#2cangkirpuisi

23 1 1
                                        

Dari aku, sang peracik coffe....... 

.

.

.

.

Jumat, 9 Juli 2015. 19:20 -Yola

Kini-ku menemukanmu

Diujung waktu-ku patah hati

Lelah hati menunggu

Cinta yang selamatkan hidup-ku 🎶

(Musik Radio) 

  Biar ku hitung 1..2.. Engga, terlalu singkat, bahkan ini rekor-ku mengenal lelaki. Sejak malam itu, aku mulai suka tawanya, dia manis. Apalagi disaat dia gugup, bibir bawah itu selalu dia gigit, entah apa tujuannya, "maaf reflek" hanya itu yang dia katakan. Mungkin dari situ aku ambil keputusan atas isi dari puisi yang dia buat. Kata Yovi "Radit itu seniman, imajinasinya luas, tapi soal cinta, dia payah!" dan aku percaya itu, dia hanya romantis di waktu tertentu tapi tidak tiap hari. Mungkin puisinya terlalu berbelit-belit, tapi aku suka, dalam maknanya. "Kamu jangan seperti mereka, pake celana pendek, alis sama muka, sama tebelnya" itu katanya, "ihh kenapa?, kan make up" jawab-ku, "kaya badut tau ga" dan aku tersenyum. 

  Menurutku dia type cowo yang menyukai seseorang apa adanya, dan itu terbukti, disaat perempuan lain berbondong bondong demi kecantikan, Radit malah menyuruhku berhijab. "Cukup aku yang nakal, kamu jangan!" itu katanya. Tapi menurut-ku nakal dia wajar, masih di batas apa yang sewajarnya. "Tapi kamu jangan aneh-aneh!" pinta-ku. Seperti pasangan yang baru mengenal cinta, sedikit lebay, tapi manis saat itu. 

Aku rindu puisinya, tidak setiap saat dia bersajak untuk-ku, karena menurut dia, puisinya sangat istimewa, meski aku selaku kekasihnya meminta, dia tetap merahasiakan.

  Radit itu bukan type cowo yang setiap detik ada namanya di kontak pesan-ku, bahkan itu bisa berlangsung berhari-hari, menurut dia "ga semua topik harus kita bahas di medsos, aku lebih suka melihat matamu, karena itu damai". Dan jika emang harus berhubungan lewat medsos, paling itu hanya sey hi. Menurut opini orang lain "jika pacar gapernah ngasih kabar, itu wajib di curigai" tapi aku tidak percaya. Aku percaya Radit itu setia, karena aku-pun begitu. Menurut dia "kita jarang bertemu bukan berarti aku main hati, aku hanya ingin disetiap pertemuan kita, kamu terlihat baru" dan itu bukan berarti aku dan dia jarang bertemu, karena seusai aku pulang kampus, aku sempatkan untuk ke-kedainya, hanya untuk mampir, atau-pun berbincang. Dan tidak setiap hari Radit ada di kedai, dia kuliah juga, sama seperti mahasiswa pada umumnya.

  Aku sering membayangkan....

Jumat, 9 Juli 2015. 18:56 -Radit

"Lo dari mana aja?" celetuk Yovi.

"Fucking Dosen!!" gumam-ku.

"Nyantai bro"

"Bayangin nih, gua bikin materi tiap malem... Dia bilang ga mutu... Gimana ga emosi coba"

"Sabar bro.. Nih ngopi dulu" Yovi yang saat itu menjulurkan secangkir coffe "Kata gue juga apa, ada pulus semua mulus"

"Gaada duit gua!"

  "Dosen" manusia sempurna yang hidupnya sesuka jidat dia. Pencipta harapan palsu untuk para mahasiswa, 1 kata yang dia katakan, seribu arti yang harus di cari mahasiswa. 

"Yola tadi kesini?" tanyaku.

"Yoi, dia bantu-bantu kedai tadi"

"Saekk!"

"Lo hoki bisa dapet yola" celetuk Yovi "udah cantik, baik, pinter ngerayu pelanggan lagi"

"Heh! Pacar gua itu"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 03, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

#2cangkirpuisiWhere stories live. Discover now