11:00 PM at Kedai Hello Coffee

69 7 9
                                        

Malam ini, tepat pukul sebelas aku masih disibukkan dengan tugas skripsi yang tidak kunjung selesai. Sudah sejak dua jam yang lalu aku duduk manis di sebuah kedai kopi langgananku bernama Hello Coffee.

Flat white yang kupesan tinggal tersisa setengah cangkir dan sudah tidak lagi hangat. Aku mendesah sejenak sebelum kututup layar laptop lalu memandang keluar jendela. Merenungi bagaimana nasibku nanti jika tidak bisa segera menyelesaikan skripsi. Sudah pasti orang tuaku kecewa dan bisa-bisa aku akan dipulangkan kembali ke Surabaya.

"Halo! Mbak yang kemarin itu ya, kan? Yang tiap malem mampir kesini.." seorang waiters tiba-tiba muncul di sampingku, mengejutkan dan berhasil membuatku lepas dari alam bawah sadar. "Ngalamun aja, nanti kesambet tahu rasa lho.."

Aku menoleh dan alisku bertaut, "Maaf, saya nggak manggil mas kesini. Mas-nya waiters disini kan?" aku menatapnya penuh selidik.

"Iya, saya tahu. Saya kemari cuman penasaran aja sama mbak-nya." Aku masih memandanginya dengan penuh kebingungan. "Oh iya, saya Mali Dhipayana. Boleh panggil Ali, Mali atau Dhipa." lelaki itu tersenyum dan tampak sumringah setelah memperkenalkan dirinya padaku.

Tentu saja aku langsung merespons salam perkenalannya dengan baik, "Hm. Ali aja, boleh kan?"

Lelaki bernama Ali itu mengangguk pelan sambil melepas appron hitamnya. Tanpa basa-basi ia langsung duduk di kursi seberang. "Boleh, santai aja. Namamu siapa?" tanyanya sambil melipat appron-nya.

"Elina, Elina Baltasar."

"Namanya bagus loh.."

"Terima kasih, Li." Mendengar pujiannya barusan membuatku merasa sangat canggung, sementara Ali terkekeh pelan sambil memandangiku.

Beberapa menit berlalu, tetapi ia masih saja melihatku dengan tatapan aneh yang tidak bisa kupahami. Terus terang saja, tatapannya itu benar-benar membuatku risih.

"Kenapa?" Giliranku menatapnya dengan dingin membuatnya berkedip lalu membuang pandangannya ke arah jendela. Sejenak hening, namun tidak lama kemudian Ali kembali bersuara.

"Sampai kapan kamu menghabiskan waktu di kedai ini? Maksudku, berapa hari atau berapa bulan?" tanyanya tanpa melihat ke arahku lagi.

"Yaa sampai skripsiku tuntas." jawabku tak bersemangat.

"Setelah itu? Kamu nggak bakal mampir kesini lagi?" Barulah ia menoleh dan melihat ke arahku. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Ali memberiku pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak yakin bisa memberikan jawaban yang pasti.

"Entah. Yang paling penting itu skripsiku dulu. Skripsi saja aku nggak yakin bisa cepat selesai." keluhku.

"Jangan menyerah, El! Buktinya udah ada banyak orang yang wisuda."

Mendengar kata-katanya barusan aku langsung tersenyum lebar. Ah, bisa saja orang sepertinya menyemangatiku.

"Kamu gimana, Li?"

"Alhamdulillah banget dulu aku buat skripsinya lancar, sekali susun dan setelah di cek sama dosen langsung diajuin sidang."

"Oh, udah lulus. Aku kira aku lebih tua dari kamu. Maaf ya, mas Ali." Aku menunduk sebisanya, menyembunyikan rasa maluku darinya. Seharusnya aku bertanya lebih dulu, siapa yang lebih tua, apakah aku atau Ali.

"It's okay. Panggil Ali aja nggak apa-apa, jangan dibawa serius." Ali tertawa lagi, kali ini terdengar renyah di telingaku. "Udah berapa lama nyusun skripsi?"

"Perlu dijawab?" tanyaku balik.

"Ya, perlu sih. Aku penasaran aja, tapi kalau nggak mau jawab yaudah."

AROMA 〔on hold〕Stories to obsess over. Discover now