Naylia Putri

9 0 0
                                        

"Bunda, cepet lah. Naylia nanti terlambat mos nya," ucapku jengkel ditambah lagi dandanan ala-ala ini, menjijikkan.

"Kamu tuh, bawel. Berangkat sendiri napa, gue aja dulu gak manja gitu."

Perkataan Kak Laras yang menjengkelkan. Selalu begitu. Aku benci dia. Kakak yang pintar, percaya diri, dan cantik. Belum lagi rasa sombongnya yang selalu dibanggakan.

"Biar lah. Bunda aja mau, kenapa lo yang rumpik," kataku kesal.

Bunda datang bermaksud melerai kita yang lagi berdebat. Ah, untung saja kalau tidak aku lupa. Jika waktu sudah mepet.

"Kamu itu selalu aja berantem sama adikmu. Rukun sehari aja, bisa ? Bunda capek dengernya"

Rasakan enakkan dimarahi bunda. Kini giliranku mengolok-olok dia, dengan menjukurkan lidah.

"Puas lo, gue dimarahi" kata kak Laras dengan emosi, semakin membuatku gencar menggodanya.

***

Aku melangkah dengan malas, melihat ke sana kemari seperti orang kebingungan. Sekolah yang luas ini, menjengkelkan. Lihat mereka, anggota OSIS yang siap membully murid baru.

Hampir semua siswa menggerumbul di depan mading. Sebab itu, timbul rasa penasaran dihati. Aku menerobos di sela-sela gadis yang lain. Ah, daftar penempatan kelas. Segesit mungkin aku mencari nama NAYLIA PUTRI, ketemu.

Berjalan sendirian itu membuatku kikuk. Apalagi banyak yang menatap ku sinis, tak jarang aku mendengar mereka menilai apa yang ku pakai. Menjengkelkan.

Astaga, hari ini penuh kebusukkan. Dimana kelasku? Aish, bunda bantu Naylia. Sudah dua kali memutari sekolah tapi, aku tak menemukan kelas yang bergugus 4.

Aku tercengat, saat pundakku ditepuk. Saat ku toleh dia Amanda, teman sekelasku dulu ya walaupun kita tidak akrab.

"Nay, gugus berapa?" Tanya Amanda sopan nan ramah. Ish, membosankan aku tau dibalik sikap itu--- dia munafik.

"Gugus 4, lo?"

Ku lihat wajahnya langsung sumringah. Astaga, jangan bilang kita sekelas. Itu menjengkelkan.

"Sama gue juga. Wah, enak ya sekelas lagi kita."

"Iya," jawabku memelas.

Dia menarikku ke kelas atas sebelah kantin. Aish, aku belum menjajak kelas atas yang menyebabkan ku tak bertemu kelas bergugus 4. Saat memasuki
kelas, semua bangku sudah terisi kecuali bangku di baris pertama. Keuntungan besar.

"Nay, duduk sama gue ya?"

"Iya, Nda."

Mataku menatap ke segala arah melihat satu persatu murid di kelad ini. Aish, hampir empat puluh persen, mereka teman sekolah ku dulu. Menjengkelkan.

"Wah, Clara. Kita sekelas sekarang, senangnya," ucap Amanda yang kini menghadap belakang. Aku tak peduli itu.

"Iya, Man. Gak nyangka gue."

"Ih, ada Tania juga. Hai."

Masih ada suara-suara lain yang menjengkelkan. Aku malas mendengar ocehan munafik mereka semua. Lebih baik mendengarkan lagu agar tidak mendengar suara mereka.

Amanda menggoyak-goyakkan bahuku. Dia selalu saja mengganggu, dari dulu.

"Apa sih, Nda?"

"Ayo kelapangan, waktunya apel pembukaan."

Aku mengangguk, melepas earphone kemudian menyusul Amanda yang sedang mengobrol entah dengan siapa, aku tidak peduli.

Upacara pembukaan MOS itu membosankan. Pembina yang mengoceh a sampai z. Murid yang asik mengobrol sendiri. Unfaedah sekali. Aku, satu-satunya yang mendengarkan ocehan, kepala sekalah yang berwajah badut itu.

"Nayla, jangan diam kesabet loh nanti," kata gadis berkepang dua, ah semua di sini berkepang dua. Aku menatap wajahnya sebentar, kemudian beralih ke papan nama yang targantung di dadanya, tertera nama Clara Kananti.

"Eh iya, lagi sariawan. Jadi, males ngomong," alibiku yang waw, dia percaya begitu saja. Dasar, gadis polos. Tunggu, dia berbeda dari yang lain aku menyukai sifatnya.

"Oh, yaudah. Kasih abotil aja biar sembuh," saran Clara disertai senyum yang tulus, "Oh ya gue, Clara. Kita belum sempat kenalan kan?"

Aku tersenyum, mengulurkan tangan kanan, "Naylia, jangan panggil Nayla lagi, ya"

Dia tertawa, "salah ya? Aduh malu."

Semuanya bermulai dari situ. Pertemanan ku dengan Clara, gadis hiperaktif yang ceria ya walaupun sering marah-marah enggak jelas. Sering menasehatiku dengan berbagai cara, entah itu membentak ataupun sindiran yang tidak bermanfaat. Namun, aku menghargai semuanya.

NaylaraStories to obsess over. Discover now