Tae-Tae That Thunder... (Tae x Jimin)

4.1K 350 5
                                        

Taetae, that thunder...
Taehyung x Jimin
Drabble

.
.
.
.
.

Dua belas malam, seharusnya waktu yang sebegini larutnya sudah digunakan oleh manusia lainnya untuk tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka, termasuk para anggota yang lainnya. Namun sepertinya tidak bagi lelaki kecil ini—dia Jimin, hampir selama empat jam yang lalu dirinya masih saja uring-uringan terus menghembuskan napas tak tenang.

Sebenarnya bukan masalah kecil bagi orang-orang yang mendengarnya, namun tak bisa dipungkiri jika Jimin benar-benar tak bisa tenang akibat hal ini. Malam ini hujan serta petir yang menyambar sangat banyak, dan Jimin benar-benar takut akan hal itu.

Para anggota tahu, termasuk Jungkook sang maknae. Tapi jujur saja, konser tur mereka benar-benar membuat Jimin segan hanya untuk sekedar membangunkan Jungkook dan merengeki hujan yang tak kunjung berhenti.

"Bagaimana ini," keluhnya pelan, kedua tangan kecilnya meremati selimut yang menenggelaminya. Menatap sang maknae yang mendengkur dalam tidurnya, tak sampai hati akhirnya Jimin bangkit dan berjinjit kecil keluar dari kamar.

Lampu tengah dimatikan, tumben sekali Namjoon tidak bergadang. Jimin menghembuskan napas berat.  Terus berjalan menuju sofa, berniat duduk sebentar namun langsung terkejut akibat suara petir yang tiba-tiba menggelegar dan hampir membuat jantungnya lepas. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, berharap jika jeritannya tadi ikut tersamarkan dengan suara guruh yang ia benci.

"Oh Tuhan, kumohon hentikan petir ini. Aku sangat takut." Rapalnya berulang, menatapi jendela yang berkilat-kilat. Bibir bawahnya memaju, antara kesal dan sedih. Kesal karena petir yang mengganggu tidurnya dan sedih karena tak bisa menghalau rasa takutnya akan petir yang menggelegar.

Jimin menoleh kesamping, menatap ruang dapur yang sama gelapnya. Itu suara pintu kulkas yang dibuka. Jimin bergidik, sifat parnonya kembali muncul. Bibirnya bergetar, bertanya "Siapa itu?" Dan setelah itu yang ia dengar hanyalah suara pintu kulkas yang kembali tertutup dan langkah yang semakin dekat kearahnya.

"Kau kenapa Jimin, kok belum tidur?" Pertanyaan itu membuat Jimin tenang seketika, ternyata Taehyung. Ia menatap Taehyung lamat-lamat apakah Taehyung lupa akan ketakutan Jimin, rasanya sangat malu sekali.

"Tidak apa-apa Tae, hanya saja Aku belum mengantuk." Kebohongan, kedua matanya sudah memerah karena sakin lelahnya akibat konser yang tak kunjung selesai.

Taehyung hanya diam, sembari menenggak minumannya yang tinggal setengah. Jimin menaikkan alisnya, kesal. "Dasar pembohong, Aku tahu kau tidak bisa tidur karena ini kan?" Ini; hujan dan petir yang menggelegar. Jimin tampak ragu, dan mengangguk pelan.

"Ayo tidur bersamaku, aku juga kesunyian, omong-omong. Kau cocok dijadikan guling." Tawa renyah dari Taehyung kembali menghangatkan hati Jimin, teman seumurannya ini benar-benar membantu dan yah, Taehyung itu satu-satunya anggota yang memiliki tempat tidur sendiri.

Taehyung menarik tangan yang lebih kecil, mengabaikan bagaimana grasak-grusuknya bibir yang dikeluarkan Jimin akibat langkahnya yang terlalu cepat. "Ayo tidur, sekarang sudah hampir pukul satu, dan matamu sudah memerah." Taehyung membawa Jimin kedalam kasurnya, menarikkan selimut tebalnya yang dibuat untuk membungkus Jimin.

"Kau tidak tidur Tae?" Khawatir, Jimin terus menatap Taehyung, sama saja jika Taehyung tidak tidur dia juga tidak akan bisa tidur; karena saat seperti ini ia sangat butuh pelukan— bersembunyi dari jeritan petir.

"Ah, Jiminie khawatir pada Taetae ya?" Taehyung tertawa, kali ini mengambil tempat tepat disamping Jimin. Tangan lentiknya menyibak selimut setelah itu membawa Jimin untuk dipeluknya. "Kau itu sekali-kali harus bicara, jangan diam saja."

Kedua matanya memejam, menikmati setiap elusan yang diberikan Taehyung kepadanya. Kedua tangannya ikut melingkar dipinggang bersamaan dengan kepalanya yang bersandar didada Taehyung. Hujan dan petir sepertinya sudah kian meredah; ia bersyukur dalam hati. Jimin dapat merasakan Taehyung yang memainkan surainya, "Selamat tidur Taehyung-ah." Ucapnya pelan, kedua matanya kembali terbuka saat teman sebayanya itu menciumnya lama tepat dikening.

Taehyung tersenyum kotak, kembali mengelus punggung Jimin. "Selamat tidur juga, Jiminnie sayang." Jimin tersenyum, sejujurnya dia sangat menyukai hal-hal yang dilakukan Taehyung padanya. Benar-benar sangat perhatian, ah sepertinya ia juga harus tidur sekarang.

—00—

We Love Jiminie! [JIMIN CENTRIC]Where stories live. Discover now