Satu.

97 8 2
                                        

06.50

Sepuluh menit lagi SMA Yadika akan memulai pelajaran jam pertama. Sebenarnya sudah sejak lima menit yang lalu bel masuk berdering. Sekolah itu menetapkan lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai semua kelas siswa-siswinya harus membaca Al-Quran untuk yang muslim, jika non, ia diharusnya membaca kitabnya sendiri dengan dibimbing guru yang mengajar pada jam pertama.

Arga masih dengan santainya berjalan menelusuri koridor kelas X IPA yang beberapa langkah lagi menuju koridor XI IPA. Dia sengaja berjalan santai mengingat pelajaran di kelasnya yang akan berlangsung yaitu Penjasorkes. Maka dari itu saat ini dia memakai seragam olahraga, bukan seragam batik sepertu yang lainnya. Karena laki-laki jangkung itu malas jika harus berganti baju di sekolah yang nantinya akan ramai dengan siswa yang akan berganti baju juga.

Tiba-tiba dua tangan dari arah berbeda merangkul pundak Arga dengan gerakan mantap. "Sendirian aje Bang?" ucap seseorang dari arah kanan Arga, "mentang-mentang jomblo." sekarang celetuk seseorang dari arah kiri.

Arga terlihat santai melihat kedatangan dua temannya itu. "Human jaman now suka nggak ngaca kalo ngomong, heran."

Sebelah kanan Arga ada seorang laki-laki bernama Jonathan, yang biasanya Arga panggil Jo atau lebih sering Bejo. Sedangkan sebelah kiri ada seorang laki-laki juga bernama Putra, kadang Arga memanggilnya Putri. Tinggi mereka bertiga setara. Tujuan langkah kaki mereka bertiga juga pada kelas yang sama. Yang terlihat membedakan saat ini adalah Jonathan dengan seragam batiknya, beda dengan Arga dan Putra yang memakai seragam olahraga. Padahal mereka bertiga sekelas. Bahkan sudah terlihat jelas dari mereka bertiga Jonathan yang paling menaati tata tertib. Laki-laki yang berbaju batik itu memakai seragam yang seharusnya hari ini dipakai siswa-siswi SMA ini, dan akan berganti baju jika nanti pelajaran Penjasorkes akan dimulai seperti lainnya.

Dua teman Arga itu terkekeh dengan tanggapannya.

"Gue sih ada Bintang," ucap Putra. Bintang yang ia maksud adalah kekasihnya. "Tau dah kalo sebelah lo itu."

"Dih, lo kan juga sebelah Arga." sergah Jonathan.

"Maksud gue sebelah kanan Arga, bego!"

"Lo tadi nggak bilang sebelah kanan yee,"

"Yaelah tanpa gue perjelas kanan-kiri juga Arga ngerti. Emangnya lo, bego."

Tidak terima dibilang bego, Jonathan berkata, "Put, lo kalo ngaca di kaca apa di jamban sih?"

"Di cer-"

Ucapan Putra terpotong dengan Arga yang sedari tadi hanya diam mendengarkan akhirnya mengeluarkan suara. "Bacotnya teman-temanku ini ya Allah."

Kedua teman Arga terkekeh lagi. Hingga tidak sadar mereka bertiga sudah sampai pintu kelas mereka. "Lo mending buruan ganti baju dah, bentar lagi ngajinya kelar nih." lengan Arga menyenggol Jonathan.

"Tau lo, bukannya dipake dari rumah."

"Lah suka-suka gu-"

"Woi!" teriak Arga melerai keduanya. Jika tidak dia hentikan, kedua temannya itu pasti akan beradu mulut bahkan hingga malam. Keduanya mendadak bungkam.

Mereka bertiga memasuki kelas dengan pemandangan seperti Kamis-kamis sebelumnya. Murid yang rajin atau pintar membaca Al-quran, murid yang suka melanggar peraturan atau bandel bermain handphone, dan murid netral hanya mengobrol dengan teman sebangku dan di hadapannya terdapat Al-quran yang menganggur, takut-takut guru akan masuk lalu dengan cepat dan mudah ia membukanya.

Ketiga laki-laki itu berjalan ke arah kursi paling belakang dimana tempat kekuasaan mereka berada. Arga dan Jonathan duduk di paling belakang, dan Putra duduk di bagian meja depannya. Putra sengaja duduk dengan Bagas yang merupakan salah satu murid pintar di kelas itu. Bukan dengan Arga ataupun Jonathan, karena bahaya baginya. Jika dirinya duduk dengan Jonathan, sudah pasti di sepanjang jam pelajaran mereka akan berantem. Bisa-bia mereka akan berkelahi nantinya. Lain dengan Arga, jika dirinya bersama Arga, nanti dia akan menyontek tugas dengan siapa? Otak Arga 'kan sederajat dengan dirinya.

Perfect Game/pendingStories to obsess over. Discover now