Bukan Tentang Mengapa Tapi Bagaimana

27 0 0
                                        

Kehidupan memang tak seindah yang kita bayangkan. Kehidupan tidak semuanya berjalan dengan mulus dan enak seperti dalam pandangan mata orang awam. Yang terlihat diluar seperti berlian namun di dalamnya bisa saja itu hanya sekadar batu biasa yang rapuh dan tak bernilai. Biaya hidup makin mahal di negara ini. Bahkan, di kota yang menurutku belum bisa dikatakan sebagai kota metropolitan. Aku hidup di dalamnya sejak 19 tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu usiaku masih 17 tahun, usia dimana angka itu dipandang sebagai penanda kedewasaan karena saat itu kita telah diakui sebagai penduduk Indonesia. Ya, mendapat Kartu Tanda Penduduk atau KTP merupakan sebuah kebanggan bagi mereka. Hanya bagi mereka, bukan bagiku. Karena dengan atau tanpa KTP pun aku telah hidup di Indonesia sejak lama. Sejak sinetron Tuyul dan Mbakyul masih di putar, sejak sinetron Saras 008 menjadi trend bagi anak zamanku, sejak lagu anak-anak masih diputar di TV. Tidak seperti sekarang saat usiaku 19 tahun hanya ada lagu cinta dan sinetron yang entah apa jadinya jika terus di tonton oleh anak-anak zaman sekarang. Itu namanya pembodohan massal.

***

Pagi ini sangat dingin, kurasakan dinginnya hingga merasuk ke dalam tulang tulang dan sendiku yang nyeri. Ku tarik selimut dan memejamkan mata sekali lagi, namun pikiranku tak bisa terpejam. Rutinitas pagi yang harus kulakukan sebagai individu tunggal yang harus menghidupi diri sendiri di sebuah kontrakan kecil tengah kota. Aku mencuci muka ku dan rasanya ingin tertawa sendiri ketika tanpa sadar aku melakukan sebuah gerakan wudlu. Gerakan ini sudah lama tak mampir dalam rutinitasku. Aku anak yang solehah, aku anak yang rajin, aku anak yang cerdas, aku anak yang berprestasi. Tapi, itu dulu sebelum usiaku mencapai usia mendapat KTP, sebelum bibi yang merawatku nayawanya direnggut oleh kereta api, dan sebelum aku bertemu dengan Mami. Belum lama aku menikmati tawaku ini namun, tiba-tiba suara wanita dewasa yang sedikit cempreng memanggilku dari rumah sebelah. Aku sudah dapat menduga apa yang akan kulakukan. Mengantarkan laki-laki yang hampir bisa disebut kakek-kakek dengan kaki yang pincang satu ke stasiun kereta api. Tentunya lengkap dengan mangkuk kecil bekas mie langsung seduh yang ia pakai entah sudah berapa lama.

"Tuk, sudah berapa lama sih hidup atuk seperti ini?" tanyaku sekenanya karena memang sikapku yang selama ini acuh tak acuh.

"Sejak kakiku pincang dan mataku buta." Kakek ini pun berbicara seadanya kepadaku karena memang kami tidaklah seakrab itu.

"Ah, dan karena itu mami memungutmu ya, Tuk. Tuk Dhalang memang beruntung." Aku tertawa sinis.

Ia diam, namun saat kulirik terlihat senyum simpul yang mengisyaratkan kebahagiaan atau kegetiran atau mungkin keduanya.

Kami sampai di Stasiun, ku antarkan Tuk Dhalang ke pangkalannya. Tentunya, pangkalan meminta belas kasihan orang lain Usai itu, aku kembali ke kontrakan kecilku. Melakukan rutinitas seperti biasa yang jika anak muda zaman sekarang menyebutnya nginem, ngijah, atau panggilan dengan nama babu-bau lainnya. Kusiapkan sarapan untuk Mami, ini memang tugasku setiap paginya sebagai ganti karena kontrakan itu ia biarkan ku tempati dan ia biarkan pula kau membayarnya dengan setengah harga. Aku membayarnya juga baru-baru ini setelah aku lulus SMA dan mendapat pekerjaan. Tentunya bukan seperti gadis-gadis peliharaan Mami yang bekerja setiap malam, melayani para Om-Om yang kesepian, bosan dengan ranjangnya atau mungkin kelebihan uang. Aku bekerja normal di sebuah kafe dekat dengan Salah Satu Universitas Terkondang di negara ini. Bekerja dari pukul 10.00 hingga 22.00 dengan bayaran yang lumayan untukku dari pada setiap malam harus mengangkang dan melayani pria-pria kesepian. Pernah suatu ketika Mami berbicara padaku.

" Em, kenapa harus susah-susah mencari pekerjaan kalau hanya dengan menunggu saja uang akan datang padamu?"

"Aku tidak secantik dan seseksi mereka, Mam. Hahaha." Jawabku dengan nada bercanda. Karena memang aku malas untuk menjawab pertanyaan itu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 03, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Bukan Tentang Mengapa Tapi BagaimanaStories to obsess over. Discover now