Gadis cantik itu kembali mengusap air mata. Ia sangat membenci cerita hidupnya. Selalu seperti ini. Jika tidak diharapkan orang yang dia cintai, pasti akan ada orang yang paling berharga tak suka keberadaannya jika dekat dengan orang yang dia cintai. Mengapa cintanya harus serumit ini?
"Berhentilah menangis, beb. Gue gak suka melihat lo serapuh ini."
Bukannya berhenti, tangis itu malah semakin kencang terdengar. Rasa sakit, kecewa, marah, lelah dan emosi yang tak tersalurkan, membuat tangisnya tak dapat mereda.
"Apa salah gue, Sa? Sedikitpun gue gak pernah mengusik atau membenci orang lain. Menaruh dendam pada mereka pun, tidak. Tapi mengapa mereka tak pernah memberikan gue kesempatan bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang gue cintai?" ucapnya getir.
Perempuan yang dipanggil Sa itu tidak berkomentar apapun. Dia sadar, sahabatnya saat ini hanya membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesahnya. Karena sudah cukup lama sahabat terbaiknya ini selalu memendam perasaannya seorang diri.
"Lepaskan bila itu menyakitkan, Nay. Biarkan semua lenyap seiring air mata yang mengalir."
Rhaysa memeluk tubuh Nayyara begitu erat. Seakan menyalurkan segala kekuatan untuk sahabatnya ini. Rhaysa tau, beban yang dialami Nayyara tidaklah ringan. Apa yang paling menyakitkan selain tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu?
"Berhentilah Nay. Jangan berjuang lagi. Karena diri lo terlalu berharga untuk mereka sia-siakan. Biarkan mereka menyesal karena menolak lo saat ini. Gue yakin akan ada seseorang yang memperjuangkan lo untuk tetap di dalam hidupnya."
"Untuk apa gue berhenti Sa? Gue bahkan belum memulainya sama sekali," lirih Nayyara pilu.
Tanpa Rhaysa sadari, ia mengepalkan tangan kanannya. Ikut merasa emosi saat melihat sahabatnya sangat rapuh dihadapannya. Karena yang ia tau, Nayyara tidak pernah serapuh ini. Bahkan saat kedua orangtuanya membuangnya dulu dan lebih memilih mempercayai anak pungutnya.
Dalam hati Rhaysa bersumpah. Mereka akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan Nayyara. Rhaysa sangat sakit melihat sahabatnya seperti ini. Ia masih bangkit saat sakit hati setelah menyadari bahwa sahabatnya tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar itu. Tapi saat kehadiran Syafiq membuatnya bangun dari mimpinya terhadap Barra, nyatanya takdir tak lagi berpihak pada gadis cantik itu. Keluarga Syafiq tak ada yang menyukai Nayyara karena asal-usul yang tidak jelas. Lebih parahnya lagi, Nayyara harus melihat secara langsung bagaimana Syafiq menyerah pada keputusan orang tuanya yang menjodohkan dia dengan saudari tirinya sendiri. Anak yang diadopsi oleh orang tuanya.
Rhaysa mencibir saat mengingat bagaimana sikap orang tua Nayyara yang seakan tidak memilih anak kandungnya sendiri. Bahkan mereka tak pantas disebut orang tua. Rhaysa yakin mereka akan menyesal cepat atau lambat. Dan yang pertama merasakan penyesalan itu adalah Barra. Sahabatnya juga yang tuli terhadap perasaan Nayyara. Hingga perempuan cantik ini harus menanggung akibat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah ini kamu harus makan ya Nay. Karena kamu tidak hidup untuk dirimu sendiri."
Seakan sadar apa yang dikatakan sahabatnya, secepat itu pula ia berusaha menghentikan tangisnya. Untuk apa ia menangis? Setelah ini ia tidak akan sendiri lagi. Ia yakin akan ada yang mengharapkan kehadirannya. Sama seperti Rhaysa yang tidak pernah meninggalkannya sendiri. Dan Nayyara yakin, ia akan bahagia setelahnya.
Karena bahagia dibuat oleh diri sendiri. Mereka dan segala hal yang ada di dunia hanya sebagai faktor pendukung untuk menciptakan kebahagiaan dalam hidup
@dindaamaliandha
Selasa, 19 September 2017
07:03
YOU ARE READING
Menanti Sebuah Jawaban
Short StorySebuah karya dari salah satu crew SN Mengisahkan seorang perempuan yang terjebak dalam friendzone. Kisah klasik yang mungkin sering diceritakan banyak orang. Kisah yang juga mungkin sudah banyak pasang manusia yang mengalaminya. Ini cerita tentang...
