Nama gadis itu Laila Aster, berusia 8 tahun. Usia muda dan energik. Kesukaan dia bermain bersama Bunda, di taman ataupun di dekat pohon.
" Bunda kenapa bunda menamaiku Laila Aster?" Tanya gadis itu suatu hari ketika hujan lebat di luar membuat suara berisik dan suara daun tertiup angin membuat suasana semakin dingin
" Karena Bunda ingin kamu menjadi se-sederhana bunga aster, sepolos dia, sabar dan indah kayak bunga aster" Suara Bunda lembut seraya memeluk gadis itu
" Tapi, kenapa harus Aster, bisakan Bun Daisy itu lebih baik kata temenku gitu" Gadis manis itu protes seraya menatap manik bundanya dengan seksama
"Iya, itu bahasa Inggrisnya sayang Bunda gak mau maunya bahasa Indonesia" Senyum Bunda menggoda
" Ah Bunda,tapi Rafi bilang Aster itu aneh, pokoknya ganti Bunda!" Laila merajuk seraya membalikkan badannya membelakangi Bunda
" Ih, ngambek gitu. Iya, bilangin sama Rafi kalau Aster itu nama yang langka. Jadi aku bangga" Bunda mengusap lembut lengan Aster
" Begitu ya Bunda? Yeyeye nama aku unik langka, gak ada yang nyamain yeye" Laila lalu berdiri berjoget di atas kasur sampai kasur berderit Bunda hanya bisa tertawa tak kuat.
" Tadi ngambek sekarang seneng. Ih gimana anak Bunda ini, ayo tidur dulu besokkan sekolah"
Akhirnya Laila Aster dan Bundanya tertidur lelap. Laila bermimpi Bunda menggunakan baju putih bersih dan Bunda sangat cantik, namun ketika iya hendak menemui Bunda. Bundanya hilang pergi berlari. Mimpi itu membangukan Laila, dia lalu memeluk erat sang Bunda yang ternyata masih ada disampingnya
" Bunda sayang, aku gak mau bunda pergi kayak dimimpi aku tadi" Katanya sambil tersenyum dan tertidur lagi
Nama Bunda itu ialah Cahaya Paramitha Bunda berasal dari daerah Sukabumi. Dia menikah kepada Pria bernama Purnama Lingga asal Gunung Kidul Jogjakarta pada tahun 2001 silam, Pertemuan mereka tergolong unik, Bunda suka senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya juga Ayah suka tiba-tiba tersipu malu.
Suatu malam mereka mengenang kembali pertemuan mereka di sebuah taman kecil di belakang rumahnya yang terletak di gunung kidul, Yogyakarta. Mereka saling tertawa dan tersenyum sementara Laila anak mereka telah tertidur
" Ingatkah dulu kang, kita bertemu ketika perjalanan aku menuju sukabumi ke Yogyakarta" Kata Bunda tersenyum manis sementara Ayah menggegam tangan bunda mesra
" Tentu saja sayang, ingat betul. Waktu itu kamu memakai kerudung hijau disertai gamis hijau juga, kamu kebingungan karena tiket kereta kamu hilangkan. Hahaha dasar kamu ini ceroboh" Tawa Ayah pecah sementara Bunda hanya mencubit lengan Ayah gemas
Kilas Balik Tahun 2000 Silam di sebuah Kereta
Seorang gadis sedang duduk di deretan kursi nomor 9 sebuah kursi kelas ekonomi, bersama gadis itu juga duduk seorang nenek tua, anak kecil perempuan berambut pirang, gadis remaja bersenyum manis juga seorang pria berkacamata yang nampak kalem dan dingin.
" Neng, mau ke mana ke Yogya?" Suara Ibu tua memecah hening perjalanan kereta yang belum seberapa lamanya itu
" Eh iya Ibu, mau ke Yogyakarta. Mau pindah ke sana karena Bapak sama Ibu di Sukabumi telah meninggal, jadi mau pindah ke keluarga di Yogyakarta" Kata gadis berjilbab hijau itu terkesan sedih mungkin teringat kejadian ketika Bapak dan Ibunya kecelakaan
" Inalillahi, semoga amal ibadahnya diterima oleh yang Maha Kuasa, aammiinn.. Oh iya neng Perkenalkan Ibu bernama Arumdina. Mau ke Yogyakarta mengunjungi cucu di sana" Kata Nenek Arumdina itu mengulurkan tangan, Gadis berhijab Hijau itu mengulurkan tangan mencium dengan sopan
YOU ARE READING
Bunga Aster Untuk Bunda
Spiritual"Bunda, ini untukmu" Kata seorang gadis kecil buta, matanya gelap semenjak itu. Nafasnya selalu merasai adanya Bunda tetapi matanya tidak bisa melihat. "Kemana Bunda?" Tanya gadis itu sekali lagi. Seorang pria menangis menghapus air matanya Bunda...
