! Rese banget, kalo gua mati jantungan gimana? lu mau gantiin gua buat bayar utang-utang gua?."

"Yaelah, Nes. Santai aja kali, lu kenapa disini sendirian?, gua lg sama Ferdy, Guntur. Lu mau ikut? Atau lu mau gua anter pulang?," tawarnya "muka lu kaya muka lg ada masalah Nes, gua anter lu pulang ya, abis itu besok lu harus cerita ke gua."

"Oke oke, nanti gua cerita ke elu. Sekarang anter gua pulang aja ka. Guntur, Ferdy? Mana mereka?." Jawabnya.

"Mereka lagi beli makanan di Green Cafe."

"Oh, gua juga abis dari situ tadi."

"Yukaaa!," panggil orang dari sebrang halte "lu disini?, kita nyari-nyari elu, bego."

"Nah kan, panjang umur, yuk berangkat." Ajak Yukka.

"Kemana anjir?," Tanya Ferdy sambil menoleh ke pinggir Yukka, "ehh? Ada Vanesa?."

Pelangi Tanpa WarnaWhere stories live. Discover now