Ringtone telepon genggam Alda berbunyi nyaring, membangunkan dirinya dari tidur pulas. Sambil mengucek mata, dilihatnya layar telepon genggamnya menampilkan sebuah nama. Dengan terburu-buru langsung dia angkat.
"Alda!!, e- ini anak, ditelpon dari tadi henteu ngajawab, sare di mobil nya? Kan mamah tos nyarios, teu kenging sare di mobil atuh, banyak copet." Suara nyaring dan cempreng langsung memekakan telinga. Para penumpang lain ikut menoleh, mendengar sebuah suara nyaring yang mengusik mereka.
"Enggak tidur mah, ini Alda asyik baca buku, makanya gak jawab telfon mamah," Jawab Alda mengelak, bisa berabe kalau mamahnya tahu dia tidur di bus. Apalagi Alda belum pernah pergi ke luar kota sendirian.
"Nya tos atuh, ngke mun tos nyampe Jakarta, kabaran mamah nya. Inget, tas, koper, dompet. Teu kenging katinggalan di mobil."
"Iya-iya mah, Alda ngerti," Jawab Alda kesal. Bagaimana tidak, sekarang dia akan menempati bangku SMA, tapi mamahnya masih saja memperlakukannya sama dengan perlakuannya pada Alda waktu SMP dulu.
"Hiji deui. Hati-hati sama tukang hipnotis, di Jakarta mah banyak tukang hipnotis. Nah, ciri-ciri hipnotis itu ya, pakaia.."
"Udah mah, udah. Alda udah ngerti, udah dulu ya," Potong Alda sebelum mamahnya selesai bicara. Jika tidak, bisa sampai lima belas menit lagi baru selesai penjelasannya.
Alda meletakan telepon genggamnya kembali di tas. Memandang keluar jendela. Panas sekali diluar, debu dan sampah menghiasi pandangan Alda saat ini. Ternyata seperti ini keadaan Ibu Kota negaranya.
Laju bus mulai lambat, terminal sudah bisa dia lihat dari balik jendela bus yang ditumpanginya. Pedagang kaki lima, tukang ojeg, sampai pedagang cangcimen ikut meramaikan terminal ini.
Dengan tertib, penumpang bus berjalan melewati ruang yang berada diantara kursi-kursi penumpang. Bergantian menuruni tangga keluar. Alda menggendong tasnya dan menggeret koper besar berwarna pink dengan sedikit hiasan bunga di bagian depannya.
Alda turun dari bus, dengan waspada dia melihat sekitar,berjaga-jaga dari pencopet maupun tukang hipnotis. "Hey" sebuah tepukan mantap mendarat di atas pundak Alda. Sontak membuatnya kaget dan menoleh ke belakang, menemukan seseorang tak dikenal dengan pakaian serba hitam.
"Apakah dia tukang hipnotis?" Tanya Alda dalam hati. Dia melihat lamat-lamat laki-laki itu dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Tidak salah lagi, sepatu kulit warna hitam, celana jeans kedodoran, jaket kulit warna hitam dengan kalung keemasan, ditambah kacamata hitam dan sebuah topi hitam. Alda merinding, dia lari ketakutan menghindar dari laki-laki itu.
"Sudah jauh kan? Dia tidak ngikutin kan?" Alda ngos-ngosan,dia memilih untuk berhenti dan duduk di trotoar mengatur nafasnya. Selang beberapa saat, dia sadar barangnya hilang, lebih tepatnya lupa dia bawa.
"Koper? Koperku? Dimana koperku? aduh. Bajuku, surat-surat penting? Gimana ini," Gerutunya dalam hati. Bingung. "Aaa," Pekik Alda terkejut, saat tepukan keras kembali mendarat di pundaknya, dia menoleh kebelakang dan benar saja, laki-laki yang tadi.
Alda beranjak dan segera berlari, tapi tangannya ditahan oleh laki-laki yang tidak dia kenal itu. "Lepasin!! Lepas atau saya teriak copet!" Ancam Alda ketakutan.
"COPET!!! COPET!!! TOLONG! " Alda berteriak.
"Tenang. Gue cuma mau balikin koper lo doang kok." Laki-laki itu membungkam mulut Alda, sebelum dirinya dikeroyok massa karena teriakanya
Alda diam, menyadari bahwa kopernya benar berada di tangan laki-laki di hadapannya itu. Dengan segala keberanian, dia membulatkan tekad untuk menatap matanya. Kini, tidak ada kacamata di sana, menyisakan dua bola mata yang agak sipit.
YOU ARE READING
Pacar Pertama ALDA
Teen FictionPertama kali memijakan kaki di Jakarta, Alda, remaja asal Bandung yang mendapat beasiswa menganggap Pandu sebagai tukang hipnotis. Hal ini justru mendekatkan mereka berdua, sampai akhirnya bersekolah di sekolah yang sama. SMA Pelita Bangsa. Dia bert...
