"Padi, bekasnya harus di cuci!"
"Padi, gulung lalu masukkan ke plastik,"
"Padi, jangan buang pembalut sembarangan!"
Padi, Padi, dan Padi. Aku muak dengan ocehan-ocehan Mam, yang selalu saja mengaturku ini itu saat aku sedang datang bulan.
"Mam, ngapain harus dicuci sih. Kan nanti juga dibuang," aku memutar bola mataku malas.
"Ya, harus dicuci atuh, Nak. Kalau gak dicuci, kamu mau darahnya disedot setan?"
Saat mendengar perkataan Mam, aku melongo kaget dan tak percaya. Bagaimana bisa, hari gini masih percaya mitos-mitos gak high macam itu. Tentu saja, aku gak percaya sama mitos itu. Lagian Mam kan orang jadul, pantas saja kalau dia masih percaya hal macam itu. Pikirku.
Kami yang sedari tadi mengobrol di dapur, kini Mam pergi dari dapur dan berjalan meninggalkanku. Aku yang memang tadinya berniat untuk mengganti pembalutku, hanya melihat punggung Mam yang kini semakin menjauh dengan senyuman licik.
"Mumpung Mam udah pergi," ucapku sambil mengangguk. Lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Lima menit berlalu, kini aku keluar dari kamar mandi dengan menenteng plastik berwarna hitam. Isinya tentu saja pembalut. Jika kalian tanya, apakah aku mencuci pembalut itu? Dan jawabannya tentu saja 'Tidak'.
"Males banget yekan kalau aku harus repot-repot nyuci beginian," aku berjalan mendekati tong sampah.
"Ujungnya juga lo dibuang,"—ucapku pada sebuah pembalut, lalu melemparnya dengan kasar ke dalam tong sampah, "bye pembalut sialan!"
**
Malam itu aku terbangun dari tidur. Aku hendak beranjak ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Sesampainya di dapur, aku langsung meneguk air putih itu karna haus.
Grasak grusuk krresshhh skskskhhh
Saat aku minum, terdengar suara grasak grusuk seperti suara keresek plastik. Aku menoleh ke belakang, dan ternyata sumber suara itu ada di dekat tong sampah, "Mungkin tikus," pikirku.
Kresaahhhh krkrkrknsnh
Suara itu terdengar lagi dari indera pendengaranku. Namun kini aku merasa, bulu kudukku berdiri. Dengan secepat kilat aku menoleh lagi ke arah tong sampah itu.
Dan zonk! Aku melihat–sesosok–perempuan–berbaju putih dan berambut panjang. Dan, dan, saat aku melihat ke arah kakinya ternyata tidak menapak. (Baca pake nada nightmare ala ArdanFM).
Dan yang sangat membuatku shock adalah, ia terlihat sedang memakan pembalut yang aku buang tadi siang.
Rahangku mengeras, badanku terasa kaku, dan gemetar. Bercucur keringat dingin dipelipisku. Dan rasanya aku ingin ka–kabuuuuuuur!
Tanpa ba-bi-bu aku langsung lari mengacir dengan sangat cepat.
"Padi, mau kemana kamu.. Aku Lisa, baru mati kemarin sore...aku haus..aku lapar...ingin menyedot darahmu.." dengan suara serak dan terbata-bata.
Seketika aku terhenti dari pelarianku. Bulu kudukku semakin berdiri, hembusan angin saat ini terasa begitu menusuk, kakiku sangat gemetar dan aku tidak bisa mengontrolnya. Hingga celanaku kini terasa hangat, dan....
"Ha..mam..mam.."
"Padi takut,"
"Mam tolong Padi mau disedot Lisa,"
"MAAAAAMMMM!" aku terbangun dan berteriak sangat kencang dengan napas ngos-ngosan dan keringat dingin yang mengucur.
Rupanya aku hanya mimpi. Kemudian tanganku tertempel pada sprai kasurku, basah dan hangat.
"MAM PADI NGOMPOL LAGI HUEEE,"
**
Cast FangirlDetected94 sebagai Padi a.k.a Fadillah Aulia dan dreamer926 sebagai Hantu Lisa.
#RebellionID
YOU ARE READING
Coretan Absurd
Humor#428 Dalam Humor [30-08-17] Kumpulan Drabble dengan sentuhan humor. Happy Reading #TrueShortStory #RebellionChallenge
