Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1 | Introducing

4.1K 296 69
                                        

Note:
Profesional itu mencakup tahan banting di kala genting.

"Nama saya Keisha Aulia. Usia 20 tahun. Single. Berpengalaman mengasuh balita selama 2 tahun. Jujur, ulet dan berdedikasi."

Gadis bertubuh mungil dengan rambut lurus sebahu itu berkomat-kamit menghafalkan kalimat perkenalannya di depan pintu gerbang bercat putih sebuah rumah yang menjulang megah di kawasan elit Jakarta Timur.

Harusnya dia tidak gugup. Namun keringat sudah mengalir deras di balik kemeja putih dan rok hitam selututnya yang entah kenapa mendadak terasa sesak.

Rileks Kei! Ini bukan pertama kalinya wawancara kerja kan?! Rileks, stay cool, stay.... Duuuh jadi mules lagi!

Kei menggigit bibir bawahnya. Grogi, walaupun ini bukan pertama kalinya dia melamar pekerjaan. Bukan juga pertama kalinya menjalani profesi sebagai nanny, tetapi rumah yang menjulang dengan arsitektur bergaya Victorian itu sungguh mengintimidasi.

Kembali diingat-ingatnya barisan kalimat info lowongan kerja pada salah satu grup whatsapp yang dia ikuti;

Dibutuhkan segera, suster pengasuh anak yang berpengalaman, jujur, ulet, berdedikasi dan bersedia tinggal selama jam kerja 6 hari seminggu. Gaji pokok UMR dengan bonus dan tunjangan jika lembur. Diutamakan minimal lulusan SMA, single, dan sigap.

Entah bagaimana lowongan itu terasa begitu cocok untuk Kei. Bahkan Bu Hilda, majikannya terdahululah yang mendorong Kei untuk segera melamar.

Menurut Bu Hilda, kualifikasi Kei memenuhi semua persyaratan. Selain itu gajinya pun menggiurkan. Bayangkan saja, gajinya hampir setaraf pekerja kantoran! Bagi Kei yang hanya lulusan SMA, ini seperti durian runtuh. Barangkali, mimpinya untuk menabung uang dan kuliah manajeman bisnis tidak terlalu muluk dengan gaji sebesar itu.

Kei merasa bersyukur mengenal Bu Hilda dan Mei anak balitanya yang imut-imut. Selama ini merekalah keluarga bagi Kei sejak dia lulus SMA dan memutuskan tak lagi tinggal bersama keluarga Tante Irna yang menampungnya setelah kakek meninggal.

Tumbuh besar berdesak-desakan di rumah keponakan semata wayang almarhum kakek sama sekali tidak buruk, tetapi Kei telah lama belajar bahwa menjadi mandiri jauh lebih baik dibanding terus menerus menjadi benalu.

Kei segera menyeka matanya yang memanas sesaat tadi. "Jangan cengeng! Aku Bisa. Pasti bisa. Semangat. Yakin!" Dia mulai berkomat-kamit lagi. "Eh tapi, ulang sekali lagi ah, takut lupa. Nama saya Keisha--"

"Mbak mau sampai kapan berdiri di situ? Masuk Mbak, majikan saya udah nunggu!"

Kei berdeguk kaget, sebuah kepala tetiba melongok dari balik jendela pos satpam di samping pagar. Kei bahkan tak menyadarinya sejak tadi.

"Eh, i..iya Pak, maaf." Kei menyahut gugup, dan seiring itu, pagar besar yang menjulang terbuka otomatis. Membuka jalan, menampakkan isi halaman yang terlindung dari luar.

Whoaaa....

Refleks, mulut Kei menganga. Langkahnya dimulai dengan kikuk dan matanya jelalatan ke seantero halaman yang luasnya lebih dari cukup untuk memindahkan rumah Tante Irna beserta halaman dan tiang jemurannya. Bahkan, rumah Bu Hilda yang selama ini Kei anggap terbesar dan termewah saja kalah telak.

"Besar ya Mbak?" Satpam yang barusan menegurnya berjalan mendekat.

"Eh, iya Pak. Besar banget rumahnya." Kei tersipu, malu sudah ketahuan terpana.

"Ayo Mbak, saya antar ke dalam! Mbaknya mau ngelamar kerja tho?"

"Kok Bapak tahu?"

"Lha iya, dari tadi Mbaknya ngomong sendiri nama saya Keisha, berpengalaman, gitu-gitu. Kan kedengeran lewat intercom Mbak." pria berbadan tinggi besar itu terkekeh. Ramah. Mungkin kumisnya yang lebat dan perawakannya yang sangar itu cuma kamuflase.

"Mbak pasti diterima di sini. Majikan saya bener-bener lagi butuh suster."

Kei mengikuti langkah Pak Satpam sambil menyimak, "serius Pak?"

"Lha iya, Den Vee udah dua minggu nggak ada yang urus. Kasihan."

"Orang tuanya sibuk ya Pak? Anaknya nggak ada yang jaga?" Kei menebak-nebak. Akan tetapi Pak Satpam malah memandanginya prihatin.

"Kenapa Pak, kok ngelihat saya kayak gitu?"

Pak Satpam tak langsung menjawab. Dibukakannya pintu ganda rumah besar itu. Tepat begitu sebuah mainan lego berukuran besar melayang keluar. Mengenai kepala Kei dengan telak.

"NGGAK MAU!!! VEE NGGAK MAU MAKAN SAMA AYAM. VEE MAU MAKAN SAMA ULAT BULU!!!"

Lego melayang dan teriakan maha memekakkan itu kontan membuat Kei shock. Seketika lupa pada kemungkinan kepalanya benjol.

Seorang wanita setengah baya mengenakan daster lusuh tampak kepayahan memegang piring dan sendok sambil terbungkuk-bungkuk mengejar sesuatu yang terhalang di balik sofa berlengan kayu jati.

"Kasih Vee makan terus minum obat Mbok! Saya nggak mau tahu." Seorang wanita lain, lebih muda dengan penampilan berbanding terbalik dari wanita pembawa piring, berjalan ke arah pintu. Lagaknya jelas tak peduli pada kesusahan wanita yang dipanggilnya Mbok atau anak yang disebutnya Vee.

"Kamu siapa?" Tanyanya ketika sampai di depan pintu dan mendapati Kei beserta Pak Satpam yang termangu.

"Ini yang mau lamar kerja jadi suster barunya Den Vee, Nyonya." Alih-alih Kei, Pak Satpam-lah yang menjawab.

Kei cuma mengangguk, agak risih karena nyonya rumah berpenampilan sosialita itu memandanginya dari atas ke bawah, bawah ke atas.

"Oke. Kamu diterima. Urus Veedyatama mulai hari ini!" Kalimatnya tegas, taktis dan tanpa basa-basi.

Kei terkesima. Beberapa detik kemudian baru tersadar untuk mengucapkan sesuatu semacam terima kasih atau lainnya, namun si nyonya rumah kadung berjalan melewatinya begitu saja.

Tanpa sadar Kei mengikuti punggung nyonya itu dengan pandangannya. Tak yakin dengan penerimaan kerja kilat tanpa perkenalan atau wawancara. Padahal Kei sudah berlatih puluhan kali supaya tampil mengesankan.

Meski masih bingung, Kei akhinya mengalihkan tatapannya
dan hampir terjengkang saat mendapati seraut wajah dewasa kini berada tepat di depan wajahnya. Seperti hendak menempel.

"Aarghhh." Refleks Kei menjerit dan mundur beberapa langkah saking kagetnya.

Pemilik wajah itu menatapnya antusias. Wajahnya bulat, bersih, dengan dua bola mata kecoklatan. Tingginya melebihi Kei ketika dia akhirnya berdiri tegak, sampai puncak kepala Kei hanya sejajar dengan dadanya. Lelaki itu luar biasa tampan. Satu-satunya yang mengganggu adalah topi kepala Pikachu yang bertengger di kepalanya dengan kelepak yang menjuntai dililitkannya ke leher. Entah itu topi yang merangkap syal atau sebaliknya.

"Kamu bisa kasih Vee makan ulat bulu nggak?!" Katanya dengan suara kekanakkan.

Kei mengerjap. Blank. Lelaki itu masih di hadapannya, kini malah menarik sudut kedua matanya ke atas hingga tinggal segaris lengkung.

"Kalau nggak ngasih ulat bulu, Vee tembak kamu pake kekuatan laser mata. Ciuung ciiuuung!"

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Kei merasa kepalanya makin pening. Lalu roboh ke lantai. Tak sadarkan diri.

***Bersambung***

Ini edisi revisi ya 😳
Supaya ceritanya lebih solid dan mudah2an lebih yahut.

Story ini didekasikan buat ShinoKei dan biasnya Kim Taehyung aka V (tapi bukan Veedyatama)

Vote dan komennya dinanti selalu, dan apresiasikan setiap story dengan tidak memplagiat kuy. Gag ketjeh kan hari gini masih copy paste 😜

Dah gitu aja
Salam literasi seadem kipas angin dan es kacang ijo
😍😍😍

Bumblevee (KTH)Stories to obsess over. Discover now