25 September 2017, London, UK
Alice's Point of View
"I'll help you remember me, one more kisses all it takes, I'll leave you with the memory..."
Shawn mengarahkan mikrofonnya ke arah penonton. Aku berteriak sekuatku, begitu juga penonton yang lain.
"AND THE AFTERTASE..." teriak kami bersamaan. Lalu kami mulai bersorak lagi dan meneriakkan kata-kata yang sudah pasti tidak akan didengar oleh Shawn.
"THANK YOU SO MUCH GUYS, YOU'RE AMAZING, I LOVE YOU!" ucap Shawn setengah berteriak sambil berjalan mundur, kemudian berlari ke belakang panggung. Aku masih bisa melihat rambut cokelat dan bahunya sebelum akhirnya bayangannya hilang dalam kegelapan.
Beberapa orang di sebelahku menangis. Well, menurutku itu wajar, karena setelah ini belum tentu kau dapat melihat Shawn lagi. Melihat mereka rasanya membuat aku ingin ikut menangis sampai sesuatu terlintas di pikiranku. Yaitu bagaimana aku bisa pulang atau setidaknya keluar dari kerumunan ini.
Sekarang baru terasa bahwa disini sangat sesak. Aku menyalakan ponselku untuk melihat jam. 11.24 PM. Sudah hampir tengah malam.
Aku takut jika tidak ada yang mau membukakan aku pintu saat aku pulang. Terlebih dari itu, aku lelah dan mengantuk. Aku memutuskan untuk bersandar di pagar pengaman. Aku melipat tanganku di dada dan memejamkan mata.
Datang pertama, pulang terakhir, Thanks God.
___________________🍀________________
Shawn's Point of View
"Who is she?" tanyaku pada Andrew saat melihat seorang gadis tertidur pulas di salah satu sofa backstage.
"Dia tertidur di lapangan stadion tadi." jelas Andrew.
"Sudah dibangunkan satpam, tapi sepertinya lapangan jadi kasur yang nyaman untuknya" tambahnya lagi.
Aku mengangguk mengerti dan memberanikan diri menghampiri gadis itu. Aku berusaha mensejajarkan tubuhku dengannya.
Aku tersenyum saat melihat bando bertuliskan "SHAWN" yang dipakainya sepanjang konser berlangsung dan sempat beberapa kali menarik perhatianku. Kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Well, dia cantik.
Aku merapikan beberapa helai rambutnya yang menutupi wajahnya. Tanpa sengaja aku membangunkan gadis itu.
"Hai," sapaku sambil tersenyum canggung. Aku mencoba memasang mimik muka senormal mungkin. Aku takut kalau saja ia langsung menampar pipiku karena jarak wajah kami yang sangat dekat. Ia tersentak dan langsung duduk, matanya membelalak, serta kedua tangannya menutup mulutnya tak percaya. Kemudian aku mengambil tempat untuk duduk disebelahnya.
"Oh, My God..." Ucapnya pelan, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia melihatku dari bawah hingga atas, bahkan sampai dua kali. Apakah aku "seseram" itu? Atau aku "semenakjubkan" itu?
"Hey, chill out" kataku padanya.
Badan gadis itu gemetaran, aku bisa melihat ia mengepal kedua tangannya. Eyy, wait up, apakah ia akan menghajarku? Tidak, ia hanya berusaha untuk mengontrol emosinya. Terbukti bahwa aku "semenakjubkan itu" :)
Aku membenarkan posisi ku, menatap matanya lekat-lekat, berusaha terlihat meyakinkan. Sebenarnya, pertemuan ini sangat awkward, aku jadi ikutan gugup sekarang.
"Inhale... Exhale..." Kataku memberi aba-aba menaik-turunkan tanganku di depan dada.
Ia mengikuti aba-abaku. Aku terkejut saat ia tiba-tiba memelukku sangat erat. Damn it, pelukannya terasa sangat berbeda. Apakah ia bisa merasakan jantungku mulai berdegup kencang sekarang?
YOU ARE READING
Oneshoot story ×SM
FanfictionBerbagai oneshoot Shawn yang mungkin unfaedah karena hasil penggabutan, ada disini :) Happy Reading!
