Olivia bersyukur masih dapat melihat pagi yang indah. Kesejukan, satu-satunya yang selalu ia dambakan pada tiap pagi harinya. Kicauan burung yang membuatnya ceria, sinar matahari yang menerobos ventilasi jendela yang terasa hangat serta menyilaukan matanya yang berbinar selalu membuatnya jatuh cinta pada pagi hari. Ia merupakan wanita cantik dan mapan berusia 27 tahun yang bekerja sebagai desainer di salah satu kota besar dan bising tempat tinggalnya.
Saat ini, ia sedang berlibur yang entah sampai kapan, di salah satu villa milik orangtuanya di sebuah kota kecil dekat lembah yang dipenuhi pepohonan dan padang rumput menghijau serta ditumbuhi bunga-bunga liar nan indah, salah satu tempat favoritnya. Ia berlibur hanya bersama adiknya, Audy yang sekarang sedang duduk di bangku kuliah jurusan musik, salah satu hobinya, walaupun ia jarang sekali menghadiri kelasnya.
“Lo nggak jalan-jalan keluar, Kak? Ini kan pagi. Jangan cuma mantep disini doang kali, makin suram aja hidup lo. Cari pacar gih, lo kayak gak kenal lagi sama cinta.” Begitulah cerewetnya Audy yang selalu mengingatkan Oliv untuk mencari pacar.
“Males ah, mendingan nonton tv.” Jawab Oliv santai dengan ekspresi datar.
Ekspresi wajah Audy semakin terlihat sebal terhadap kakaknya, “Ihh, dasar.. Kapan sih lo mau ngelupain Reza? Lagian, disana dia pasti pengen ngeliat lo bahagia sama orang lain. Bukannya terpuruk karena kepergiannya.”
Oliv sekarang terlihat sangat marah dengan perkataan adiknya, “Bisa nggak sih lo biarin gue mikir sendiri?” Kedua mata Oliv mulai berbinar seolah ingin menangis, tetapi ia mencoba menahan, “Gue.. lagi nyoba buat ngelupain dia, tapi.. Gue nggak mau dia ngerasa terkhianati, Dy!” Airmatanya mulai mengalir.
Tiba-tiba Audy duduk disebelah Oliv dan langsung memeluknya yang sedang menangis, ”Maafin gue, Kak. Bukan maksud gue..” Audy merasa sangat menyesal. Tapi, dia tetap bersikeras untuk membantu kakaknya untuk bangkit dari masa lalunya, Reza. “Tenang, Kak. Gue Cuma pengen bantu lo, balikin senyum lo kayak dulu sewaktu masih ada dia.”
“Gue ngerti kok. Gue sayang lo, Dy..” Kali ini Oliv berkata dari lubuk hatinya yang paling dalam.
…
Menikmati indahnya kalung liontin berpatrikan namanya dan Reza yang sekarang sedang ada ditangannya, Olivia seakan terseret kembali ke masa lalunya ketika Reza, kekasih yang amat dicintainya masih hidup dan sehat. Saat itu ia kembali ke suatu momen dimana ia bertemu dengan Reza untuk pertama kalinya. Olivia sedang memilih-milih kue di salah satu toko kue favoritnya di Bandung. Ketika itu, ia membawa nampan yang diatasnya sudah ada 2 buah tiramisu kesukaannya. Tiba-tiba, seorang pria menabraknya dengan tidak sengaja sehingga ia terjatuh hingga berlutut agar nampan yang dipegangnya tidak terjatuh.
“Maaf, gue nggak sengaja nabrak lo.” Reza ikut berlutut untuk menolong Oliv yang masih terpaku sambil melihatnya dengan melongo.
“Aduh, lain kali hati-hati dong!” Oliv langsung berdiri dan membersihkan lututnya, yang sekarang sedikit lecet gara-gara terjatuh.
“Iya, maaf sekali lagi. Gue mau buru-buru.. Mau nembak cewek yang gue suka, dia ada di café deket sini. Gue kesini mau beliin dia cheesecake. Katanya dia suka cheesecake.” Reza mengatakannya dengan sedikit nada ragu-ragu.
Oliv merasa ia sedang berhadapan dengan seorang anak ABG labil, yang sedang merasakan cinta monyet yang serius. “Hellooo.. Katanya? Sini, ya.. Gue kasih tau, kalo lo mau nembak cewek, harusnya lo mastiin dulu apa yang dia suka. Tindakan lo ini bakal bikin dia mikir bahwa lo nggak bener-bener merhatiin dia. Tapi, good luck! Semoga lo diterima.” Dengan sangat berharap, Oliv memberi semangat kepada seorang pria yang sebenarnya tidak dikenalnya sama sekali. Tapi, ia sangat tulus dan berharap pria yang sepertinya romantis yang sekarang ada di depannya tidak cepat punah. Karena jenis pria seperti ini sangat jarang ditemukan.
“Oke, semoga kita bisa ketemu lagi.” Reza langsung pergi.
“See you..!” Balas Oliv.
…
Ketika sedang melihat-lihat etalase sebuah butik, secara tidak sengaja, Oliv melihat bayangan seseorang yang tidak asing lagi untuknya, dikaca etalase. Cowok yang tadi menabraknya di toko kue. Ia sedang duduk lesu di salah satu food court yang berjejer di depan butik. Lalu, Oliv langsung bergegas mendatanginya, dengan tanpa basa-basi langsung duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Lalu, menyapa.
“Hei!” Oliv menyapanya seakan-akan mereka adalah sahabat lama yang sudah puluhan tahun tidak pernah bertemu.
“Hei.”
“Gimana? Diterima nggak?” Oliv bertanya dengan nada sedikit mengejek yang sepertinya diketahui oleh Reza.
“Lo liat aja muka gue. Menurut lo?” Reza tampak kesal dengan pertanyaan cewek didepannya yang sebenarnya sama sekali belum ia kenal, “Dia nggak suka cheesecake.”
Oliv tersenyum kecil, “Apa yang udah gue bilang tadi.. Jangan pernah mengandalkan kata ‘katanya’, apalagi untuk urusan cewek.” Lalu, Oliv tertawa kecil yang membuat ekspresi wajah Reza semakin datar.
Kemudian, mereka berdua saling berkenalan dan terlibat percakapan yang membuat mereka lupa akan waktu sehingga mereka tak sadar bahwa hari sudah mulai gelap dan turun hujan. Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka kemudian bertukar nomor ponsel. Karena hujan terlihat semakin deras, Reza berniat mengantarkan Oliv menggunakan mobilnya dan langsung diiyakan Oliv tanpa keberatan.
°°°°
YOU ARE READING
Olivia: Her Fate and Faith
Teen FictionBagi Olivia, mencintai seseorang hingga tidak ingin mengkhianati adalah hal yang benar. Namun, apakah mencintai seseorang seperti itu, walaupun sudah ditinggalkan untuk selamanya, masih bisa dibenarkan? Akankah Olivia mampu meyakinkan dirinya untuk...
