Bagaimana rasanya menjalankan hubungan jarak jauh? Bagaimana rasanya harus menahan rindu setiap malam yang hanya bisa disembuhkan oleh sebuah pertemuan kecil melalui video call? Bagaimana rasanya menahan jutaan rasa penasaran? Bagaimana rasanya menahan ribuan cemburu setiap harinya? Bagaimana dan masih banyak bagaimana lainnya lagi yang terlintas di pikiran Aby saat ini.
Gadis itu sedang menghabiskan libur hari Minggu di rumah salah satu sahabatnya. Seperti biasa mereka akan berkumpul sekedar ngobrol atau nonton film ditemani bersama makanan atau jajanan snack kesukaan mereka. Tapi kali ini, Aby sama sekali gak tertarik sama makanan atau bahkan film yang sedang ditonton serius oleh 2 sahabatnya itu.
Dan kedua sahabatnya itupun menyadari keanehan yang terjadi pada Aby. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Sampai salah satu dari mereka mengeluarkan suara memecahkan suasana.
"Ab, lo dari tadi kenapa, sih? Gak kayak biasanya lo diem aja kalo lagi ngumpul sama kita," suara Callysta berhasil membuyarkan lamunan Aby.
"Berisik, ah. Gue lagi bingung tau," Aby langsung meneguk segelas jus mangga kesukaannya yang ada di nakas sebelahnya.
"Ih, tumben banget seorang Aby bisa bingung. Apa coba yang bikin sahabat cantik gue ini jadi bingung?" Callysta bangun dari posisi telentangnya dan duduk di sebelah Aby sambil menyenggol bahu sahabatnya itu.
"Iya, Ab. Apaan sih yang bikin lo bingung, sampe bikin gak konsen gitu nonton film. Boro-boro fokus sama film, ciki aja sampe lo buang-buang gitu, gak lo makan." Janeet ikut duduk di sebelah Aby dan merebut ciki yang tadi di pangkuan Aby berpindah ke tangannya.
"Hmm... gue... sebenernya..." Aby menimbang-nimbang ucapannya sambil memandangi kedua sahabatnya secara bergantian.
"Ih, mulai deh gak jelasnya. Kalo ngomong itu yang bener, Aby!" gerutu Callysta yang sudah tidak sabar.
"Sabar, Cal! Lo gak tau apa, gue nih lagi gugup. Gue bingung banget!" dan satu jitakan berhasil mendarat di kepala Callysta.
"Iya, iya. Abisan lo bikin kesel sih ngomong digantung kayak gitu. Digantung itu gak enak, Ab." Sahut Callysta sambil mengusap-usap kepalanya.
"Yeee, dasar lo korban perasaan! Udah taken aja ngenes begitu. Amit-amit deh gue." Komentar Janeet yang masih sibuk dengan cikinya.
"Yeee, biarin aja kali. Dari pada lo, udah mau kelas 12 masih aja jomblo. Kasian deh, masa-masa sekolahnya gak berwarna. Cuma diwarnai oleh caci dan makinya Pak Uus. Weekk," balas Callysta sambil menjulurkan lidahnya masih gak mau kalah.
"Huuush! Udah, udah. Kalian pada mau tau cerita gue gak sih? Kalo gak mau, gak usah ribut. Bikin gue tambah pusing aja," Akhirnya ucapan Aby membuat kedua sahabatnya itu berhenti meledek satu sama lain dan kompak bungkam seketika.
"Jadi, ceritanya Aby kesayangan kita ini lagi bingung kenapa, sih?" suara sok imut itu dibuat-buat oleh Callysta sambil memeluk sebelah tangan Aby dan mengunyah ciki dalam mulutnya.
"Jadi, yang dari tadi bikin gue bingung itu adalah, Arkan." 3 detik terdiam, Aby menghela nafas. Sedangkan kedua temannya hanya mematung tak mengerti maksud dari ucapan Aby. "Kalian tau kan, kalo Arkan udah kelas dua belas? Dan itu artinya sebentar lagi dia bakal lulus," lanjut Aby setelah dikira dirinya sudah bisa lanjut bercerita.
"Ya terus, kalo udah lulus kenapa, Ab? Bagus dong, jadi gak perlu ribet belajar lagi kayak kita."
Plakk. Satu jitakan berhasil mendarat lagi di kepala Callysta.
"Sakit tau, Janeet! Jahat banget sih, sama Camila Cabello!" lagi-lagi mulut asal bicara Callysta itu malah membuatnya merasakan jitakan lagi.
"Bukan gitu, Cal. Masa lo gak ngerti, sih? Kan lo juga punya pacar kelas dua belas. Siapa tuh namanya? Jas, jas itu lah, pokoknya."
VOCÊ ESTÁ LENDO
Long Distance Relationship
Ficção AdolescenteBiasanya Aby selalu menghabiskan waktunya bersama Arkan di sekolah bersama-sama. Tapi lalu Arkan lulus dan harus melanjutkan studi di luar kota. Lantas apa yang terjadi selanjutnya pada hubungan dua remaja ini? Apakah hubungannya akan berhasil atau...
