Catherine's P.O.V
Aku tinggal di sebuah rumah yang besar, di dalamnya ada kolam renang, jacuzzi dan aku juga memiliki banyak anjing dalmatians yang lucu. Biasalah, seorang putri raja selalu dimanja dengan kekayaan. Aku sangat menyukai kehidupanku. Tak perlu mengemis, hanya bilang ke ayahku saja apa yang kuinginkan, dijamin akan dikabulkan olehnya.
"Ayah, aku ingin boneka baru!" rengekku saat melihat adikku yang sedang memainkan boneka barbie nya.
"Catherine, kamu sudah besar. Seharusnya kamu dapat membedakan mana mainan untuk anak-anak dan remaja" balasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya, tapi-"
"Catherine!" teriaknya dengan keras.
"Catherine! Hey, bangun!" teriaknya lebih keras. Aku merasakan guncangan di tubuhku. Apakah ini gempa? Aku pun berteriak karena ketakutan.
Aku membuka mataku dan menyadari daritadi aku bermimpi. Lagi-lagi aku tidur di kelas. Sudah biasa. Bu Gracie melototiku dan seisi kelas tertawa bahak-bahak karena aku telah berteriak di depannya dengan keras. Aku pun tersenyum lebar saat melihat ekspresi Bu Gracie yang sedang marah.
"Catherine Darcy! Lagi-lagi tidur, mimpiin apa sih kamu?! Sampai harus berteriak di depan saya?" bentaknya membuat seisi kelas hening. Aku menggeleng malu.
"Oh, ngga. A.. aku pusing bu. Jadi aku tidur, kalau gitu, aku ke UKS ya" jawabku terbata-bata saat menyadari aku baru saja dibentak oleh guru killer di sekolah ini.
"Mau ke UKS ataupun pulang, saya tidak peduli! Jangan ganggu kelas lagi! Sudah sana pergi, saya juga sudah muak" ucapnya sambil kembali berjalan kearah papan tulis.
Huft, makin semangat deh buat ke sekolah. Aku benci disini! Belajar 7 jam? Dikira gak capek? Pasti juga satu kelas pada ngantuk semua!
"Ah, elah nyebelin banget sih itu guru! Seharusnya kasih murid-muridnya waktu tidur dong!" gerutuku sambil berjalan menunduk kearah UKS.
"Lagi-lagi tidur di kelas?" ucap seseorang dari belakang. Aku kenal suaranya, pasti si pengganggu itu.
"Iya, gak usah nanya juga lo pasti udah tau!" balasku dengan nada kesal. Ia hanya menggelengkan kepalanya kemudian ikut berjalan denganku ke UKS.
"Bisa gak, jadi orang gak ngikutin orang mulu? Gue mau tidur di UKS, lo ngapain? Balik gih!" ocehku sambil berjalan lebih cepat darinya. Ia mengejarku.
"Apaan sih?! Orang mau ngambil plester! Nih, kaki gue luka karena jatuh pas lagi lari-larian sama Gerald!" sambarnya membuatku sedikit terkejut. Felix Adams, gak pernah berubah. Dari dulu selalu saja mainannya lari-larian. Childish banget sih. Pantas saja mantan kekasih nya ilfeel semua melihat kelakuannya.
"Oh, gitu. Gak peduli" bisikku sambil mengeluarkan HPku dan mulai mengetik.
"Ih, kok jadi lo yang marah? Maafin dong cyin!" balasnya dengan suara menjijikan.
"Geli banget tau gak!" teriakku menatap sinis kearahnya. Ia tidak peduli, ia malah tersenyum lebar dan mencubit pipiku dengan keras sehingga aku menjerit kesakitan.
"Jadi cewek jangan marah mulu dong, nanti cepet tua. Kalau mukanya tua, nanti gak cantik lagi kayak sekarang" ucapnya membuatku lagi-lagi salah tingkah. Aku melepas tangannya dan kembali berjalan ke UKS yang kini jaraknya sudah dekat.
"Bodo!" balasku sambil tersenyum. Ia tertawa.
"Dasar cewek keras kepala" ucapnya sambil membukakan pintu UKS untukku. Aku segera masuk dan menjatuhkan diriku keatas kasur empuk UKS yang aku idamkan daritadi di kelas.
YOU ARE READING
Endless Troubles
Teen Fiction"You've tried so hard, but it won't make everything's change. So stop bothering me!" bantahnya sambil berjalan menjauh. "Because I care about you, asshole" jawabku meraih pundaknya membuat ia berhenti melangkah. Catherine Darcy, seorang perempuan ya...
