1

10 1 0
                                        

"Bang, ayolah kita pulang aja ya?" Rengek gadis berambut hitam sambil mengeluarkan jurus puppy eyes nya agar kakak laki-lakinya luluh.

"Sabar, elah! Dek, lo udah ngomong itu berapa kali sih?!" Kesal Azel.

Tadi siang, Azel dan Asha dipaksa oleh ayahnya untuk menemani di acara ulang tahun perusahaan ayahnya. Dengan iming-iming hadiah sepatu baru akhirnya mereka berdua sekarang ada di rooftop hotel bintang lima, tempat diadakannya acara.

"Yah? Shasha pulang duluan sama abang ya?" Pinta Asha menghampiri ayahnya yang sedang mengobrol dengan temannya.

"Loh, gamau di sini dulu?" Tanya Irfan — ayahnya —

"Emm, itu Shasha masih ada tugas sekolah yang belum dikerjain soalnya,"

Irfan membelai kepala anak perempuannya dengan lembut lalu tersenyum.

"Yaudah, hati-hati di jalan, abangnya suruh jangan ngebut oke?"

Asha mengangguk lalu berbalik badan ingin menghampiri kakaknya. Namun, tiba-tiba badan Asha yang ingin menghampiri kakaknya di pinggir kolam renang ditabrak oleh seseorang. Dengan sigap tangan Asha diraih oleh laki-laki yang menabraknya. Asha sudah sangat panik bila dirinya tercebur namun setelah beberapa detik ia merasakan bahwa badannya tidak basah. Asha mengedipkan matanya saat melihat muka seseorang hanya berjarak satu jengkal dari mukanya.

Deg.

Anjir! Umpat Asha dalam hati. Dengan cepat Asha menarik tangannya dari genggaman cowok tersebut, namun tiba-tiba ia oleng dan hampir jatuh ke kolam renang tapi untungnya badannya disangga oleh cowok yang tadi memegang tangannya.

"Makanya jangan dilepas, mau kecebur emang?" Tanya cowok yang sekarang 'hampir' memeluknya.  Sekarang semua orang menonton 'adegan romantis' mereka berdua.

Hening.

Asha mengerjapkan matanya lalu berusaha menyeimbangkan badannya.

"Ma-makasih." Asha gugup. Entah kenapa. Ia langsung berlari meninggalkan cowok tersebut dan langsung menarik tangan Azel agar segera pulang.

✨✨✨

"Sumpah ya dek! Muka lo tadi yaampun!!! HAHAHAHA." Azel memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa. Asha mendengus. Sekarang, mereka berdua sedang di mobil dalam perjalanan pulang. Jarak dari hotel tadi menuju rumah mereka memang terlampau jauh, sekitar satu jam perjalanan, itupun bila tidak terkena macet, dan sayangnya sekarang mereka terkena macet.

"Ihh abang, jangan bahas itu lagi deh," Kesal Asha sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

"Eh tapi tadi lucu banget muka lo ahahhaah," Tawa Azel berderai membuat kebisingan di dalam mobil. Asha tetap pada posisinya dan tidak menanggapi abangnya yang terus mengoceh tentang kejadian di hotel tadi. Bila sudah diam seribu kata dapat dipastikan bahwa Asha ngambek atau moodnya lagi buruk.

"Lah kok langsung diem sih?" Heran Azel sambil menoleh menghadap Asha.
Azel mendengus.

Ngambek ni pasti, Batin Azel.

"Yah, kok ngambek sih?" Kesal Azel. Asha tetap tidak menanggapi Azel yang membuat Azel semakin kesal sekaligus gemas.

"Yaudah, mau beli greentea latte ga nih?" Goda Azel. Adiknya ini memang sangat suka dengan yang namanya greentea latte , apalagi yang ada di cafe favorit mereka berdua, Space Café

"Hm," gumam Asha mengiyakan. Ia tidak akan bisa menolak tawaran dari kakaknya itu.  Azel menoyor kepala Asha kesal.

"Yee, giliran greentea aja langsung semangat," Asha menyengir. Azel lalu membelokkan mobil ke arah kanan menuju Space Café.

✨✨✨

"Mba, greentea latte nya satu, kopi susunya satu sama.. lo mau apaan lagi dek?" Tanya Azel.

"Mm, vanilla croissant satu sama matcha lava cake satu." Sebut Asha. Azel lalu membayar pesanan mereka sedangkan Asha mencari tempat duduk. Asha duduk di tempat favoritnya, pojok kanan dekat jendela yang menghadap jalan raya. Itu tempat duduk favoritnya bersama Azel.

"Sha?" Panggil Azel. Asha hanya menggumam dan tetap fokus melamun. Pesanan mereka sudah datang namun belum ada satupun yang diminum atau dimakan. Azel mengernyitkan dahinya saat melihat seorang laki-laki duduk di sebrang mereka. Ia merasa pernah melihat orang itu.

Lah itu bukannya yang tadi nolongin
Asha? Batin Azel. Azel menarik pelan tangan Asha. Asha menoleh.

"Apaansih bang?! Lo tuh ganggu banget tau ga? Gue tadi baru bayangin kalo—" Azel membekap mulut Asha dengan tangan kirinya lalu memberi kode agar Asha menoleh ke arah kiri. Asha membelalakkan matanya lalu dengan paksa melepaskan tangan Azel dari mulutnya.

"Bang...itu bukannya,"



Haloo👋🏻👋🏻

Maafkan part ini gaje atau jelek yaa maklum pertama kali nih:v

Tolong tinggalkan jejak yaa!

UnexpectedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang