Alvero Atharvain Santrya selalu hidup di dunia yang sempurna.
Dokter spesialis anestesi dari keluarga pemilik Santrya Medika Group itu dikenal dingin, tenang, dan gak pernah gagal mengendalikan hidupnya sendiri. Di balik jas dokter dan wajah sempurn...
Cahaya lampu gedung-gedung tinggi kawasan Sudirman memantul samar di atas jalanan basah ibu kota, sementara suara sirine ambulans terdengar bersahutan di tengah lalu lalang kendaraan yang belum benar-benar sepi meski waktu telah melewati tengah malam.
Di antara deretan bangunan mewah yang berdiri di pusat kota, Santrya Hospital tampak paling mencolok malam itu.
Gedung rumah sakit elite dengan dominasi kaca hitam dan pencahayaan putih dingin tersebut berdiri megah di tengah hujan, terlihat tenang dari luar, seolah tidak ada apa pun yang sedang terjadi di dalamnya.
Padahal beberapa lantai di atas lobby utama rumah sakit itu...
kekacauan baru saja dimulai.
Suasana lantai VIP terlihat jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Langkah kaki para dokter dan perawat terdengar terburu-buru memenuhi koridor rumah sakit yang dingin, sementara beberapa petugas keamanan berjaga di depan area ICU dengan wajah tegang sejak satu jam terakhir.
Tidak ada suara tangisan.
Tidak ada keributan.
Namun justru ketenangan itulah yang terasa menakutkan.
Karena semua orang di lantai itu mengetahui satu hal yang sama—
seseorang meninggal malam ini.
Dan orang tersebut bukan pasien biasa.
Di ujung koridor rumah sakit yang dipenuhi aroma antiseptik dan udara dingin pendingin ruangan, Alvero Atharvain Santrya berdiri diam sambil menatap lurus ke arah jendela besar yang dipenuhi titik-titik air hujan.
Dua puluh sembilan tahun.
Dokter anestesi.
Putra keluarga Santrya.
Sekaligus pewaris utama rumah sakit terbesar di Jakarta.
Kemeja hitam yang dikenakannya masih sedikit kusut setelah hampir enam jam berada di ruang operasi tanpa jeda. Wajahnya terlihat lelah, namun tatapan matanya jauh lebih dingin dibanding biasanya.
Karena malam itu...
untuk pertama kalinya Alvero merasa muak terhadap rumah sakit yang selama ini dibanggakan keluarganya sendiri.
"Media sudah mulai bergerak."
Suara berat seorang laki-laki terdengar dari belakang.
Alvero menoleh perlahan.
Athar Santrya berdiri di sana dengan jas hitam gelap yang masih terlihat sempurna meski waktu hampir pukul satu dini hari. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang sedang terjadi malam itu.
Sebagai direktur utama Santrya Hospital, Athar terbiasa menghadapi tekanan.
Namun malam ini berbeda.
Karena jika berita tersebut sampai keluar, nama besar keluarga Santrya bisa hancur dalam semalam.
"Pasiennya anak menteri," lanjut Athar pelan. "Kita tidak boleh membuat kesalahan."
Alvero tertawa kecil tanpa humor.
"Terlambat."
Sunyi.
Hanya suara hujan dan bunyi monitor medis dari dalam ICU yang terdengar samar memenuhi koridor panjang rumah sakit itu.
Rahang Alvero mengeras perlahan ketika kembali mengingat ruang operasi beberapa jam sebelumnya. Darah. Kepanikan. Suara alat medis yang terus berbunyi. Dan keputusan-keputusan cepat yang terlambat diambil.
Pasien itu seharusnya masih hidup.
Namun semuanya berakhir terlalu kacau.
"Dokumen operasi sudah diamankan."
Tatapan Alvero langsung berubah tajam.
Salah satu dokter senior yang berdiri tidak jauh dari mereka segera menundukkan kepala pelan.
"Rekaman ruang operasi juga sudah dibersihkan, Pak."
Deg.
Dada Alvero terasa sesak.
Karena dia tahu persis arti kalimat tersebut.
Mereka sedang menghapus kesalahan.
Menghilangkan jejak.
Dan menyelamatkan reputasi keluarga Santrya dengan cara apa pun.
Alvero menatap ayahnya tidak percaya.
"Jadi ini yang selama ini Ayah pertahankan?"
Athar diam beberapa detik sebelum akhirnya berjalan mendekati jendela besar di ujung koridor. Tatapannya lurus pada hujan Jakarta yang masih turun tanpa henti.
"Kamu belum mengerti bagaimana dunia bekerja, Alvero."
Kalimat itu terdengar pelan.
Namun cukup untuk membuat suasana malam itu terasa semakin dingin.
Karena di dunia keluarga Santrya...
nama besar selalu lebih penting daripada kebenaran.
"Atur Adistyana & Co."
Perintah Athar membuat Alvero langsung terdiam.
Karena semua orang di Jakarta mengetahui siapa Daniel Adistyana.
Pendiri firma hukum terbesar di ibu kota.
Laki-laki yang mampu membuat masalah keluarga elite menghilang sebelum sampai ke publik.
Dan malam itu...
tanpa Alvero sadari, nama keluarga Adistyana akan menjadi awal dari kehancuran yang perlahan masuk ke hidupnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
━━━
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.