Wednesday
03 March.
Drrrt drrrt drrrt
Kemal is calling...
Kelas belum usai tapi handphone Emily berdering dari tadi. Tidak berniat mengangkat telepon itu Emily mengaktifkan mode silent.
"Oh god! I need to go home, im fucking super tired today."
Sudah seminggu Emily tidak pernah menikmati tidur nyenyak, di tambah lagi tugas-tugas kuliah nya yang tak kunjung habis. Tugas minggu lalu belum selesai tapi tugas baru sudah ada di tangan Emily sekarang. Bukan nya Emily bermalas-malasan tapi dia merasa ada hal aneh yang mengganggu pikiran nya.
"Sampai ketemu lagi minggu depan. Saya ingin tugas itu segera di kumpulkan sebelum hari Jumat." Ucap prof. Fredy
Dengan sekejap kelas menjadi sepi, tinggal Emily seorang diri yang masih mengutak-atik handphone merek nenas dengan gigitan di sisinya. Emily sedang menulis pesan kepada seseorang.
"Aku segera pulang."
To Kemal.
••••
Emily bergegas meninggalkan pekarangan kampus. Ingin rasanya dia segera tiba di rumah dan berbaring sejenak untuk mengumpulkan tenaga mengerjakan deadline.
"Hai Em!"
"Hai juga Jo," jawab Emily dan tersenyum pada Jonathan, teman dekat Emily.
"Apa aku bisa ke rumahmu malam ini? Ada tugas yang harus aku kerjakan dan aku membutuhkan bantuanmu Em." Pinta Jonathan.
"Ah, sebenarnya aku..."
"Jika kamu sedang banyak tugas mungkin aku akan membantumu mengerjakan nya." Jonathan terlihat memaksa tapi ada untungnya juga bila Jonathan membantu Emily.
"Okay aku tunggu pukul 8 malam."
"Okay, see you."
••••
Tak terasa sekarang sudah jam 17.30 dan Emily masih menunggu giliran bus dihalte, kurang 15 menit lagi Emily sampai dirumah. Emily menaiki bus terakhir itu, dilihatnya langit dari jendela yang menghitam gelap.
"Aaaaah!"
Prang!
Mendengar teriakan sang Ibu disusul dengan suara pecahan piring, Emily berlari masuk ke dalam rumah.
"Ibu ada apa?" Tanya Emily kepada ibunya yang menggigil ketakutan.
"Em-emily, ibu melihatnya! Dia ada di rumah kita Em!" Tangis ibu mulai menyeruak, ibunya kelihatan sangat ketakutan dan terus menunjuk kearah jendela.
"Apa yang ibu lihat? Tidak ada siapa-siapa disini." Ucap Emily menenangkan ibunya.
"Di-disitu Em! Ta-tadi dia di jendela. Ibu tidak mengenali bentuknya dan dia memegang pisau itu!" Ibunya menjelaskan dengan terbata-bata. Di lihatnya pisau yang ditunjuk ibunya itu di lantai dekat jendela yang terbuka.
"Apa ibu berhalusinasi lagi?" Batin Emily.
"Sudahlah bu, ibu hanya banyak pikiran. Sekarang ibu mandi dan kita akan makan malam. Kali ini Emily yang akan masak untuk ibu." Emily berusaha meyakinkan ibunya kalau yang dia lihat tidak benar.
YOU ARE READING
RUN!
Short StorySiapa yang lebih kamu percaya disaat tidak ada lagi orang untuk mengadu dan berlindung? Pacar atau teman? Apapun yang terjadi larilah secepat mungkin!
