Prolog

17 1 0
                                        

Aku masih ingat bagaimana terangnya matahari bersinar di setiap Sabtu pagi, bagaimana hangatnya ketika sinar mentari menyentuh kulitku. Aku masih ingat, bagaimana aku begitu mencintai setiap detiknya bersama keluargaku menghabiskan waktu melihat matahari terbenam di pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku. Kami membawa roti lapis terbaik buatan ibuku, duduk bersama di bawah pohon kelapa sambil menikmati suara desiran ombak, dan melihat perpaduan warna merah muda, jingga dan ungu di atas langit seakan menjadi sebuah mahakarya alam yang dipersembahkan untuk menemani sore kami. Aku masih ingat hari dimana Claire dan aku sering bermain bersama di halaman belakang, aku masih ingat bagaimana Claire selalu tersenyum ketika ia berhasil mengalahkanku di setiap permainan. Bibir tipis merona dan sebuah lesung pipit yang terletak di pipi kanannya seakan membuatnya menjadi perempuan tercantik yang pernah aku lihat. Semua kenangan itu terasa begitu hangat dan indah, mereka seakan tak ingin pergi dari benakku.

Aku juga masih mengingat beberapa mimpi buruk di hidupku ketika ayahku kehilangan pekerjaannya. Aku melihatnya berjuang mencari pekerjaan baru agar ia tetap dapat menafkahi keluarga kecil ini walaupun sebenarnya umur dia sudah paruh baya dan sudah saatnya dia untuk pensiun. Aku ingat suatu malam yang dingin dimana ayah dan ibuku bertengkar hebat, aku berusaha keras untuk tidak mendengar teriakan mereka tetapi suara mereka cukup keras untuk membangunkan Claire yang sedang tidur. Keadaan itu sangat menyeramkan, aku tidak pernah mendengar ayahku berteriak seperti itu sebelumnya. Claire terbangun dan beranjak naik ke tempat tidurku, aku mulai merasakan air mata mengalir dari matanya. "Aku takut" kata Claire gemetar, "Apa yang harus kita lakukan?" Lanjutnya, seakan dia sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. "Claire, semua akan baik-baik saja. Aku janji" aku berusaha untuk menenangkan Claire dan berusaha membuatnya kembali mencoba untuk tidur.

Mimpi buruk dalam hidupku tidak hanya sampai disitu saja. Aku masih ingat ketika aku berada di tahun kedua SMA ku, bagaimana orang-orang melihatku dengan cara mengerikan yang tidak aku pahami. Bagaimana mereka mendorongku hingga aku terjatuh di depan lokerku, bagaimana mereka teriak mengolokku dengan kata-kata yang tidak masuk diakal, dan bagaimana mereka akhirnya membuatku duduk sendiri di pojok kantin tepat di sebelah bak sampah tempat mereka menaruh sisa makanan mereka. Aku mulai sering berpikir dan bicara pada diriku sendiri "apakah ada yang salah dengan diriku sampai mereka harus berbuat demikian?"
"Apa aku terlihat aneh hanya karena aku tidak suka berdandan seperti mereka?"
"Apa mungkin hidupku yang sempurna bisa berubah hanya dalam jentikan jari saja?"

Dalam keributan entah mengapa suara hatiku terdengar lebih keras dari suara lainnya di sekitarku. Aku memutuskan untuk tidak menyelesaikan makan siangku, aku mulai berdiri dan berjalan keluar dari kantin. Aku ingat betapa cepat langkah kakiku menuju pintu keluar area sekolah, sambil aku berjalan keluar aku merasakan air mataku jatuh dan mengalir di pipiku. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk terus berjalan, dan mengabaikan apa yang terjadi di sekitarku.

Aku terus berjalan hingga aku tidak mengenali tempat dimana aku berada, aku merasa sangat kacau dan tidak bisa berfikir dengan akal sehatku. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah jalan yang sepi, aku merasa sangat asing berada di tempat ini. Kakiku sudah mulai terasa berat untuk melangkah, tenggorokanku sudah mulai terasa kering dan salivaku sudah nyaris tak ada untuk sedikit menyegarkan tenggorokanku. Aku memutuskan untuk duduk di trotoar dekat dengan sebuah lapangan dan melihat sekitarku. Aku mendengar suara berat tepat di belakangku "kamu kenapa?" Kemudian aku menoleh ke belakang dan melihat sosok tinggi berbaju gelap dan menggunakan celana panjang, rambutnya berwarna coklat terang, matanya hijau jernih seperti menyala, tubuhnya tampak kurus dan kulitnya pucat.
"Kamu siapa?" Aku berusaha memberanikan diri untuk meyakinkan bahwa dia adalah orang yang baik.
"Panggil saja Rob. Kamu terlihat cemas dan bingung, adakah yang bisa aku bantu?".
" Rob? " aku berusaha menegaskan
"Ya,"
"Natalie"
"Apa kamu baik-baik saja Natalie?" Tanya Rob kembali padaku
"Ya... Tidak... aku tidak tahu"
"Apakah kamu sedang mengalami masa-masa tersulit dalam hidupmu?"
Aku pun terdiam ketika Rob menanyakan hal itu kepadaku, aku melihat Rob dan memperhatikan raut wajahnya. Dia terlihat serius kepalanya terus tertunduk seakan dia sedang memperhatikan aspal dari trotoar ini, sesekali ia menghembuskan nafas seperti menunjukkan ia sedang menunggu sebuah jawaban yang tak kunjung datang. Entah apakah aku harus bersikap terbuka kepada pria asing ini atau aku harus lari, aku mulai berpikir dan berbicara dengan diriku lagi. Dan lagi aku tidak dapat meyakinkan diriku untuk mengambil sebuah keputusan. Tidak lama kemudian Rob memberikan sebuah kantong berisikan potongan kertas kecil-kecil dengan berbagai gambar yang unik seperti stiker. "Ambil lah 1 dari kumpulan kertas itu, kemudian letakkan kertas itu di lidahmu" katanya dan aku hanya menatapi kumpulan kertas-kertas kecil di dalam plastik tersebut.
"Percayalah padaku, kamu akan baik-baik saja." Katanya berusaha meyakinkanku, dan lagi aku hanya menatapi kumpulan kertas itu. Akhirnya Rob mengambil dua dari kumpulan kertas itu dan memberikan satu kepadaku, "ayo kita lakukan ini bersama-sama!" Kemudian aku mengambil satu kertas itu dari tangannya dan meletakkan kertas itu tepat diatas lidahku.

Badanku mulai terasa ringan, pikiranku di penuhi oleh hal-hal indah yang mungkin pernah aku alami atau hanya sebuah imajinasiku. Aku mulai tersenyum kembali, semua mimpi burukku terasa hilang begitu saja. Rob kemudian mengulurkan tangannya kepadaku, kini aku bisa melihat raut wajahnya yang tampan dan manis tersenyum kepadaku. Ku raih tangannya, aku ingat betapa lembut tangannya ketika aku menyentuh kulit pucat Rob. Dia mengajakku pergi ke sebuah taman, disana ada bangku taman berwarna hitam di dekat danau. Kami berdua duduk disana, tertawa, bahkan kami menari tanpa diiringi oleh musik. Setelah sekian lama, hari itu merupakan hari dimana aku bisa tersenyum kembali dan melupakan mimpi buruk ku.
----------------------•----------------------
Aku terbangun dari tidurku keesokan harinya dan mimpi buruk ku datang kembali, aku bahkan tidak ingat apa yang telah terjadi kepadaku.
"Bagaimana aku bisa berada di tempat tidur?"
"Siapa yang membawaku kesini?"
Aku terus berpikir dan bertanya kepada diriku sendiri, aku mencoba untuk mengingat apa yang terjadi kepadaku. Aku terdiam beberapa saat diatas tempat tidurku, dan ya, aku ingat! Aku mengambil tas sekolahku dan membongkar isinya,
"Ini dia! Apa semua itu adalah nyata? Rob dan semua keindahan yang ada di taman itu?"
"Kertas apa ini?"
Aku masih tidak bisa percaya apa yang telah dilakukan oleh kertas ini ketika aku memakannya. Aku berusaha mencari tahu benda apa yang telah ku telan kemarin dan dapat menghilangkan mimpi buruk ku.

Setelah kudapati ternyata kertas itu adalah bukan kertas biasa, aku bisa mengalami hal-hal aneh seperti kemarin. Aku tahu obat dalam bentuk kertas ini dapat mengancam hidupku, tapi aku rasa aku membutuhkannya. Aku memutuskan untuk mencari Rob di tempat aku bertemu kemarin, aku merasa hanya Rob lah yang bisa menjadi temanku saat ini. Ketika aku sampai disana, aku memutuskan untuk menunggu Rob datang. Aku sangat ingin menceritakan dan bertanya apa yang telah terjadi kepadaku, adakah hal lain yang dapat membantukku? Aku berharap Rob akan datang.

Setiap hari sepulang sekolah aku selalu kembali ke tempat dimana aku dan Rob bertemu, aku selalu menunggu di tempat yang sama. Dua minggu berlalu dan belum juga aku kembali bertemu dengannya, aku kembali masuk ke dalam mimpi buruk yang jauh lebih menyeramkan. Rob sosok yang pernah membantuku keluar dari mimpi buruk ini hilang dan aku tidak dapat menemukannya. Aku kembali merasa kesepian dan cemas akan kehidupanku, dan hal ini membawaku mengkonsumsi lebih banyak "kertas" yang Rob berikan kepadaku setiap harinya.
---------------------•------------------------
Ketika liburan musim panas sudah berlalu, aku berharap akan ada sebuah keajaiban yang dapat mengubah semua mimpi burukku menjadi sesuatu yang lebih baik. Pada kenyataannya semua orang di sekolahku masih memperlakukanku dengan cara yang sama bahkan mereka menjadi lebih gila dari sebelumnya, mereka mendorongku dan menyiramku dengan minuman bersoda mereka. Aku masih ingat betapa menusuknya rasa dingin dari minuman yang mereka siramkan ke badanku, aku berusaha sekuat tenaga menahan air mataku untuk jatuh. Aku terus menatapi bajuku yang basah, aku berusaha berdiri namun paru-paruku terasa sakit seperti mengisyaratkanku untuk menyerah pada hidupku.

Sebuah tangan terjulur kepadaku, kulitnya putih pucat, dan kurus. "Rob?" Kataku dalam hati berharap bahwa sosok penyelamat yang pernah menyelamatkan hidupku datang lagi. Ku raih tangan itu, dan berusaha untuk berdiri lagi. Ketika ku lihat sosok yang telah membantuku ternyata sangat berbeda dari Rob, bola matanya coklat tua dan rambutnya hitam, ada sedikit rona di pipinya, bibirnya pun tidak pucat sama sekali seperti Rob.
"Kamu baik-baik saja?"
Suaranya pun berbeda dengan Rob, ah tentu dia bukan Rob. Aku hanya sangat berharap bahwa Rob lah yang akan datang membantuku lagi.
"Hai, apa kau baik-baik saja?" Ia bertanya sambil melambaikan tangannya di depan mukaku untuk menyadarkanku bahwa dia masih berada di depanku.
"Ah, iya aku baik-baik saja" sangat ingin aku merasa baik, namun dingin dari minuman itu semakin menusuk.
"Maaf, aku harus pergi" kataku dengan gemetar
"Ini..." katanya sambil memberikan sweater-nya kepadaku,
"Aku tidak bisa menerima ini, ini milikmu. Aku akan mengeringkan bajuku di kamar kecil"
"Lihat bajumu sudah basah kuyup, dan itu adalah minuman bersoda. Baju mu akan terasa tidak nyaman, pakai saja sweater ini supaya kamu tidak sakit dan merasa nyaman"
"Terima kasih"
Aku menerima sweater itu, kemudian aku langsung bergegas ke kamar kecil untuk mengganti bajuku.
"Oh hey nona!" Teriaknya berusaha memanggilku, dan seketika aku berputar dan melihat ke arahnya.
"Sebastian! Sebastian Dawson. Namaku" teriaknya lagi dan tersenyum kecil kepadaku.

Di hari itulah aku mengenal seseorang yang menjadi temanku, Sebastian Dawson.

Sekotak Surat Untuk SebastianStories to obsess over. Discover now