Bukan tanpa alasan Lucy melakukan semua ini. Menjalani kehidupan malam sebagai pemberi hiburan bukanlah hal yang akan ia lakukan secara sukarela. Ia bertahan menghadapi kerasnya kehidupan di rumah bordil karena ia memiliki satu tujuan. Berharap akan keajaiban dari Yang Kuasa meski dirinya begitu hina.
Kesembuhan sang adik.
Ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga akibat bencana yang menimpa keluarganya. Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya mengharuskannya berjuang demi Judith, sang adik.
Hanya Judith yang selamat dari kejadian naas itu. Namun sayangnya, hari demi hari dilewatinya dengan terbaring koma di ranjang pesakitan.
Malam ini, Lucy kembali tampil sebagai primadona di rumah bordil milik Tante Jolly. Dress merah maroon dengan potongan punggung rendah telah membalut tubuhnya. Sepatu stiletto dengan warna senada melengkapi penampilannya. Make up tipis yang dibubuhkannya menambah kecantikan alami yang memang telah menjadi karunianya sejak lahir.
Lucy bukanlah tipikal pelacur pada umumnya. Ia anggun. Berkelas. Elegan telah menjadi nama tengahnya. Begitulah Tante Jolly kerap memujinya. Hanya orang-orang berdompet tebal yang mampu menggunakan jasanya.
Dan jangan lupakan satu lagi bakat alami Lucy. Ia pandai berakting.
Seperti halnya saat ini. Ketika ia akan diperkenalkan dengan pelanggan baru sang mucikari.
"Sayang, jangan lupa ya yang Tante bilang. Tamu kali ini spesial. Dia berani membayar lebih dari tarif normal kamu. Jadi Tante harap dia akan jadi tamu tetap kita." Ucap Tante Jolly sambil membimbing Lucy menuju salah satu ruangan di club tersebut.
"Memangnya kapan aku pernah kecewain Tante?" Sahut Lucy dengan tenang. Sejujurnya Lucy merasa gelisah malam ini. Entah kenapa firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Namun cepat-cepat ia menepis pemikiran buruk itu dan memasang senyum menawan di wajahnya ketika Tante Jolly mengetuk pintu bertuliskan VIP tersebut.
Sepandai-pandainya Lucy berakting, ia tetap gagal menahan ekspresi terkejutnya ketika melihat sosok yang membuka pintu tersebut. Pria yang menangani kondisi adiknya adalah tamu spesial yang dimaksud Tante Jolly?
"Lucy, ini Brian, tamu spesial kita. Selamat bersenang-senang ya Brian, Lucy." Tante Jolly pun langsung meninggalkan Lucy di hadapan Brian.
Brian yang sadar bahwa Lucy masih menatapnya tak percaya membuka percakapan di antara mereka.
"Apa ini yang dilakukan seorang primadona? Hanya memandangi tamunya saja?"
"Ah.. Maafkan aku. Aku hanya kaget melihat dokter dengan segudang kesibukannya sempat mampir ke tempat ini." Ucap Lucy sambil memasuki ruangan besar yang lebih menyerupai kamar love hotel tersebut.
"Oh ya? Aku pikir kau terpesona padaku." Ucap Brian sambil memeluk Lucy dari belakang.
Seketika suara tawa lembut Lucy mengisi indra pendengaran Brian.
"Sayangnya, dok. Pekerjaanku menuntutku untuk tidak melibatkan perasaan semacam itu."
Lucy berbalik menghadap Brian. Melihat wajah Brian sedekat ini membuat Lucy sadar bahwa Brian memang mempesona. Garis rahangnya yang tegas membuat Lucy tak tahan untuk membelainya lembut.
"Apa yang membawamu hingga terdampar di sini?"
Pertanyaan itu membuat Brian tersenyum. Ia menikmati sentuhan Lucy di wajahnya.
"Kau?"
Lagi-lagi Lucy tertawa.
Bagaimana mungkin seorang pria seperti Brian datang ke tempat seperti ini hanya karena dirinya. Lagipula pasti banyak wanita di luar sana yang bersedia menghangatkan ranjang Brian secara sukarela tanpa ia harus mengeluarkan uang.
Lucy mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Brian.
"Apa kita hanya akan mengobrol?"
Lututnya secara provokatif menyentuh titik di antara paha Brian yang ternyata sudah terbangun. Membuat Brian menyurukkan wajahnya di lekukan leher Lucy. Menikmati aroma dan kehangatan yang menguar dari wanita di hadapannya.
"Luce.."
"Hmm?"
"Tidakkah kamu berpikir bagaimana perasaan adikmu jika sadar nanti dan melihat kakaknya melakukan pekerjaan ini?"
Pertanyaan yang meluncur dari bibir Brian membuat tubuh Lucy menegang. Namun ia masih berusaha menutupi kegugupannya. Ketimbang menjawab pertanyaan itu, Lucy lebih memilih mengangkat kepala Brian dari bahunya dan mencari bibir pria itu.
Untuk sesaat Brian terkejut dengan tindakan Lucy. Namun ia tak kuasa menolak ketika Lucy mulai bermain dengan bibirnya. Suasanapun semakin memanas ketika lidah mereka bertemu. Saling membelit dan mengecap membentuk tarian erotis.
Tangan Brian pun menangkup bokong Lucy. Menuntun kedua kaki Lucy untuk membelit di pinggangnya. Brian bergerak menuju ranjang tanpa sekalipun melepas ciuman di antara mereka.
Sesampainya di ranjang, Brian membaringkan Lucy dengan lembut. Seolah-olah Lucy adalah porselein mahal yang harus diperlakukan hati-hati. Ia menumpukan kedua sikunya di sisi kepala Lucy. Tidak mau wanita itu terbebani dengan bobot tubuhnya.
Ditatapnya kedua manik mata Lucy seraya berkata,
"Aku serius dengan pertanyaanku Luce. Bagaimana jika kukatakan bahwa adikmu sudah sadar?"
*****
Hai, ini kisah romance pertama yang aku buat. Gimana pendapat kalian? Tlg jgn jadi silent reader ya.
Aku juga mau ingetin lagi, ada beberapa chapter yang akan diprivate. Buat yg blm cukup umur, tolong jgn maksa baca.
Sekali lagi aku tunggu vommentnya dan c u on the next chapter..
YOU ARE READING
IRONY of FATE
RomanceAdult story. Beberapa chapter diprivate secara acak. Semua berjalan biasa saja. Hari-harinya di kantor pun berjalan seperti biasa. Namun dalam waktu kurang dari 24 jam, semuanya berubah... Rencana liburan keluarga yang berakhir dengan kematian kedua...
