1. Tugas

79 15 2
                                        

"Fal, kemarilah. Ayah mau bicara sesuatu denganmu."

Mendengar ayahnya berbicara, seorang anak muda turun dari sebuah mobil jip yang berisi pasukan bersenjata. Anak muda itu meletakkan perlengkapan dan senapan mesinnya di dalam mobil tersebut, lalu berjalan menghampiri ayahnya, memberikan hormat khas dengan tangan mengepal yang diletakkan di dada.

Si ayah membalas hormat anaknya. "Bagaimana situasi Sektor 2, Fal?"

"Kurang lebih sama saja, Ayah. Aku menangkap sekelompok orang bersenjata yang melawan pasukanku saat patroli tadi."

Udara sangat dingin. Bisa terlihat salju berjatuhan dimana-mana. Fal berdiri dengan gagah, pakaian armor membuatnya tahan dingin.

"Bagus. Kau apakan mereka?"

"Seperti biasa, Ayah."

Si ayah mengangguk mengerti.

"Fal, suruh anak buahmu untuk menunggu disini. Kau akan ikut bersamaku ke kantor."

"Ada masalah apa lagi? Kami masih setengah perjalanan menuju Sektor 8. Mereka tak bisa menunggu lama."

"Ada yang lebih penting dari tugas patrolimu."

Fal tak melawan perintah ayahnya. Dengan gerakan isyarat tangan, Fal menyuruh pasukan untuk menunggu di lapangan parkiran.

"Aku harap ini penting, Ayah. Aku tak akan lama."

Fal beserta dengan ayahnya berjalan memasuki kompleks perkantoran Sektor 1. Letaknya berada di jantung kota. Di sekeliling jalan terdapat gedung-gedung pencakar langit yang mengeluarkan cahaya lampu neon dari setiap dindingnya. Penduduk berlalu-lalang, hanya fokus pada tujuan dan tanggung jawab masing-masing.

Sepuluh menit kemudian, Fal dan ayahnya tiba di kantor. Lokasi kantor tersebut berada di lantai dasar sebuah gedung tua yang tak setinggi gedung lainnya.

"Aku pikir kita akan ke kantor ayah," kata Fal, tertawa kecil.

"Lebih aman disini. Jangan kau remehkan kantor lama Ayah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."

Fal memasang muka tak peduli. "Ada apa? Aku naik pangkat lagi?"

"Bukan itu intinya. Aku tahu kau tak akan suka mendengarkan ini, tapi... ini tentang Grandpa."

"Sudah kuduga. Jangan bicara lagi, Ayah. Bilang ke Grandpa kalau aku minta maaf atas kemalasanku. Aku tak akan pernah bolos patroli lagi."

"Sebentar dulu, Fal. Bukan itu. Grandpa akan datang ke Sektor 1."

Fal mendengus. "Ya sudah, jangan libatkan aku kalau begitu."

"Grandpa memberi perintah. Ia memintaku secara pribadi untuk memberikannya rumah penginapan persis di hutan pinggir kota. Ia juga menyuruhku untuk menugaskan kamu sebagai pengawalnya selama ia tinggal di situ."

Mereka tahu bahwa perintah Grandpa adalah perintah yang absolut. Melanggar perintah Grandpa adalah haram. Ini disebabkan oleh posisi Grandpa di hirarki organisasinya.

Fal dan ayahnya merupakan anggota keluarga sekaligus generasi penerus dari organisasi bentukan Grandpa, yang selama berpuluh-puluh tahun meneror kedamaian dunia. Teror mereka dimulai dari Indonesia, lalu menjalar ke negara tetangga. Mereka bukan kelompok teroris, apalagi mafia. Mereka adalah organisasi paramiliter dengan sebuah tujuan. Tujuan itu hanya diketahui oleh Grandpa. Bawahannya mengikuti perintah, demi mendapat kekayaan seperti yang telah dijanjikan oleh Grandpa.

Fal menghela nafas panjang-panjang. "Baiklah. Terpaksa aku lakukan. Dimana lokasinya sekarang?"

"Sudah menunggu di bandara. Kau akan menjemput dia sendirian dengan mobilku, lalu mengantarnya ke alamat yang akan aku kirimkan ke emailmu. Orang lain akan menggantikan posisimu dalam divisi patroli."

"Baik. Aku akan bergegas."

Sebelum Fal membuka pintu keluar, ayahnya memegang pundak Fal, lalu berbisik dengan pelan di telinganya.

"Ingat, Fal. Ini memang cuma misi sederhana, tapi kau patut berwaspada. Grandpa memiliki sebuah rencana. Aku tak tahu secara pasti, tapi rencananya menyangkut dirimu, Fal. Jika ia bertingkah laku aneh... lenyapkan dia."

Fal terdiam, tak mengerti.

"Percaya saja dengan Ayah, Fal. Grandpa sudah tak seperti dulu lagi. Beliau kecewa dengan kita. Aku pikir... sudah saatnya organisasi kita dipimpin oleh orang lain yang lebih berpikir waras. Kau pasti tahu maksudku, Fal."

Sejenak Fal mengolah perkataan ayahnya, akhirnya ia membalas, "Siap, Ayah. Aku tak akan mengecewakanmu."

###
bersambung . . .
###

Terima kasih sudah membaca cerpen perdanaku! Semoga Anda terhibur.

Jika suka dengan cerpen ini, jangan lupa untuk vote dan comment ya.

Feedback dalam bentuk saran dan kritik akan sangat membantu lho.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Chapter selanjutnya akan di-publish pada:

-16 Juli 2017-

(13-07-17)

Time Heals All Wounds [4/6]Stories to obsess over. Discover now