1-Persiapan

285 9 8
                                        

Pagi ini berjalan seperti biasa, cicitan burung dan gesekan dedaunan membuat suasana sedikit berwarna.

"Bu, aku berangkat dulu ya"

"Iya, hati-hati, Shasa" ujar wanita paruh baya yang sedang mencuci piring.

"Iya bu, assalamu'alaikum" salamnya lalu mencium tangan ibunya.

"Wa'alaikumsalam"

Gadis dengan rambut yang di kuncir kuda itu keluar dari rumah dan memasuki mobil lalu duduk di kursi penumpang di samping ayahnya.

"Tumben kamu hari sabtu berangkat, bukannya libur ya?" tanya Sambodo.

"Iya, mau persiapin buat acara besok" jawab Shasa.

"Acara apa?" tanya ayahnya lagi.

"Ulang tahun sekolah" jawab Shasa tak menatap ayahnya.

"Kamu lagi baca apa sih? serius banget keliatannya? ayah ajak ngomong aja kamu tetep fokus tuh ke buku"

"Iya deh iya, maaf ayahku sayang..." ujar Shasa, "bukanya mau cuekin ayah, abis novelnya seru sih"

"Kan ayah juga yang beliin. Bagus kan pilihan ayah?"

"Palingan ayah pilihnya ngasal, dan kebetulan aja aku suka novelnya"

"Iya deh iya" serah sang ayah.

++++

"Yah aku masuk dulu ya" Shasa mencium tangan ayahnya saat mobil telah berhenti di depan gedung sekolahnya.

"Iya, hati-hati"

Shasa masuk ke dalam gedung sekolah saat mobil ayahnya sudah pergi dari depan gerbang.

Ia berjalan sambil terus membaca novel Dear Nathan yang ayahnya belikan. Entah mengapa Ia sangat menyukai novel dari cerita di wattpad itu.

"Pengen deh jadi Sal-aws!" Shasa meringis kesakitan saat merasa menabrak sesuatu hingga pantatnya harus mencium lantai keras di pagi hari.

"Ck! siapa yang naruh tembok di sini sih" Ia masih terduduk sambil mengusap keningnya.

"Kak Galih?" ia shock saat melihat ternyata si ketua OSIS lah yang ia tidak sengaja tabrak tadi.

Dengan cepat Shasa berdiri dan membenarkan pakaiannya, "ma-af ngga sengaja tadi," walaupun mereka adalah partner sesama OSIS, apalagi Shasa merupakan wakil ketua, tapi ia merasa gugup jika berada di depan pasangannya itu. Maksudnya pasangan kerjanya.

Shasa semakin khawatir saat Galih belum merespon permintaan maafnya. Shasa mempererat genggamannya pada novel yang Ia bawa tadi.

"Kamu-" akhirnya Galih mengatakan sesuatu. Namun, "Hahaha," Shasa yang melihat pria di depannya tertawa terbahak menjadi semakin bingung.

Apakah dia baik-baik saja? Apakah otaknya sedikit bergeser? Tapi aku menabrak punggunya, apakah berpengaruh ke otak? Atau otaknya ada di punggunya? Ish! Mana mungkin! ngaco aku! Batin Shasa.

"Hahaha... ekspresi lo, Sha! biasa aja kali, gue Galuh bukan Galih" ujarnya masih tertawa.

"Ish Kak Galuh!" ia memukul Galuh pelan dengan novel yang ada di tangannya, "kenapa ngga ngomong dari awal sih?! Sebel deh" ujar Shasa mengerucutkan bibirnya.

TwinDonde viven las historias. Descúbrelo ahora