Seorang anak perempuan berusia kisaran sembilan tahun menggunakan baju rajut merah maroonnya, tak lupa celana jeans hitam sedang duduk dengan manisnya, disebuah kursi pada suatu acara. Rambut sebahu yang membingkai wajahnya, dengan senyum yang tak pudar diwajahnya, hingga binar mata yang membuatnya semakin menggemaskan itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya hingga matanya terhenti pada satu arah.
Diseberang deretan kursi yang anak perempuan itu duduki ada sebuah keluarga lengkap dengan ayah, ibu, seorang anak laki-laki yang berumur kisaran sepuluh tahun dan adik perempuannya yang berusia kisaran 5 tahun. Mereka nampak menikmati acara tersebut. Tapi tidak dengan anak laki-laki itu. Sepanjang acara dia hanya memasang wajah datarnya dan terkesan sangat cuek. Dia hanya menatap lurus ke depan tanpa terlihat tertarik dengan acara yang sedang berlangsung.
Jika dilihat dengan seksama, anak laki-laki itu memiliki tubuh yang tinggi. Wajahnya yang tampan lengkap dengan raut datarnya, membuat ia tampak menonjol untuk anak seusianya.
Anak perempuan itu untuk kedua kalinya menatap dengan malu-malu ke suatu arah. Ya, sedari tadi yang ditatap oleh anak perempuan itu adalah seorang anak laki-laki yang duduk diseberang deretan kursinya.
Acara yang berlangsung dengan meriah pun tak bisa mengalihkan pandangan anak perempuan itu. Beberapa detik anak perempuan itu mengalihkan pandangannya ke depan agar anak laki-laki itu tidak mengetahui bahwa ia sedang menatapnya. Lalu saat ia merasa aman ia akan mengarahkan pandangannya dengan malu-malu kearah anak laki-laki itu, begitu seterusnya.
Hingga saat ia mengarahkan pandangannya untuk ke sekian kalinya, pandangan mereka bertemu. Anak perempuan itu terdiam ditempatnya, terlihat nampak terkejut karena pandangan mereka bertemu. Disisi lain, yang ditatap hanya memasang wajah datarnya dan dengan tidak peduli memutuskan pandangan mereka dan mengalihkan pandangannya kedepan.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya acara itupun berakhir. Para tamu undangan pun perlahan bubar. Anak perempuan itu menatap kearah kursi yang ditempati oleh anak laki-laki itu. Namun yang ditemukannya hanya kursi kosong yang telah ditinggalkan pemiliknya. Anak perempuan itu mengedarkan pandangannya untuk mencari anak laki-laki itu. Namun hasilnya tetap sama, anak laki-laki itu telah pergi.
Tersirat kesedihan dihati anak perempuan itu yang awalnya menghangat karena kehadiran anak laki-laki itu. Namun tanpa ia sadari, ada sebuah senyum simpul yang terbingkai diwajahnya saat memikirkan perjumpaan singkatnya dengan seorang anak laki-laki yang tak pernah ia ketahui namanya itu.
-●-●
Reupload story from 28 Maret 2018.
Have you enjoy this story ^_^
Salam Pena, 30 April 2020.
YOU ARE READING
(N) E V E R
Teen FictionPerasaan mencintai dan dicintai adalah anugerah Tuhan, dimana setiap manusia bisa merasakannya. Cinta bisa datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Hanya akan ada dua akhir untuk setiap kisah cinta... Never (Tidak akan pernah bersatu) Atau Ever...
